Senin, 14 Mei 2012

MELACAK KEMBALI KEKUATAN DAN POSISI MEDIUM KERTAS PADA PRAKTIK SENI RUPA KONTEMPORER

MELACAK KEMBALI KEKUATAN DAN POSISI MEDIUM KERTAS PADA PRAKTIK SENI RUPA KONTEMPORER

Netok Sawiji_Rusnoto Susanto

Prolog
Pameran dengan tajuk ‘The Use of Paper as a Medium in Contemporary Art Practice and The Future of This Medium’ memberikan inspirasi sekaligus menjadi penanda penting perjalanan sejarah medium kertas sebagai medium praktik seni rupa kontemporer dunia.  Pada poin penting inilah Chandan Gallery Kuala Lumpur memberikan sumbangan intelektual terhadap perspektif masyarakat dunia akhir-akhir ini, khususnya menyikapi lemahnya penghargaan masyarakat terhadap medium kertas.  Cermati saja konteks ini, jika kita tengok praktik pasar seni rupa dunia dan lelang Asia; ketika kertas dipergunakan sebagai media ekspresi visual artist yang selalui diapresiasi kurang proporsional ketimbang medium kanvas misalnya.  Chandan gallery mengambil posisi penting untuk menumbuhkan gairah-antusias para perupa kontemporer Indonesia untuk menggali kembali berbagai aspek kekuatan media kertas sebagai media ekspresi yang dapat merepresentasikan totalitas konseptual seni dengan melakukan eksplorasi-eksplorasi estetik pada praktik seni rupa kontemporer.
Setiawan Sabana seorang professor seni rupa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) selama kurang dari 30 tahun ini ia melakukan eksperimentasi dengan mengekplorasi medium kertas sebagai bagian penting dalam proses penciptaan seninya.  Ia bergerak dari upaya kerasnya mempelajari sejarah, eksplorasi berbagai bahan dasar, karakteristik bahan, tingkat keasaman, reaksi kimiawi, perubahan fisik, tingkat kelembaban, kesesuaian iklim dan menggali berbagai teknik sederhana pembuatan kertas daur ulang.  Beberapa periodisasi karya instalasinya dominan menjadikan medium kertas sebagai subject matter yang mempresentasikan kegelisahan intelektualnya.  Kegelisahan kreatif seputar lemahnya sistem pendokumentasian kita hingga problem dimana medium kertas jadikan medium yang mampu mengartikulasikan gagasan, pemikiran, sikap kritis dan kesadaran historis.  Kesadaran mendasar dari pemikiran mengenai pentingnya medium sesungguhnya bahwa ketika ia menyikapi medium kertas bukan sebagai objek yang pasif dan tak memiliki spirit apapun namun ia memosisikan medium kertas justru sebagai subjek.  Kemdian menjadikannya bagian integral dari sebuah sejarah panjang kemanusiaan, ilmu pengetahuan dan spirit kebudayaan yang mampu menggambarkan peradaban dunia. 
Kertas tak lagi dipandang setumpukan ruas-ruas berserak yang dihimpun untuk sebuah kepentingan ilmu pengetahuan.  Setelah fungsinya bergeser, kertas kemudian dipandang sebagai helaian-helaian yang menampung jutaan ilmu teronggok tanpa daya dialih fungsikan menjadi pembungkus makanan, lap kaca, atau bahkan dibakar begitu saja sebagai jalan pintas menanggulangi identitas barunya sebagai sampah.  Sampah yang hingga saat ini  menjadi problem pemerintah daerah maupun pusat atau bahkan persoalan dunia dan tak sedikit memunculkan berbagi persoalan persengketaan tempat pembuangan akhir.  Setiawan Sabana menyelamatkan kertas-kertas bekas dengan diproses kembali menjadi lembaran-lembaran kertas yang dikonsepsikan sebagai karya seni baik dalam bentuk karya seni lukis maupun bagian pokok konsep seni instalasi sampai pada bagian properti khusus pertunukan teater.  Begitu bernilai kertas dihadapannya yang mampu memberikan rangsangan dan sugesti khusus pada proses kreatifnya. Dan, subjek kertas senantiasa menggelisahkan ruang kreatif dan kepekaan intuisinya sebagai perupa kontemporer.
Medium yang dipercayainya memiliki daya dan karakteristik spesifik sebagai materi pokok proses penciptaan seni.  Cukup signifikan para perupa Indonesia yang memberdayakan kertas sebagai medium praktik seni modern sampai seni kontemporer Indonesia, sebut saja Satya Graha, FX. Harsono, Entang Wiharso, Nasirun, Putu Sutawijaya, Heri Dono, Eddi Hara, Nindityo Adi Purnomo, Mella Jarsma, Made Wianta, Nashar, Nunung WS, Ipe Ma’ruf, X Ling, Antonio Blanco, Barli Sasmitawinata, Oesman Effendi, Lian Sahar, Rusli, Affandi, Putu Wirantawan, dan sederet perupa kontemporer Indonesia sampai saat ini.  Pada kurun waktu tahun 1995-2000 di Indonesia penggunaan kertas sebagai medium menggejala pada berbagai event pameran yang diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia dan beberapa galeri lainnya, bahkan beberapa karya seni kontemporer menjadi penanda khusus pada nominator dan pemenang The Philip Morries Indonesian Art Award.  Artinya karya-karya seni rupa kontemporer yang menggunakan kertas sebagai medium proses penciptaan seninya memiliki kekuatan dan posisi tawar yang signifikan.  Posisi semacam ini penting dijadikan suatu indikasi bahwa kertas masih memiliki kekuatan sehingga menjadi pilihan media dalam praktik seni rupa kontemporer di Indonesia.
Kali ini Chandan Gallery mengundang perupa kontemporer Indonesia diantaranya; Yunizar, AT. Sitompul, Sahrizal Phalevi, Rocka Radipa, Joko Atmaja, Eko Didyk [Codit], Rudi Abdalah, dan Untung Yuli Prastiawan.  Secara spesifik mereka mempresentasikan eksplorasi teknik dan penguasaan medium kertas secara berbeda sehingga masing-masing karyanya dapat memberi gambaran representatif untuk memindai peta seni rupa kontemporer Indonesia. Ada semacam relasi khusus yang terputus dan hendak dijalin kembali antara spirit pengelolaan medium dan penciptaan seorang Setiawan Sabana dan para perupa kontemporer Indonesia yang berbagi spirit pada pameran kali ini.  Semua berinterelasi terhadap pasar seni rupa global terhadap seni kontemporer yang menjadikan kertas sebagai medium artikulasi estetiknya. 
Sekilas Mengenai Legenda Kertas Sebagai Medium
Peradaban China tahun 101 M mencatat seorang T’sai Lun menemukan teknik pembuatan kertas dari bahan bambu China.  Kemudian T’sai Lun sebagai seorang pegawai negeri pada pengadilan kerajaan tahun 105 M mempersembahkan contoh kertas kepada Kaisar Ho Ti.   Temuan ini akhirnya menyebar ke Jepang dan Korea seiring menyebarnya bangsa-bangsa China ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu meskipun pada awalnya cara pembuatan kertas merupakan hal yang sangat rahasia.  Saat itu kertas diperuntukan sebagai media menulis, menggambar-menulis rajah dan menggambar simbol-simbol untuk ritual tertentu.  Peradaban Mesir Kuno menyumbangkan papirus sebagai media tulis menulis.  Kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris, papier dalam bahasa Belanda, bahasa Jerman, bahasa Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas.  Penggunaan papirus pada peradaban Mesir Kuno  wangsa Firaun sebagai media menulis dan menggambar kemudian menyebar ke seluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah. 
Teknik pembuatan kertas akhirnya dikuasai bangsa Arab pada masa Abbasiyah setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam Pertempuran Sungai Talas pada tahun 751 Masehi.   Para tawanan perang mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang Arab dizaman Abbasiyah.  Kemudian muncullah pusat-pusat industri kertas baik di Baghdad maupun Samarkand dan kota-kota industri lainnya.   Kemudian menyebar ke Italia, India dan Eropa pasca Perang Salib yang meluas di seluruh Cina pada abad ke-2, dan dalam beberapa abad saja China sudah sanggup mengekspor kertas ke negara-negara Asia.  Di tahun 751, beberapa tenaga ahli pembuatan kertas tertawan oleh orang-orang Arab sehingga dalam tempo singkat kertas sudah diproduksi di Bagdad dan Sarmarkand.  Teknik pembuatan kertas menyebar ke seluruh Arab dan baru di abad ke-12 orang-orang Eropa belajar teknik ini yang pada akhirnya pemakaian
Kertas yang diformulasikan khusus merupakan media berbahan organik  mengandung selulosa dan hemiselulosa yang dibentuk dalam lembaran tipis dan rata, yang dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp.  Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis, mencetak serta melukis dan banyak kegunaan misalnya kertas pembersih (tissue) yang digunakan untuk hidangan, kebersihan ataupun toilet.  Kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia.  Sebelum ditemukan kertas, bangsa-bangsa yang dahulu menggunakan tablet dari tanah lempung yang dibakar.  Hal ini bisa dijumpai dari peradaban bangsa Sumeria, Prasasti dari batu, kayu, bambu, kulit atau tulang binatang, sutera, bahkan daun lontar yang dirangkai seperti dijumpai pada naskah-naskah Nusantara beberapa abad lampau.
Di tahun 1799, seorang Prancis bernama Nicholas Louis Robert menemukan proses untuk membuat lembaran-lembaran kertas dalam satu wire screen yang bergerak yang telah melalui perbaikan-perbaikan alat ini kini dikenal sebagai mesin Fourdrinier.  Penemuan mesin silinder oleh John Dickinson di tahun 1809 telah menyebabkan meningkatnya penggunaan mesin Fourdrinier dalam pembuatan kertas-kertas tipis.  Tahun 1814, Friedrich Gottlob Keller menemukan proses mekanik pembuatan pulp dari kayu, tapi kualitas kertas yang dihasilkan masih rendah.  Sekitar tahun 1853-1854, Charles Watt dan Hugh Burgess mengembangkan teknologi pembuatan kertas dengan menggunakan proses soda.  Tahun 1826, steam cylinder pertama kalinya digunakan dalam proses pengeringan dan baru pada tahun 1927 Amerika Serikat mulai menggunakan mesin Fourdrinier.  Peningkatan produksi oleh mesin Fourdrinier.  Tahun 1857, seorang kimiawan dari Amerika bernama Benjamin Chew Tilghman mendapatkan British Patent untuk proses sulfit.  Pulp yang dihasilkan dari proses sulfit ini bagus dan siap diputihkan.  Proses kraft dihasilkan dari eksperimen dasar Carl Dahl pada tahun 1884 di Danzig. Proses ini biasa disebut proses sulfat, karena Na2SO4 digunakan sebagai make-up kimia untuk sisa larutan pemasak.
Media kertas yang terbuat dari daun lontar (Borasus flabellifer) atau daun nipah (Nipa fruticans) juga dipakai untuk kegiatan tulis-menulis di Jawa.  Kertas lontar yang biasa diolah dari jenis lontar bermutu diantaranya; Lontarus domestica, Lontarus silvestris dan Lontarus silvestris altera. Setelah itu muncul Kertas Jawa atau Kertas Daluwang yang oleh masyarakat nusantara menyebutnya dluwang.  Penggunaan kertas ini ternyata  masih dijumpai di beberapa tempat hingga Abad ke-20 di Jawa, Madura dan Bali.  Kawasan ini banyak dijumpai naskah-naskah kuno yang menggunakan daun lontar sebagai alat tulis dan daun palma sebagai bahan tinta tulis (bentuk metathesis dari rontal, yang berarti daun pohon tal yang diduga dari bahasa Jawa), dalam puisi, kata-kata seperti siwala, sawala, suwala, suwalapattra, sewalapattra, siwalan, semuanya menggunakan daun pohon tal. 
Alat yang digunakan adalah sejenis pisau yang ditorehkan (pisau pangot dalam bahasa Sunda) atau kalam (pena) yang dicelupkan dengan tinta yang hitam pekat serta warnanya tidak luntur.  Sementara menurut Friederich, seorang pembantu Museum KBG seorang ahli aksara kuno dimasa Hindia Belanda (kini Museum Nasional, Jakarta), huruf Kawi dengan jenis Kawi Kwadraat (aksara Kawi tegak) dan Kawi curcief (aksara Kawi yang condong) seperti naskah yang ditemukan di lereng Gunung Merbabu di Kedu, Jawa Tengah.  Para sejarahwan juga mengklasifikasi bahwa huruf Bali merupakan varian dari huruf Kawi seperti, huruf Sunda Kuno dan beberapa variannya, yang juga dikatakan oleh seorang sejarahwan Belanda, Brandes.  Inilah sekilas legenda kertas dipergunakan sebagai medium yang mempertautkan antara aspek historis, antropologis, dan sosiologis.
Kertas:  Sebagai Medium Ekspresi dan Artikulasi Estetika
Peran medium kertas dalam mengawal peradaban dan kebudayaan dunia memiliki posisi sangat penting.  Kertas sebagai salah satu medium untuk mendokumentasikan berbagai perkembangan pemikiran, perkembangan kebudayaan dan perubahan jaman memiliki fungsi strategis dipandang dari berbagai perspektif.  Di dalam dunia ilmu pengetahuan, medium kertas sangat luar biasa peran dan fungsinya untuk memperkenalkan ilmu, ajaran, etika, moral, filsafat bahkan estetika dalam bentuk teks maupun visual.  Tak sedikit dogma agama senantiasa diikuti peran kertas sebagai medium untuk menggambarkan secara visual mitologi, epos maupun wahyu.  Ilustrasi-ilustrasi pada artefak dan kitab-kitab suci baik masih dalam papan lontar, papyrus hingga dalam medium kertas yang lebih modern cukup dominan untuk menjabarkan secara gamblang melalui bahasa visual untuk mengajarkan, memberi pemahaman bahkan mengubah jaman sebelumnya kepada jaman pencerahan.
Dalam perkembangannya dari jaman ke jaman, peran kertas sebagai medium sangatlah dapat diperhitungkan peran dan fungsinya.  Dari mulai kertas sebagai medium komunikasi, kertas sebagai medium simbolik dan status, kertas sebagai medium ideologi dan spiritual maupun kertas sebagai medium ekspresi seni. Kertas sebagai (medium komunikasi). Kertas merupakan medium yang sangat melekat dengan dunia komunikasi, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi baik sebagai material buku, kitab suci, koran, majalah, komik, novel dan cerita bergambar. Medium ini diperlukan semua penduduk dunia dalam praktik pendidikan tanpa pandang usia, strata sosial, ekonomi, batasan territorial, ras maupun faham ideologi yang dianut.  Kertas sebagai medium komunikasi jelas tak terbantahkan peranannya karena sejak peradaban dunia memperkenalkan bahasa tulis dan bahasa gambar maka munculah tuntutan medium yang paling representatif. Kertas sebagai (medium simbolik dan status). Penggunaan kertas biasanya dikaitkan dengan nilai-nilai simbolik dan menjukkan identitas pada status seseorang yang menggunakannya.  Jenis dan karakteristik kertas secara spesifik dapat menunjuk pada pencitraan status sosial dan status ekonomi tertentu seseorang.  Di Indonesia pada era 1970-1980an kertas merang sangat identik dengan kertas masyarakat jelata dan kertas jepun yang terbuat dari kapas banyak dipergunakan kelas sosial tertentu yang lebih mapan dan terhormat kemudian menjadi rujukan bagi bangsawan atau pejabat ketika melakukan surat-menyurat maupun pada penggunaan hiasan rumah.  Kertas sebagai (medium ideologi dan spiritual).  Kertas dalam konteks-konteks tertentu dipandang sebagai medium ideologi, kita dapat melihat berbagai proses pendokumentasian baik secara tertulis maupun visual. Sebuah ideologi Negara  dirumuskan dan konstitusinya tak luput dari penggunaan medium kertas.  Kertas oleh beberapa etnik digunakan sebagai meteri spiritual, baik untuk sebagai instrument mendekatkan diri secara spiritual, upacara keagamaan maupun upacara kematian. Kertas sebagai (medium ekspresi seni).  Kertas sebagai medium ekpresi seni berlangsung dari jaman ke jaman dimulai dari jaman dinasti Han, jaman Baroq - Racoco, Romawi, Yunani, Jaman Klasik, Neo-klasik, jaman Modernisme (Renaisance, Romantik, Realisme, Impresionisme, Post-Impresionisme, Fauvisme, Ekspresionisme, Kubisme, Abstrak, Dadaisme, Surealisme, Pop Art dan Op Art) hingga jaman postmodernisme.  Sebagai catatan saja, bahwa semua seniman di dunia senantiasa menggunakan kertas sebagai medium ekspresi pada periode tertentu proses kreatifnya.  Medium kertas dijadikannya medium ekspresi baik dalam bentuk sketsa, perancanga karya atau sebagai karya final.  Eksplorasi teknik atas medium kertas ini memungkinkan seorang seniman menemukan temuan-temuan aspek artistik maupun aspek estetika yang khas dan personal. 
Seorang perupa membutuhkan medium yang paling tepat untuk menuangkan gagasan kreatifnya. Kertas tak sekedar medium ekspresi namun memiliki peran lebih jauh bahwa medium kertas sebagai artikulasi estetika seorang seniman dalam mendokumentasikan gagasan dan membangun identitas projek-projek penciptaan seninya.  Pengelolaan medium kertas semata-mata sebuah pilihan bahasa untuk menancapkan nilai estetik dan kandungan filosofis sebuah ide penciptaan yang menjadi bagian integral dengan content atas pemikiran intelektual, sensibilitas estetik secara emosional dan penikmatnya.
Yunizar
Menatap karya Yunizar, seorang dari keluarga besar kelompok Jendela yang militan dan eksploratif dalam menaklukan media dan mewacanakan sebuah kecenderungan artistik-estetik karena temuan-temuan bahasa artistik keyakinan estetika yang melandasi kerja keatifnya.  Perupa kontemporer Indonesia berdarah Minangkabau yang saat ini masih mendominasi pasar seni rupa kontemporer Asia memiliki karakteristik khusus dalam mengartikulasi ide ke dalam bahasa visual.  Sebagian besar karyanya sangat merepresentasikan kekuatan inner feeling yang dipendamnya dalam praktik sosialnya yang cenderung pendiam, pasif, dan ikut kesepakatan ketika komunitasnya memutuskan kebijakan tertentu, namun rupanya ia menyimpan dalam-dalam energi positifnya untuk melaukan proses kreatif yang menghasilkan karya-karya dahsyat dan sangat personal baik dari aspek artistik maupun kekuatan estetikanya.
Karya Yunizar seolah tengah menyajikan otokritik terhadap kredo seni rupa kita dan menyentuh aspek filosofis ketika lagi-lagi mempersoalkan ikhwal akar budaya dan muasal jati diri kita. ‘Segumpal Benang Kusut’, 50x60cm, acrylic on paper, 2001 sesungguhnya Yunizar merepresentasikan kegelisahan banyak orang mengenai identitas dan spirit nation yang bercecer tak terangkai dengan sempurna.  Cermati gesture yang ada pada lukisan tersebut selah kita tengah menelusup lapisan persoalan psikologis dan humanistik masyarakat kita akhir-akhir ini.  Namun, gesture yang mempresentasikan masyarakat yang berangsur frustasi dengan identitasnya di bagian muka dari objek tersebut terpancar sinar merah tepat menerpa batas wajah yang mengisyaratkan harapan dan bangkitnya sebuah impian sambil tetap menggenggam segumpal benang kusut yang penuh keniscayaan untuk ditelusi tiap bilahnya dan pada akhirnya akan menemukan pangkal dari perjalanan pengembaraan mencari jati diri.
AT. Sitompul
 Seorang AT. Sitompul berani menepis stigma-stigma seni grafis yang sulit dijadikan pilihan, maka ia justru sangat intensi dengan totalitas pemikiran untuk meruntuhkan stigma tersebut.  Baginya, pada praktik senigrafis seringkali kerumitan  teknis  yang menjadi kendala terbesar pada olah ekspresi.  Praktik seni grafisnya itulah yang menundukan stigma tersebut, stigma mengenai keterbatasan medium ungkap yang dari jaman ke jaman seni grafis selalu dikait-kaitkan pada medium kertas yang dinilai menuai banyak kendala.  Maka ia pun  terobos  dengan  kanvas  yang  berhasil  ia  tundukan secara teknis dengan berbagai kendala proses cetak yang senantiasa dianggap masalah besar ‘gagal cetak’ di permukaan kanvas, stigma ‘tidak eksklusifnya’ grafis karena persoalan penggandaan ‘seri cetak’.  Kemudian ia sikapi justru masuk pada eksklusifitas itu sendiri.  Kita bisa cek, upaya kreatif ‘seri cetak’ limited hand colouring.  Paling tidak ia telah berupaya keras membuka akses pada wacana pasar yang sinis terhadap seni grafis sekaligus menerobos pasar wacana untuk menilik lebih tuntas berbagai perspektif potensi semua itu.
  AT. Sitompul tak sekadar mengolah idiom-idiom formal untuk pemenuhan kepentingan gagasan atas estetika tertentu namun ia bergiat membongkar bilah demi bilah nilai-nilai olah estetikanya. Sehingga kita segera mendapati  vibrasi  estetikanya  yang lebih personal dengan pola konsepsualnya melenting-lenting nyaris melampaui esensi visualnya. Dalam konteks ini, saya ingin mengatakan bahwa karya non-representasional yang dilakukannya mirip dengan sastra adalah bahwa ia cenderung untuk melibatkan kita sekaligus dalam pamrih dan bukan pamrih dengan cara menyatakan imaji-imaji benda-benda yang tak mungkin bisa kita pisahkan dari waktu dan tempat.  Hal ini bahkan berlaku pada landscape (pemandangan), gambar-gambar bunga serta style life (alam benda).  Masalahnya bukan sekedar mencampuradukkan  benda-benda yang dinyatakan dalam karya tersebut dengan nilai lukisan itu sendiri, bukan sekedar kenyataan bahwa pesona semacam itu tak ada hubungannya dengan keberhasilan sebuah karya seni namun nilai yang hendak dikemukakan untuk membangun nilai atas persepsi yang dipresentasikan.  Yang lebih fundamental adalah bahwa makna –sebagai yang dibedakan dari pesona– dari apa yang dinyatakan menjadi sungguh-sungguh tak terpisahkan dari cara menyatakannya.  Karya ’Ruang Gejolak Emosi’,40x60cm, harboard cut ink on paper ini sangat menarik baik dari aspek teknik maupun ilusi keruangan dan dekonstruksi bentuk yang serta merta dikonstruksi sebagai cara jitu seorang AT. Sitompul dalam mempersiapkan politik identitas proses kreatifnya.  Gejolak emosi menjadi tanda penting dalam karya-karya yang menggunakan medium kertas.
Sahrizal Pahlevi
Sahrizal Pahlevi menggilai teknik woodcut sebagai untuk menaklukan media dan mengekplorasi gagasan-gagasan kritis, representasi visual yang unik sebagai personifikasi kekhasan pengolahan emosional dan endapan intelektualnya.  Sahrizal Pahlevi memiliki pencermatan khusus terhadap persoalan sosial, tata kota, dan perubahan masyarakat urban yang cenderung kapitalistik yang semakin terjebak pada praktik budaya instan. Tema "Ringroad 1-6", six panels reduction woodcut on COG paper, Ringroad menjadi simbol pertarungan manusia-manusia dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya.  Sebut saja ketika ia memotret aktivitas masyarakat pengguna jalan raya (ringroad dengan masalah lebih kompleks) yang berperilaku ugal-ugalan, terburu-buru, saling menguasai ruang, pesta klakson, dan adu lampu dim di siang hari atau lebih-lebih malam hari. 
Ringroad menjadi sarana adu pacu kendaraan dan pemuasan adrenalin pengendara kendaraan yang sesungguhnya memiliki fasilitas sama tanpa pandang bulu.  Satu menguasai lainnya, satu menyaling untuk merebut posisi terdepan hampir tak peduli yang disalip nenek-nenek atau yang di klakson sebagai peringatan hendak mengambilalih jalan adalah orang bisu tuli.  Semua adalah potret ringroad hari ini.  Hilangnya ruang toleransi masyarakat metropolitan menunjukkan sisi kritis yang memprihatinkan.  Jangan lupa, karya ini merupakan metafora dari rekaman peristiwa masyarakat saat ini yang sejatinya di tunjukkan Sahrizal Pahlevi sebagai cara mengkritisi kebijakan pemerintah soal tata lingkungan dan berkendara.  Namun, yang lebih esensial justru karya ini menjadi medium untuk merepresentasikan potret perilaku penguasa dimanapun berada, penguasa yang kinerjanya saling salip, saling kuasai, saling lompat dan saling memaki yang sesungguhnya mereduksi kinerja ideal.
Rocka Radipa
Rocka Radipa seorang perupa muda yang konsistensinya luar biar biasa untuk menekuni teknik etching sebagai cara menaklukan media yang baginya paling representatif.  Representatif dari kebutuhan mengonstruksi gagasan dan keleluasaan eksplorasi citra estetiknya.  Kurang dari 3 tahun saya mencermati khusus karya-karya Rocka -pasca melucuti kanvasnya- beralih menggunakan medium plat kuningan, baik yang diusung pada berbagai pameran penting nasional maupun yang dikhususkan ke berbagai kompetisi seni rupa.  Nampak menunjukkan ketertarikan, keterpukauan, dan keyakinanan pilihannya dalam proses penciptaan seni dengan material khusus serta aplikasi teknik grafis yang tak banyak orang pilih.  Kebanyakan seniman grafis menggunakan master grafisnya sebagai medium yang menjembatani sebuah karya grafis (etsa) terlahir, tentu dengan kemampuan cetaknya yang dapat diproduksi pada batas edisional tertentu.  Namun Rocka memperlakukannya secara berbeda.  Rocka justru menggunakan master etsanya sebagai karya finalnya.  Master dihadirkan sebagai substansi totalitas proses penciptaan seninya.  Dengan sentuhan berbagai teknik hingga pada proses pengasaman hingga tahapan pewarnaan plat masternya secara khusus dan unik.  Rocka mampu membaca peluang ini secara cerdas.  Positioning Rocka ini member isyarat strategi pada perubahan dan perkembangan seni grafis di Indonesia.
Kali ini berbeda, ia mempresentasikan sebagian kecil karya dengan medium kertas yang sudah lama ia lakukan.  Karya Rocka Radipa ‘Made Friends With Pollutions’, 50x50 cm Mixed Media on Luster 2011, (Digital painting, screen printing and acrylic) menarik disikapi sebagai sebuah kritik pada kegilaan masyarakat urban dalam merekonstruksi secara kontinu budaya konsumerisme.  Menarik untuk kita cermati dasar pemikiran Rocka sebagai berikut; ‘Sebagian dari kita mungkin tidak sadar.  Bahwa dari bangun pagi sampai tidur lagi kita bergumul dengan racun. Bahan –bahan kimia yang terdapat pada sabun mandi, pasta gigi, deodorant, parfum, saus, kecap, penyedap rasa dan lain-lain.  Memang ada takaran aman bagi kita.  Tapi seberapa sadar kita bisa membatasinya.  Mungkin perlu “jam weker ajaib”.  Inilah kehidupan modern, semuanya telah dimudahkan dalam praktik budaya serba instan. Seperti sebuah karma mordernitas, semua yang cepat jadi, juga cepat jadi rusak.  Semua yang instan mempunyai efek samping, model pacu hormon yang berdampak buruk.  Belum lagi limbah pabrik, bakteri E-coli, sampai limbah nuklir.  Semua polusi di atas bahkan lekat disekitar kita, menemani hidup kita.  Menjadi sahabat kita.  Bagimana kita menyikapinya?  Seperti seorang sahabat, kita harus menempatkannya dengan cakap.’
Budaya popular mengkonstruksi masyarakat kapitalistik. Muara kapitalisme dalam budaya populer adalah konsumerime, karena kecenderungan masyarakat dikondisikan untuk berperilaku konsumtif apapun bentuk yang dikonsumsi.  Yang dikonsumsi bukan barang namun kepuasan pada saat mengkonsumsi itulah satu bentuk kepuasan menguasai barang tertentu dari orang lain.  Aktivitas konsumsi sesungguhnya bermuara pada seni, karena budaya konsumsi sealau dikemas dengan sentuhan seni sehingga masyarakat terpukau dan terbius masuk pada jaringan yang ditargetkan.  Dasar seperti inilah sebagai bukti meyakinkan bahwa apa yang digelisahkan Rocka Radipa perihal bagaimana masyarakat dikepung risiko-risiko penggunaan berbagai produk tertentu sangat melekat pada setiap kebutuhan yang dikonsusmsi dan perilaku konsumtifnya.

Joko Atmaja
Perubahan paling menyolok terjadi pada budaya masyarakat kota-kota besar adalah perubahan sosial dan perubahan gaya hidup masyarakatnya.  Indikasi sangat jelas  ketika perkembangan dunia telekomunikasi mencapai titik puncak kemutakhiran teknologi simulasi  dalam mendukung aktivitas sehari-hari melalui ruang-ruang virtual dalam genggamannya.  Dampak perkembangan sains dan teknologi mewarnai gaya hidup serba internet dalam melakukan berbagai aktivitas terjadinya perubahan bisnis cyber-style, gaya piknik, gaya belajar, gaya hiburan, gaya seksual, dan sebagainya. Gaya hidup serba internet, akan dicirikan oleh inovasi-inovasi aplikasi dan perangkat lunak computer yang perkembangannya begitu amat cepat.
Nah pada titik inilah, semua penduduk dunia berlomba-lomba membangun dunia-dunia kecil imajinernya melalui jejaring sosial facebook, twitter, friendster dan sebagainya.  Apa yang dipaparkan Joko Atmaja (‘Rumah’, ballpoint on paper. ‘Fantasi Dunia Baru’), secara visual merepresentasikan situasi masyarakat yang mulai terasing atau diasingkan dari sistem yang dibangun pada hubungan sosialnya.  Ia sibuk membangun dunia-dunia baru, dunia tanpa batas, dunia yang floating diatas imajinasi semua penduduk bumi.  Dunia imajiner yang saling terhubung dengan dunia-dunia imajiner lain dalam ruang simulasi serba digital.  Dunia baru yang memberi ruang terhadap proses pengikisan toleransi humanistik, semua menjadi sangat mekanis.  Rumah organik berdaur secara mekanis dan terkooptasi didalam mekanisme cyborg, maka serta merta ia lebih mekanis dari yang kita bayangkan.  Dimensi humanistik kemudian menjadi persoalan masyarakat kontemporer yang mulai bergeser kekuatan spirit humanistik sebagai bagian strategis sebagai ekses yang paling nyata dari perkembangan dunia virtual.  Mulai bergesernya berbagai  paradigma ruang eksistensi dan pola-pola hubungan sosial, aktivitas ekonomi, religi dan sebagainya. 
Eko Didyk [Codit]
Codit dengan bahasa visual yang unik dan personal pada beberapa karyanya (karya Psycho Therapy) hendak mengetengahkan berbagai persoalan kritis seputar gugatan eksistensi dan pemberontakan atas kemapanan.  Realitas masa remaja kebanyakan yang rawan berada pada krisis eksistensial.  Pada proses kreatifnya ia ingin menuturkan perihal kecamuk jiwa, guncangan psikologis, kemanusiaan, eksistensi diri dan berbagai tempuhan untuk menemukan identitas dirinya.  Problem kaum muda masa kini yang seringkali menemukan benturan-benturan terhadap apa-apa yang menjadi kehendak dirinya dengan berbagai norma sosial-etik yang memenjarakan dari fitrah kebebasannya membentuk karakteristik diri yang bersemangat, segar, energik, bebas dan dihargai lingkungannya.  Latar belakang visualnya dengan memilih motif kulit harimau mengindikasikan secara visual bahwa sebuah kebuasan karakter dilawankan dengan kelesuan dan keputusasaan yang muncul pada figur-figur dalam perspektif psikologis adalah psyche syndrome.  Tampaknya latar belakang kulit harimau ditempelkan beberapa idiom formal tampil stereotype beberapa bagian dijahit dan di tindik dengan jarum peniti.  Tampilan lain, lidah berwarna merah membentuk lidah api mengisyaratkan ungkapannya yang keras, tak bisa ditawar-tawar, provokasi yang membakar dan membangun ruang psikologisnya dengan asumsinya sendiri.  Ia membangun dirinya dengan imajinasi yang tengah diartikulasikan. Hal tersebut membayangkan pada situasi Schizophrenia.
Lepas dari konsepsinya yang berkarakter manifestasi pemberontak, namun cukup menarik ketika kita cermati panel demi panel karyanya.  Ide-ide segarnya meletup-letup nyaris tanpa kendali kriteria-kriteria yang dikhususkan untuk membangun karya seninya.  Teknik pengelolaan, pengolahan dan teknik kolase yang sangat berani merangakai berbagai insight dengan tak segan-segan mengeksplorasi berbagai kemungkinan teknik.  Kecerdasanya menemukan materi kertas yang siap (cetakan, bekas emboss, kertas pembungkus, maupun kertas daun ulang yang terbuat dari merang, alang-alang dan rumput lainnya) dimemanfaatkannya kertas bekas yang diembos motif-motif ragam hias dengan teknik emboss.  Fakta estetik ini dipertunjukkan untuk menempatkan kertas sebagai medium ekspresi seni tergali dengan eksplorasi yang maksimal.
Rudi Abdalah
Rudi Abdalah seorang seniman muda Indonesia yang berkesempatan diundang pada pameran internasional Blue Sky Project #5 2010.  Karya dengan tajuk ‘Future Value’ adalah salah satu karya yang diciptakan atas invitasi komite pameran internasional BLUE SKY Project #5 2010 yang berlangsung di Imei Museum, Nigata, Japan. Ia memotret fenomena dunia yang sangat mengkhawatirkan dan perilaku penduduk bumi yang semakin membabibuta dengan kesewenang-wenangan terhadap alam, tabiat, sistem yang bergerak dan siklusnya. 
Artikulasi visualnya menunjukkan pada kita bahwa ia tengah menghadiahkan (memberikan bingkisan) kepada manusia dan anak cucu kita kelak sebagai penduduk bumi bahwa kondisi alam yang telah berada pada titik mengkhawatirkan.  Namun kita tetap saja seolah tak beringsut dari aktivitas perusakan alam dan tak acuh terhadap pengendalian pemanasan global misalnya. Hari ini takkan kita temui kenyamanan hidup berteduh dibawah langit biru yang menyengat membakar kulit karena kelangkaan hutan kita.  Bingkisan dengan pita merah sesungguhnya sebuah peringatan keras untuk kita semua agar waspada terhadap kondisi alam yang tak menentu.
Untung Yuli Prastiawan
Untung Yuli Prastiawan merupakan sedikit dari populasi yang sangat terbatas seorang seniman yang menekuni teknik bakar pada kertas sebagai pilihan proses penciptaan seni.  Teknik ini merupakan teknik kuno yang sayup-sayup tampak nyaris punah.  Namun, ia sangat piawai mengeksekusi gagasannya dengan teknik bakar yang sangat rumit, detail dan perfeksi.  Penguasaan teknik dan penaklukan kendala terhadap media sungguh ingin ia tunjukkan ke publik seni atas eksistensi teknik semacam ini.
Balutan tema yang sederhana dan kebahagiaan meraih impian cukup representatif dalam penggalian potret lokal masyarakat Jawa.  Cermati dasar konsepsi yang ia presentasikan dalam ‘Rejeki’, 87 x 67 Cm, Bakar pada kertas, 2007 “Ia tak ingin tertidur saat harus berjuang… Seribu…, dua ribu…, tiga ribu…, empat ribu…, lima ribu…, enam ribu..., tujuh ribu…, dan sampai banyak Pak Jebeng terus menghitung uang hari ini.  Menggenjot pedal Becak bututnya dengan penuh semangat… Begitu juga aku… Tak ingin tertidur dan hanya memimpikan sebuah keindahan kehidupan mimpi–mimpi saja… Aku harus mengayunkan langkah kaki ini, berjuang keras untuk meraih segala mimpi-mimpi yang indah ini…” Rekaman suasana dua tukang becak dengan gestur tanpa dialog (seorang tukang becak tengah pulas mengurus mimpi yang hingga hari ini tak terbayar dan Pak Jebeng asyik menghitung uang pecahan seribu hasil menarik becak seharian) dibawah teduhnya pohon beringin yang masih bertahan hidup di kota Jogja.  Sudut ini sangat khas agraris yang mampu merepresentasikan spirit budaya masyarakat Jawa dengan ‘alon-alon waton kelakon’, masyarakat yang ramah, bersahaja, santun, penuh toleransi dan berbudi pekerti luhur dalam praktik multikulturalisme.  Pancaran wajah pak Jebeng mengisyaratkan semangat untuk meraih impian dan segenap obsesi hidupnya.
Dadi Setiyadi
Perupa muda asal Tasikmalaya yang mendalami pengetahuan seni murni pada ISI Yogyakarta memiliki peluang potensial diberbagai event penting nasional dan biennale internasional.  Membicarakan Dadi sesungguhnya kita dipaksa masuk dalam ruang kompleksitas problematiknya mengenai tubuh, tubuh dalam persoalanya sendiri dan tubuh sebagai pemicu persoalan di luar dirinya.  Seorang perupa humoris ini sungguh jauh dari apa-apa yang ia gelisahkan mengenai tubuh dalam asumsi-asumsi pesimistisnya. Dua bulan yang lalu saya melakukan perjalalan dengan Dadi dari Jogja ke Surabaya dan kami berdiskusi secara intens perihal pengalaman hidup yang membangun proses penciptaan karya seninya.  Pribadi yang lugas melecutkan kebuntuan komunikasi kita ketika suntuk menyerang, bahkan ditengah pembicaraan ringan ia seringkali menawarkan pembicaraan yang substansial mengenai bagaimana seorang seniman memiliki visi, kesadaran eksploratif dan strategi menjaga intensitas proses kreatif.  Tiga hari bersamanya menjadikan saya mampu mendalami pikiran dan kegelisahan jiwanya yang memiliki etos kerja dan berbagai prinsip serta cara pandang keseniannya.
Tubuh dalam relasinya dengan persoalan lingkungan, sosiologis, psikologis, budaya dan trans gendre bahkan.  Baginya tubuh menjadi aspek paling menarik untuk menggali berbagai persoalan karena tubuh mampu merepresentasikan gejolak dan apirasi tertentu untuk sebuah visi tertentu pula.  Ada semacam kecenderungan Dadi dalam mengolah idiom-idiom tubuh ‘The Body Series’ sebagai bagian yang terintegrasi dengan presentasi-presentasi pesan melalui citra yang dikonstruksikan secara artistik dan personal. Di sisi yang berbeda pada seorang Dadi memotret sudut pandang yang berbeda tentang tubuh frustasi, panik dan confuse.  Citra pasif dan statis seolah bertutur perihal traumatisasi kehidupan sosial yang berkaitan dengan tubuh itu sendiri kemudian mengolah chaotic sebagai bagian penting proses retraumatisasi problem empiriknya.
Yang menarik dari artikulasi visualnya adalah bagaimana ia menghadirkan kode-kode tertentu pada bagian-bagian tubuh yang mengingatkan saya pada konsep bedaya tubuh bedaya.  Namun, kode-kode angka dan kaligrafi bercitra oriental sungguh memicu penafsiran intersubjektif.  Ia dengan bersemangat yang dicitrakan dengan tubuh-tubuh gempal atletis menyajikan asosiasi-asosiasi khusus terhadap gejala teks visual yang muncul kemudian melahirkan interpretasi subjektif mengenai relasi tubuh dengan kebutuhannya terkait kesehatan dan upaya pemberdayaannya.  Tubuh seakan dapat memproduksi tafsir yang berlimpah sama kedudukannya seperti teks tertentu mempengaruhi mekanisme otak juga tubuh itu sendiri pada ledakan produktivitas interpretasi.
Januri
Januri seorang perupa muda pendiam meski sukses dalam perjalanan karier kesenimanannya.  Saya pribadi sulit berkomunikasi dengannya meski pernah memperoleh kesempatan untuk menulis kuratorial pameran Hyperlinks di Yogyakarta, hal ini terefleksi secara tuntas dalam proses penciptaan seninya yang mengolah figur-figur melayang dan absurd.  Pengembaraan intuitif memungkinkan munculnya gagasan visual imajinatif dalam menyajikan suasana yang sangat berbeda.  Aspek ini mencuat pada karya-karya Januri yang menhadirkan citra rigid, massif dan floating, dimana gestur tubuh dibayangkan melayang ter-levitasi menjelajah eksistensi-eksistensinya dan menemukan substansinya.  Aspek grafitasi sesungguhnya sedang dikonfrontasikan secara sporadik oleh Januri dengan prinsip levitasi dalam presentasi dramatik karya-karyanya.
Eksplorasi dan pengolahan tubuh-tubuh pada karya Januri ‘floating’ dan ‘berebut kekuasaan’ dan ‘Di Antara  Orang-Orang Besar’ memberikan spirit presentasi sekaligus nilai yang berbeda, bahwa tubuh sebagai representasi manusia yang secara terus menerus mencari identitas-identitas melalui proses aktualisai diri dan sebagainya. Semua pribadi menggerakkan tubuh sebagai medium mengeksplorasi potensi dalam ruang optimis sampai pada dimensi pesimistis.  Tubuh-tubuh ringan melayang menemukan jiwa dan identitas-identitas tanpa acuan.  Tubuh kosong bahkan sesekali tubuh keras, padat dan pejal yang mereinterpretasikan dunia ego dalam konteks libido dan seterusnya.  Siapa menguasai apa dan apa menguasai siapa serta siapa atas siapa, semua terbuka dan memiliki peluang yang sama meski jauh dari kata adil.
Ia menyerap problem di luar dirinya yang sesungguhnya menjadi problem diri bagi semua orang ketika bersosialisasi secara luas dengan kehidupan yang dihamparkan alam dan perluasannya.  Ada pula upaya untuk melakukan otokritik terhadap dirinya ketika ia mempersoalkan ‘Di Antara Orang-Orang Besar’ dan terepresentasi secara tegas pada karya ‘Bermain Api’ misalnya.  Tema penting ini seolah ia tak sekedar menyadap informasi luar namun itu menjadi bagian yang didasari pengalaman empiris sehingga terasa pendalaman totalitas ekspresinya menunjukkan relasi tersebut.
Epilog
 Peran medium kertas dalam mengawal peradaban dan kebudayaan dunia memiliki posisi sangat penting.  Kertas sebagai salah satu medium untuk mendokumentasikan berbagai perkembangan pemikiran, perkembangan kebudayaan dan perubahan jaman memiliki fungsi strategis dipandang dari berbagai perspektif.  Di dalam dunia ilmu pengetahuan, medium kertas sangat luar biasa peran dan fungsinya untuk memperkenalkan ilmu, ajaran, etika, moral, filsafat bahkan estetika dalam bentuk teks maupun visual.  Tak sedikit dogma agama senantiasa diikuti peran kertas sebagai medium untuk menggambarkan secara visual mitologi, epos maupun wahyu.  Ilustrasi-ilustrasi pada artefak dan kitab-kitab suci baik masih dalam papan lontar, papyrus hingga dalam medium kertas yang lebih modern cukup dominan untuk menjabarkan secara gamblang melalui bahasa visual untuk mengajarkan, memberi pemahaman bahkan mengubah jaman sebelumnya kepada jaman pencerahan.
Sebagai catatan, bahwa semua seniman di dunia senantiasa menggunakan kertas sebagai medium ekspresi pada periode tertentu proses kreatifnya.  Medium kertas dijadikannya medium ekspresi baik dalam bentuk sketsa, perancanga karya atau sebagai karya final.  Eksplorasi teknik atas medium kertas ini memungkinkan seorang seniman menemukan temuan-temuan aspek artistik maupun karakteristik aspek estetika yang khas. 
Seorang perupa membutuhkan medium yang paling tepat untuk menuangkan gagasan kreatifnya. Kertas tak sekedar medium ekspresi namun memiliki peran lebih jauh bahwa medium kertas sebagai artikulasi estetika seorang seniman dalam mendokumentasikan gagasan dan membangun identitas projek-projek penciptaan seninya.  Pengelolaan medium kertas semata-mata sebuah pilihan bahasa untuk menancapkan nilai estetik dan kandungan filosofis sebuah ide penciptaan yang menjadi bagian integral dengan content atas pemikiran intelektual, sensibilitas estetik secara emosional dan penikmatnya.  Saya pada perhelatan pameran ini memberi inspirasi bagi kita semua untuk merenungkan kembali bagaimana mengelola kepekaan seni untuk menjadikan kertas sebagai medium ekspresi dan menjadikan kertas bagian yang terintegrasi dengan konsep pemikiran kreatif pada praktik seni rupa kontemporer.  Apa yang digiatkan Chandan Gallery sesungguhnya merupakan upaya keras mereposisi medium kertas pada martabat yang semestinya.


Referensi:
Edi S. Ekadjati. (2005), Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta, Jakarta: Pustaka Jaya,
Soedarso Sp. (2000), Sejarah Perkembangan Seni Rupa Modern, Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta
Rusnoto Susanto, Netok Sawiji. (2010), Soulscape: Melacak Ruang Spiritual dan Pendalaman Nilai Estetika Sebagai Manifestasi Proses Kreatif, pada Soulscape: The Treasure of Spiritual Art, Yogyakarta: Yayasan Seni Visual Indonesia
Deyndri pada www.kaskus.us/showthread.php?t=4316787
http://www.indoforum.org/showthread.php?t=25968
http://satriasputra.blogspot.com


Kamis, 10 Mei 2012

Bagian V. Visi Baru : Kekuatan Imajinasi dan Kebaruan-Kebaruan Estetik

Bagian V. 
Visi Baru : Kekuatan Imajinasi dan Kebaruan-Kebaruan Estetik

All children are born geniuses (Daniel Goleman)

Tesis ‘All children are born geniuses’ dari Daniel Goleman cukup melegakan bagi semua orang tua yang melahirkan anak karena meyakini bahwa semua anak dilahirkan sebagai jenius. (Tjokronegoro, 2002: 241).   Jenius secara logis, emosional maupun jenius secara spiritual bergantung pada potensi ia menjadi seorang Einstein, menjadi seorang Newton maupun menjadi seorang da Vinci.   Setiap bayi memiliki potensi untuk menjadi Imago Dei (citra Tuhan) di muka bumi.  Imago Dei sebagai given yang tak terbeli, hanya dengan membayar mahal dengan curahan daya untuk menjaga dan merawat hingga nilainya tetap meninggi bukan malah sebaliknya.  Bagaimana potensi ini hidup, tumbuh, bergerak, dan berkembang dengan kecenderungan kecerdasan masing-masing dan visi hidupnya yang mematangkannya.
Jika dunia sebagai landscape terindah dari semua planet dalam sistem tata surya kita, maka ruang imajinasi, intuisi dan eksplorasi-eksplorasi estetik masih memiliki keluasan ruang untuk digali lebih jauh.  Pengetahuan menjadi perincian-perincian metodik untuk mengelola medan kreatif melalui pengembaraan imajinasi dengan gagasan-gagasan baru dalam melakukan konstruksi kebaruan-kebaruan estetika.  Visi  baru bagi seorang seniman adalah tetap menjaga kegelisahan kreatif dan intensitas kreatif pada titik didih tertinggi sebab tidaklah sederhana menjadi jenius meskipun secara alamiah dibekali potensi itu.  Jenius selalu saja melalui serangkaian proses kerja eksperimentasi dan sebuah tempaan dari semua sistem terkait yang berperan melakukan konstruksi tersebut.
A.     Medan Kreatif Sebagai Visi Baru Kehidupan
Membicarakan medan kreatif sesungguhnya menyeret kita pada diskusi panjang mengenai inspirasi, gagasan, imajinasi, intuisi, visi kreatif, ideologi estetika, dan wacana visi baru kehidupan yang melatarbelakangi itu semua.  Bagaimana sebuah picu kreatif dimunculkan sebagai pembentang keterperincian visi baru kehidupan yang sesungguhnya sebuah potensi yang melekat pada manusia kreatif, intuitif, eksploratif dan imajinatif.  Jika kita punya cukup waktu mugkin saja kita bisa membentangkan keluasan pokok ini jauh sebelum manusia menemukan semua yang tumbuh, bergerak dan berkembang di luar dirinya sebagai sebuah kebudayaan yang ia lahirkan dari interaksi dengan alam sekitarnya.  Pokok yang begitu luas sekedar kita runut jejaring-jejaring yang memiliki simpul penting untuk mengelaborasinya secara singkat dan permukaan.
Visi realitas baru didasarkan atas sebuah kesadaran kesalingterhubungan dan saling ketergantungan esensial seluruh fenomena fisik, biologis, psikologis, sosial, dan kultural.  Fritjof Capra pada The Turning Point (2007: 317) menyatakan bahwa visi ini melampaui bataas-batas konseptual dan disiplin yang ada dewasa ini dan akan dicari di setiap lembaga baru.  Saat ini tak ada kerangka baku yang mapan baik secara konseptual maupun institusional yang membantu perumusan paradigma baru.  Namun garis besar kerangka semacam ini telah dibentuk oleh banyak pribadi, komunitas, dan jaringan yang mengembangkan cara-cara baru untuk memikirkan dan melakukan pengorganisasian diri sesuai atau beradaptasi dengan prinsip-prinsip baru.  Sebagai suatu pendekatan sistem budaya kontemporer sebagai upaya merumuskan jaringan konsep yang terkait dalam pengembangan organisasi sosial yang lebih fundamental dalam sistem yang secara intrinsik bersifat dinamis.
Melalui sejarah, telah kita ketahui bahwa pikiran manusia sanggup menampung dua macam pengetahuan dan dua modus kesadaran sekaligus yang sering dibatasi oleh rasionalitas dan intuisi; masing-masing secara tradisional diasosiasikan dengan sains dan agama.  Wilayah pengetahuan rasional, tentu saja merupakan wilayah sains yang hanya bisa menggukkur, mengkuantifikasi dan menganalisisnya.  Keterbatasan pengetahuan yang dicapai lewat metode-metode ini menampakkan realitasnya secara telanjang di lapangan sains modern. (Eko Wijayanto, 2002: 7)
Sebagian besar kita mengalami begitu sulitnya sadar akan keterbatasan-keterbatasan dan tentang relativitas pengetahuan konseptual.  Ini lebih disebabkan karena representasi kita tentang realitas sangat mudah dimengerti dibanding dengan realitas itu sendiri.  Kita cenderung mengacaukan keduanya dan menggunakan konsep-konsep dan simbol-simbol untuk realitas.  Kecenderungan proses riset ilmiah disusun dari pengetahuan dan aktivitas-aktivitas rasional kendati tak seluruhnya benar semua tersusun secara rasional.  Pada wilayah rasional dari riset seenarnya tak berguna bila tak dilengkapi oleh kekuatan dan kedalaman intuisi yang memberikan para ilmuwan mengenai pemahaman-pemahaman intuitif dan karakteristik personal tertentu.  Begitu juga sebaliknya.  Pengalaman empirik berada di wilayah kekuatan pikiran dan dicapai dengan kapasitas memahami ketimbang kualitas memikirkan dalam menjalami serangkaian riset atas subjek maupun fenomena.  Metode eksperimentatif dan induktif tampaknya paling representatif dilakukan oleh ilmuwan kebudayaan dan seniman yang mengorganisasikan kekuatan imajinasi dan intuisi sebagai motor penggerak proses kreatifnya.  Sepertinya kita juga sedang diingatkan Capra (2000:22) bahwa pengetahuan rasional dan berbagai aktivitas rasional lain pastinya merupakan bagian terbesar riset ilmiah, namun bukan itu saja yang ada di sini.  Aspek rasional dari riset bahkan tak berguna jika tidak dilengkapi dengan kekuatan intuisi yang memberi para ilmuwan berbagai wawasan baru dan menjadikan mereka kreatif.  Inilah yang setidaknya menjadi variabel-variabel penting yang mampu menjadi perekat antara ilmu pengetahuan dengan pengetahuan seni.
Seni dan ilmu pengetahuan memiliki kesamaan mempresentasikan temuan-temuan berdasarkan fakta-fakta dan argumentasi-argumentasi yang meyakinkan.  Dengan begitu sesugguhnya kajian-kajian seni, cultures studies dan ilmu-ilmu humaniora memiliki dasar penalaran yang serumpun untuk menemukan tiap detail imajinasi yang mengemuka.  Ilmu pengetahuan bukan melulu menghamparkan pikiran dan penalaran begitu pula seni bukan landscape ilmu yang semata-mata mengawang pada presentasi perasaan, hati dan kekuatan imajinasi.  Karena keduanya justru lahir dan dikembangkan berabad-abad dengan peran fakta dan kekuatan imajinasi, bukankah keduanya sesungguhnya sama-sama lahir dan hadir dari satu budaya?  Budaya imajinatif-kreatif.  Perumusan dan eksplanasinya merupakan buah dari eksplorasi-eksplorasi imajiner dan dari sesuatu yang awalnya tak tampak.
Persoalan hakiki bagi ilmuwan adalah mempresentasikan kebenaran dan sanksi dari fakta yang dialami, the sanction of experienced fact sebagai figurdan perwajahan dari kebenaran itu sendiri atas hipotesis-hipotesis yang mendasarinya.  Sedangkan persoalan hakiki seniman bukan mencari kebenaran namun mengetengahkan perspektif baru yang berbeda dengan kebaruan-kebaruan dan sesuatu yang distinctive atas sesuatu yang umum pahami selama ini.  Ilmuwan mengkonstruksi visinya acceptable secara lebih sitematik dari visi seniman meskipun banyak seniman yang dijadikan subjek kajian yang memiliki ‘a strong sense of belonging’.
Saya sangat terinspirasi pernyataan DR. Daoed Joesoef dalam Visi Baru Kehidupan (2002: 115-116) bahwa seni dan ilmu pengetahuan sebenarnya lahir dari satu induk yang sama: budaya iajinatif-kreatif, sebuah penyatuan ‘a complete culture, a unity out of variety’ sebagai sesuatu uiversalitas yang sepantasnya dihayati.  Bukankah ‘great moments’ dari penemuan-penemuan ilmu pengetahuan dan pembaruan-pembaruan seni adalah saat di mana ilmuwan dan seniman melihat suatu kaitan baru antara aspek-aspek realitas yang berbeda dan tampak tak adad kaitannya selaa ini.  Dengan enciptakan pola-pola baru, ilmuwan dan seniman mengadakan perubahan; yang mereka ubah adalah ‘the division of live’ yang sekaligus secara implisit memupuk ‘the culture of living change’.  Dua bagian saling terkait dengan aktivitas dan visi melakukan sesuatu dengan memikirkan dan merasakannya.  Karena apa yang diimajinasikan sebagai visi akhirnya dilakukan sebagai tindakan nyata.  Medan kreatifnya adalah aktivitas kreatif dan kekuatan imajinasi sebagai picu utama.  Tanpa visi baru yang lahir sebagai imajinasi-imajinasi dan kreasi-kreasi maka medan kreatif tak menghasilkan temuan apapun kecuali akan menjadi monster yang menakutkan yang tidak mampu membesarkan nyali untuk mendekatinya apalagi bermain di wilayah itu.
Visi ‘kreatif’ kehidupan memiliki ruang eksplorasi tak terbatas dan ruang yang bagi siapa saja memiliki potensi yang sama untuk meraihnya.  Jim Taylor dan Watts Wacker, Visionary’s Handbook (2008: 262) membagi lima teori tahapan yakni keberanian, keberuntungan, kompleksitas, kontaminasi dan faktor-faktor yang tak terkendali.  Metode ini berkonsentrasi pada produktivitas ide, pengelolaan ide kreatif dan teknologi yang membingkai visi pembetukan masa depan.  Budaya imajinatif-kreatif tumbuh dari kesadaran manusia yang dibentuk menurut konsep ini sebagai realitas.  Di balik penampilan dunia yang kasat mata terdapat arus dari suatu realitas yang lebih memiliki kebenaran yang kedalaman dan keluasannya tak dapat diduga secara pasti.  Justru realitas inilah yang kemudian menjadi objek ilmu pengetahuan dan seni yang lahir sebagai instrumen yang menguak misteri realitas yang memiliki kebenaran.  Ilmu pegetahuan dan seni yang berkaitan dengan aktivitas kreatif maka imajinasi saling menyempurnakan dan memperkuat peran atau fungsi untuk membangun nilai-nilai tertentu.  Situasi semacam ini merupakan representasi kecil dari sebuah visi kreatif yang mampu memberi vibrasi organis bagi penjelajah imajinasi untuk mengguncang pikiran dan mengeksplorasi realitas sesederhana apapun yang mampu menginspirasi imajinasi kreatif selanjutnya.
Jika seseorang menelaah secara sungguh-sungguh kehidupan semesta dan aktif di dalam pengembangan konsep mengenai pengalaman bahwa hubungan kehidupan dengan pengalaman bukanlah hubungan universal dan partikular.  Georg Simmel dalam Gadamer (2004: 77) setiap pengalaman mempunyai sesuatu tentang proses petualangannya.  Jadi, petualangan memberikan kehidupan yang dirasakan sebagai keseluruhan di dalam nafas dan kekuatannya.  Petualangan memiliki pesona dengan menghilangkan syarat dan kewajiban keseharian masuk dan berada dalam ketidakpastian.  Petualangan menghamparkan sebuah ‘ujian’ sebagai proses pengayaan dan pematangan sekaligus karena kehidupan juga sesungguhnya dapat dipandang sebagai objek pengalaman estetik.  Objek pengalaman ini yang biasa disebut Erlebniskunst (seni mengalami) sebagai bentuk seni sejati.  Gagasan dalam sebuah karya seni merupakan transformasi inspirasi genius pengalaman untuk menciptakan karya seni.
Brainshocking sesungguhnya medan kreatif untuk individu-individu bernyali. Brainshocking bukan sekedar mengolah hal-hal yang bersifat fenomena semata namun menggali, megelola, mengolah secara liar berbagai hal yang noumena sekalipun.  Sesuatu yang tak nampak menjadi ikhwal kemunculan ribuan bahkan jutaan presentasi imajiner yang segera mengemuka dari kesadaran dan visi baru kehidupan untuk menjelajahi segala kemungkinan.  Menggapai ceruk-ceruk yang paling mendasar dari kekuatan imajinasi dan menggapai langit-langit intuisi yang tak terbatas.

B.     Kekuatan Imajinasi: Ide Kreatif dan Kebaruan-Kebaruan Estetik
1.    Eksplorasi Kekuatan Imajinasi
Imajinasi dipandang sebagai cara yang tidak biasa untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar baru dan distingsi.  Seperti Beckwith (2007: 58)  ketika menggilai petikan gitar George Harrison dan mencermati Roger McGuin pemusik rock yang mempelajari musik klasik, ia menyatakan bahwa tidak semua inovator menciptakan hal yang benar-benar baru seperti McGuin tinggal menggabungkan elemen-elemen yang sudah ada dengan cara yang belum pernah dilakukan orang lain.  Meski sederhana kedengarannya namun tak setiap langkah ini akan berhasil dan imajinatif. 
Dalam analisis mendalam, imajinasi bukanlah anugerah yang diberikan begitu saja pada orang yang sedang beruntung.  Kita memiliki imajinasi khususnya bagi yang meluangkan cukup waktu dan menyediakan perasaannya untuk mengamati sekeliling dengan empati yang terpelihara.  Semakin intens melakukan mengamatan dan pencermatan serta sedikit keberanian untuk membayangkan sesuatu yang tak tampak sebagai permukaan maka saya yakin kita semakin imajinatif.  Karena dengan kekuatan imajinasi, visi inovatif dan kehendak mewujudkannya maka dengan mudah kita memperoleh temuan kebaruan-kebaruan estetik  yang orisinal.  Dan, untuk menciptakan lompatan-lompatan batasan yang lebih jauh hanya dengan mempelajari sesuatu yang baru.  Hal baru berpotensi memicu imajinasi dan kreativitas baru.
Kekuatan imajinasi tak hanya terkait dengan sejumlah rasa melalui penglihatan, pendengaran, sentuhan namun kemudian ia harus berurusan dengan konstruksi berpikir dan penalaran ketik imajinasi hendak diwujudkan.  Kekuatan imajinasi mengambil peran penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan secara keseluruhan baik dari ilmu-ilmu pasti sampai pada detail ilmu humaniora, imajinasi yang menuntut segenap persepsi, nalar dan cara pandang untuk mengembangkan keluasan jangkauan ilmu pengetahuan itu sendiri.  Seorang ilmuwan sejati berusaha menyusupi alam (alam dalam pengertian sebenarnya atau alam dalam dunia imajinasi) untuk memahami dengan visi imajinasi kreatifnya.  Hal ini nyata ketika kita mencermati konteks revolusi ilmiah petama terdahulu diawal penemuan  keilmuan.
DR. Daoed Joesoef dalam Visi Baru Kehidupan (2002: 106) menyatakan bahwa revolusi tersebut terjadi tahun 1543 ketika Copernicus menerima kopi cetakan pertama dari buku yang telah disiapkannya belasan tahun.  Tesisnya adalah bahwa bumi yang bergerak megeliligi matahari –suatu pandangan heliosentris tentang alam semesta- yang saat itu menentang pandangan geosentris  yang berlaku.  Langkah awal yang dilakukan Copernicus mengarah ke perumusan tesis ini dengan membuat lompatan imajinasi: melepasan diri dari bumi, membubung ke angkasa, lalu hinggap di matahari.  ‘Menangkap bumi dari matahari’, demikian  tulisannya dan ‘Mataharilah yang mengatur gugusan bintang-bintang’.  Teks-teks ini lahir karena keliaran imajinasi dalam belantara-belantara petualangan virtual membangun interteks-interteks baru yang lebih imajinatif.  Sebuah pandangan-pandangan revolusioner selalu melahirkan cara pandang baru dan cara pandang-cara pandang baru inilah yang memberikan insight-insight baru yang bisa memproduksi ide-ide kreatif dalam ruang diferensiasi.
Kekuatan imajinasi mengilhami Newton membangun teori gravitasi karena apel yang jatuh di kebunnya, yang menggugah pikirannya bahwa buah apel tersebut telah ditarik ke bumi oleh gravitasi karena konsep ini sudah lama ada sebelum dia menyempurnakannya.  Nah, yang menggugahnya saat itu adalah imajinasi bahwa daya gravitasi yang telah mencapai puncak pohon apel ini sebenarnya terus mencuat ke luar bumi dan angkasanya begitu rupa hingga mencapai bulan; dan gravitasi ini pula yang telah menahan bulan itu dalam orbitnya.  Dalam menindaklanjuti temuan imajinasinya Newton menangkap similaritas fenomena keduanya, mirip tapi tak serupa.  Bukankah gerakan apel ke bumi dan gerakan bulan di angkasa luar memang tidak mirip sama sekali kendati di dalam gerakan-gerakan tersebut dia melihat dua ekspresi dari dua konsep tunggal yaitu gravitasi.  Konsep penyatuan ini dapat dikualifikasikan oleh Newton sebagai sebuah kreasi bebas, orisinal dan sesuatu yang tak lazim saat itu.  Sama ketika Keppler, ketika berusaha menguak misteri alam semesta 100 tahun sebelum Newton, merumuskan hukum-hukum gerakan planet melalui pandangan-pandangan imajinatif-kreatif bahwa ia tak memikirkan hal tersebut sebagai suatu keseimbangan dari neraca bank kosmis namun sebagai sebuah ungkapan dari adanya kesatuan dalam semua kenaturalan ‘unity in all nature’. 
Pada abad ke 17 René Descartes memperkenalkan konsep mekanistik yang dirancang dan dikembangkan sebagai perwujudan jiwa atau roh dari ilu pengetahuan modern untuk dijadikan pilar peradaban yang dipercaya bisa mencerahkan dan membebaskan manusia dari belenggu nilai-nilai pengetahuan dan kekuasaan jaman sebelumnya.  Konsep pencerahan melalui berbgai pandangan ilmuwan dan budayawan dalam prosesnya kemudian melahirkan pemahaman materialisme dalam setiap aspek kehidupan ilmiah.  Kemudian bergerak pemahaman terhadap materialisme yang mendorong manusia semakin percaya bahwa mereka sesungguhnya makhluk dominan yang semkin menjauhkan manusia itu sendiri dari alam yang menjadi bagian dari dirinya.  Kemudian manusia membangun habitusnya yang superior tersebut.  Manusia melakukan sesuatu seyogyanya harus dimulai dengan gagasan yang bisa berkembang menjadi konsep sebelum melakukan suatu tindakan bukan sebaliknya layaknya kerja otomatis mekanika mesin.
 Yos Suprapto (2009: 24-25) menggambarkan bahwa Leonardo da Vinci sosok pemikir sistemik yang paham betul tentang kesatuan hidup alam yang saling mendukung dan memiliki hubungan tak terpisahkan di dalam kaitannya dengan energi.  Dengan memelajari seluruh kumpluan buku catatannya yang dilengkapi dengan gambar-gambar sketsa original tangannya kita bisa menyimpulkan bahwa sumbangan Leonardo merupakan feomena hidup dari sebuah keyakinannya terhadap kekuatan alam yang ia hormati.  Observasinya yang rinci bagaimana alam dan pikiran manusia menjadi sumber gerak eksploratifnya yang inspiratif dalam pengembangan ilmu pengetahuan kreatif dan perluasan nilai estetika yang dikedepankan sebagai bentuk ilmu pengetahuan yang memiliki nilai-nilai spiritual untuk lebih menghargai potensi alam dan kekuatan imajinasi manusia.
2.    Diferensiasi Ide Kreatif dan Kebaruan-Kebaruan Estetik
Sebuah pernyataan René Descartes yang mampu hidup beberapa abad, ‘Cogito Ergo Sum’ ‘Aku berpikir, maka aku ada’.  Pernyataan ini mematahkan keragu-raguan filsuf rasionalis (1596-1650) dan itulah yang diyakini banyak orang telah membuka ruang berpikir manusia untuk melahirkan ilmu pengetahuan.  Bukankah ilmu pengetahuan dirintis dari sesuatu yang imajinatif dengan muatan-muatan virtual sebagai virtual idea yang sering disandingkan dengan term multiplisitas.  Multiplisitas dalam pandangan Deleuze, ialah sebuah fase atau jalur horizon virtual yang diaktulisasikan dan dibentuk oleh rangkaian hiterogen yang masing-masing rangkaiannya ditentukan oleh diferensiasi diantara konsep-konsep pembentuknya.  Konsep multiplisitas yang dikembangkan Deleuze tidak dapat dipisahkan dari konsep ide.   Multiplisitas merupakan ruang kemungkinan perbedaan dan ide adalah struktur yang membangun ruang perbedaan, yang di dalamnya terdapat pelbagai singularitas atau atraktor-atraktor tak terwujud dan bersifat virtual, tetapi berperan dalam membentuk objek-objek tersebut mewujud.  Idea sebagai struktur dinamis, sifat lipatganda, hubungan-hubungan di dalam relasi-relasi nyata danungkapan-ungkapan aktual. (Piliang, 2008:152-153)
Idea dan muatan virtualnya selalu diaktualisasikan di dalam dunia nyata dan hanya dapat hidup di dalam rang mutiplisitas dalam memproduksi keseragaman dan perbedaan. Multiplisat merupakan rumah idea yang mengaktualisasian diri ke dalam yang aktual.  Virtual selalu mengambil tempat dalam skema perbedaan, divergensi, dan diferensiasi.  Aktualisasi atau diferensiasi ideadan muatan virtualnya selalu menghasilkan yang baru (genuine), seperti yang ditegaskan Deleuze dalam Piliang (2008: 157) bahwa ...nyata tanpa menjadi aktual, mempunyai sifat diferensi (differentiated) tanpa harus didiferensiasikan (differenciated), lengkap tanpa harus menyeluruh. Perbedaan dan keserbaberagaman yang dihasilkan dalam struktur idea sangat ditentukan oleh singularitas yang memproduksi atau yang mereproduksi perbedaan itu sendiri yang berkaitan dengan konsep representasi.  Deleuze membedakan konsep representasi pada sifatnya yakni; pertama, representasi terbatas yaitu mengenai bentuk-bentuk yang selalu harus merujuk pada bentuk dan identitas asali yang diikat di dalam prinsip pertetangan dan dideterminasi dengan menjadikannya sebagai subordinat dari identitas genus.  Kedua, representasi tak terbatas yaitu sebuah representasi yang tidak dideterminasi dan dibatasi oleh konsep umum.  Dengan demikian tidak ada hierarki antara objek dan representasinya, antara genus dan spesies, aktualitas dan virtualitas maka representasi tidak lagi dibatasi oleh medan hierarki genus-spesies, namun lebih bersifat tak terbatas.
Dan, menurutnya ketakberaturan kreatif atau chaos yang penuh inspirasi.  Perbedaan kemudian dinilai mampu memberi ruang pada perbedaan ekstrem yakni perbedaan antara bentuk biasa dan bentuk ekstrem dengan nilai-nilai baru.  Perbedaan ekstrem tak dapat diraih hanya degan membawa bentuk biasa kedalam ketakterbatasan, kemudian untuk mengafirmasi identitasnya di dalam wilayah keterbatasan.  Perbedaan ekstrem hanya dapat dihasilkan di dalam medan perbedaan yang tanpa hierarki dan tanpa negasi.
Bahwa seseorang tokoh dunia yang memiliki impian besar bermula dari keberanian menggali potensi dirinya dengan ide-ide besar.  Sejak Napoleon Bonaparte hingga Soekarno, dari Michael Angelo, Leonardo Da inci, Marchel Duchamp hingga Christo semua beranjak dari kegilaan-kegilaan ide-ide brilian melahirkan kreativitas-kreativitas yang mengguncang persepsi dan melahirkan nilai-nilai.  Bagaimana ‘mimpi’ Wright bersaudara untuk bisa melenting terbang layaknya burung yang melipat jarak dan meringkas waktu Jakarta-London hanya 12 jam. Ide luar biasa bola lampu Thomas Alfa Edison dalam mengubah dunia melawan gulita dan Guttenberg-James Watt dengan ide gilanya menjadi lokomotif revolusi industri hingga pengembangan teknologi berikut proses pencanggihannya.
Mereka hidup dalam gelimang ‘dunia ide’ seperti yang disebutkan Plato mampu membangkitkan daya hidup hingga saat ini dan guncangan ‘dunia ide’ inilah yang mendekonstruksi segenap kemapanan cara berpikir saat ini dengan menempuh cara berpikir baru.  Kreatif bukan sekedar berpikir dan bertindak asal beda melainkan bagaimana mengembangkan ide-ide segar dengan kreativitas tinggi dan pencapaian nilai-nilai estetika individual.  Ide-ide segar dan kreativitas itu sumber creativepreneurship dan entrepreneurship yang terus meletakkan kita pada strategi berpikir ‘think out the box’.  Ide gila menyatu dan mengalir sebagai spirit manusia yang sedikit banyak mewarisi gagasan Tuhan dalam proses penciptaannya.  Karena saya yakin Tuhan memiliki ide-ide gila yang luar biasa ketika berniat mencitakan manusia yang dibekali kreativitas berpikir di atas mahluk ciptaan lainnya di muka bumi.  Ide gila Tuhan mungkin akan menjadi suatu ide gila yang tak akan pernah terjadi lagi.  Sekali dan berdampak luar biasa.  Ide gila membangun mekanisme dan kinetika alam seisinya digerakan dan di benturkan bahkan.  Ide gila yang meruntuhkan seluruh keangkuhan manusia. Ide gila yang menyelamatkan kau dan aku.
Sebuah ide gila selalu bersumber dari kekuatan imajinasi hasil kinerja otak kanan dan bekerjasama dengan otak kiri pada Era konseptual dimana perlu upaya melengkapi penalaran otak kiri kita dengan menguasai enam kecerdasan (hight concept, hight touch) penting yang difokuskan pada kerja otak kanan untuk membantu mengembangkan sebuah pikiran yang benar-benar baru sesuai tuntutan jiwa jaman.  Phink (2006: 93-95) memaparkan; 1) Tidak hanya fungsi tetapi juga disain. Tak cukup fungsional di era kontemporer namun secara ekonomi penting dan bernilai secara personal menciptakan sesuatu yang juga indah, sedikit fantastis, dan menarik secara emosional.  2) Tidak hanya argument namun juga Cerita. Ketika hidup kita penuh informasi dan berbagai data, mengumpulkan argumentasi yang efektif tidaklah memadai.  Sesungguhnya dibutuhkan esensi dari persuasi, komunikasi, dan pemahaman diri sebagai suatu kemampuan untuk menciptakan kisah yang menarik.  3) Tidak hanya fokus tetapi juga Simponi.  Begitu banyak dari era-era industri dan informasi membutuhkan fokus dan spesialisasi-spesialisasi.  Namun ketika pekerjaan kerah putih dialihkan ke Asia dan direduksi ke dalam software, ada sebuah penghargaan terhadap kecerdasan.  Sebaliknya, menggabung-gabungkan bagian-bagian sebagai simponi.  Kemudian apa yang menjadi permintaan terbesar saat ini bukanlah analisa namun sintesa.  Sintesa untuk melihat secara keseluruhan perspektif, melintas batasan-batasan, dan dapat mengkombinasikan bagian-bagian terpisah ke dalam ruang satu kesatuan baru yang mengesankan dan memukau.  4) Tidak hanya logika tetapi juga empati.  5) Tidak hanya keseriusan namun juga Permainan.  6) Tidak hanya akumulasi tetapi juga Makna.
Paparan saya di atas dengan sejumlah tokoh dunia yang inspiratif dan berbagai pandangan filosofis meyakinkan dan meneguhkan pilihan-pilihan kita.  Tak puas dengan segala yang kita lakukan, maka lakukanlah peran (dengan meminjam istilah Pink) sebagai ‘penyeberang batasan’.  Sebuah upaya radikal untuk mengembangkan keahlian beragam bidang, berbeda bahasa, atmosfer yang berbeda, dan menemukan kesenangan –kenyamanan- dalam keberagaman pengalaman orang lain.  Peran ‘penyeberang batasan’ bukan peran sederhana dan main-main karena dibutuhkan nyali sang juara, visioner, berani mengambil risiko terburuk dan siap untuk menjadi penyeberang batasan yang mencandu.  Semua batasan menjadi sesuatu tanpa batasan, semua disiplin akan menjadi penting ketika kita berada di sana dan bergulat melepaskan batasan-batasan yang memejarakan.  Penggambaran sosok Leonardo da Vinci ‘pelompat batasan’ bahkan mengingatkan kita pada karya-karya besarnya yang menginspirasi dunia kedokteran, seni rupa bahkan titik tumpu perkembangan teknologi penerbangan. 
Para penyeberang batasan, Andy Tuck yang seorang profesor filsafat dan pianis yang menerapkan keahlian-keahlian yang mempertajam dalam bidang-bidang untuk menjalankan perusahaan konsultasi manajemennya.  Gloria White-Hammond, seorang pastur dan dokter anak di Boston. ToddMachover, penulis opera dan membangun peralatan musik berteknoogi tinggi.  Jhane Barnes, memiliki keahlian matematika menginspirasi disain-disain pakaiannya yang kompleks.  Mihalyi Csikszentmihalyi, seorang psikolog dari Universitas Chicago yang menulis buku klasik Flow: The Psychology of Optimal Experience dan buku Creativity: Flowand the Psychology of Discovery and Invention, telah mempelajari kehidupan orang-orang yang kreatif dan menemukan bahwa ‘kreativitas pada umumnya mencakup penyeberangan batasan–batasan  wilayah’.   Orang yang paling kreatif diantara kita yang melihat hubungan-hubungan yang paling tidak pernah diketahui oleh orang lain. (Pink, 2006: 176-177)
Selanjutnya bahwa Mihalyi Csikszentmihalyi juga mengungkapkan dimensi bakat penyeberang batasan yang berkaitan: mereka yang memilikinya seringkali menjauhi pembuatan stereotipe peran gender tradisional.  Temuannya bahwa ‘ketika tes-tes maskulinitas/feminitas diberikan kepada anak muda, secara berulang-ulang seorang akan menemukan gadis-gadis yang kreatif dan berbakat lebih dominan dan kuat daripada gadis-gadis lainnya.  Dan, anak laki-laki yang kreatif lebih sensitif dan kurang agresif daripada teman-temannya’.  Csikszentmihalyi dalam Pink (2006: 179) menegaskan bahwa ‘seseorang yang androgini secara psikologis sebenarnya menggandakan daftar respon-responnya dan dapat berinteraksi dengan dunia terkait dengan spektrum peluang-peluang yang begitu lebih kaya dan bervariasi’.  Kemudian dikatakan Samuel Taylor Coleridge bahwa pada dua ratus tahun lalu para penyeberang batasan mengingatkan kita pada saat ini, pikiran-pikiran yang besar adalah androgini.  Senada ketika ia meneliti Cobbet, ‘saya telah mengenal pikiran-pikiran yang hebat, dengan gaya-gaya seperti Cobbet yang mengesankan, tidak meragukan; akan tetapi, saya tidak pernah menjumpai pikiran besar seperti ini.  Kebenarannya adalah, sebuah pikiran yang besar pastinya berwatak androgini’.
Ketika seorang seniman mengeksplorasi semua kemungkinan ruang kreatifnya dengan presentasi pola-pola personal, spesifik, dan original sesungguhnya ia tengah menggali dan menjumput nilai-nilai estetika baru.  Nilai baru lahir karena kemunculan pandangan-pandang personal atas fenomena, respons atas berbagai fenomena, respons atas pengalaman empiris, representasi pengetahuan intelektualitasnya dan berbagai hal menyentuh kepekaan estetiknya. 

C.    Persoalan Estetis dan  Estetika yang Tak Terumuskan
 Salah seorang skeptis yang paling menonjol Morris Weitz, menyampaikan anggapan banyak kalangan sebagai argumentasi yang cukup memuaskan untuk kata ‘seni’ yang tak dapat didefinisikan secara baku.  Hal senada disampaikan filsuf Ludwig Wittgenstein, bahwa ‘seni’ menunjuk pada hal-hal yang paling kehilangan ‘family resemblance’ (memiliki kemiripan dalam hubungan satu sama lainnya).  Ia beranggapan bahwa kondisi keharusan dan mencukupi untuk penggunaannya yang tepat dan tak dapat diberikan layaknya game (bola, golf, dragon, spionase dan game bawah tanah (Dungeon).  Apa karakteristik yang sama antara Fifth Symphony pada Beethoven, Mona Lisa pada Leonardo Da Vinci, dan Hamlet pada Shakespeare?  Karya Marchel Duchamp yang dipajang museum kota Hartford ‘Fountain by R. Mutt’ adalah original luar biasa.  John Cage ‘4 minuts and 33 Sconds of Silence’ dan beberapa puisi kontemporer menyajikan halaman kosong sebagai ‘puisi’ kemudian ada juga film beberapa menit yang tidak menghadirkan apa-apa kecuali suatu ruang hall kosong dan tarian kerumunan orang berjalan maju mundur melintasi panggung. (Eaton, 2010: 9-10).
Jerome Stolnitz dalam Eaton (2010: 32) menyatakan bahwa ada teori ekspresi Tolstoy merupakan versi teori yang kuat mengingat sesungguhnya teori ini menggabungkan dua cara untuk menjelaskan ekspresi artistik, yaitu: (a) dalam pengertian perasaan seniman dan (b) dalam perasaan penikmat.  Masing-masing sudut pandang dapat digunakan terpisah untuk menjelaskan ekspresi.  Mungkin kita dapat menyatakan bahwa karya seni sedih atau mengekspresikan kegembiraan, kita telah membuat pernyataan tentang senimannya.  Oleh karena itu kitapun dapat menyebut teori itu sebagai berikut: (1) y mengekspresikan  y jika dan hanya jika seniman merasakan y ketika memproduksi x.  (2) x mengekspresikan y jika dan hanya jika x menyebabkan (membangkitkan atau memadamkan) y pada penikmat.  (3) x mengekspresikan y jika dan hanya jika x adalah y.  (4) x mengekspresikan y jika dan hanya jika x mendeskripsikan atau menggambarkan seseorang yang merasakan y.  (5)  x mengekspresikan y jika dan hanya jika x memiliki ciri orang yang merasakan y.  (6) x mengekspresikan y jika dan hanya jika x memperlihatkan sesuatu sedemikian rupa yang menunjukkan y.  (Frase ‘jika dan hanya jika’ mengindikasikan bahwa apa yang mengikuti adalah kondisi keharusan dan mencukupi bagi apa yang mendahuluinya).  Suatu karya seni akan mengekspresikan kesedihan jika dan hanya jika seniman merasa sedih ketika memproduksinya.  Sebagai dukungan atas teori ini adalah kecenderungan kita untuk menganggap seniman sebagai orang yang lebih peka, yang bakatnya terletak pada kemampuannya meletakkan perasaan pada kata-kata, bunyi dan bentuk-bentuk atau gerakan.  Sulit membayangkan seseorang yang tidak mengalami suatu kerinduan akan masa lalu yang tak dapat kembali dapat menuliskannya.
Suzanne Langer dalam Edmund Burke pada A Philosophical Inquiry into the Ideas of the Sublime and the Beautiful  (1958) mempertimbangkan ekspresi artistik dengan cara lain tetapi sama.  Ia berpendapat bahwa kita tidak dapat menjelaskan dengan baik tentang ekspresifitas seni hanya melalui penjelasan asosiasi yang kita tentukan antara ciri formal (seperti warna dan bentuk) dengan perasaan manusia.  Menurutnya, perasaan  berada dalam karya  tentu saja bukan perasaan yang sesungguhnya tetapi gagasan tentang perasaan tersebut, misalnya bahwa musik merupakan analogi bunyi kehidupan emotif.  Keduanya memiliki bentuk logis yang sama.
Objek seni yang digambarkan dalam teori-teori estetika secara bebas atau memerlukan konteks-konteks yang berkaitan dan tanpanya tidak akan ada.  Pengalaman estetis telah dipandang sebagai sesuatu yang memfokuskan diri pada aspek properties formal yang intrinsik (warna, bentuk dan irama) atau sesuatu yang melibatkan diri dengan ciri signifikan atau kondisi yang melampaui objek itu sendiri. 
Kemudian ahli sejarah seni Erwin Panofsky (1962) mengemukakan bahwa ikon seni dapat dipelajari menurut tiga tingkatan yakni: tingkat ikonik, sebuah gambar menunjuk sesuatu ia mirip dengan hal tersebut.  Tingkat ikonografik, sebuah gambar menunjuk sesuatu melalui praktik yang dikenali misalnya seekor anjing yang berarti kesetiaan dan merpati yang berarti perdamaian.  Tingkat ikonologis, sebuah gambar mengartikan suatu gagasan, misalnya mengekspresikan hubungan antara kebenaran dan keindahan atau mengacu pada klaim metafisik tentang kenyataan dunia fisik.
John Dewey kemudian juga mengusulkan teori ekspresi jenis yang lain yakni teori ekspresi yang mendasarkan teori seninya pada teori pengalaman yang menurutnya bahwa pengalaman merupakan unit koheren yang menghubungkan ciri yang hadir dalam interaksi yang rumit antara organism manusia dan kekacauan tumpukan benda-benda yang mempengaruhinya.  Pengalaman selalu dimulai dengan ‘impulse’ –dorongan atas keinginan atau kebutuhan- dimana ekspresi merupakan pengalaman reflektif.  Ekspresi melibatkan nilai-nilai yang melampaui momen sesaat dimana seseorang bertindak dan melibatkan ‘perkembangan’ dari apa-apa yang dirasakannya.
Di sinilah proses brainshocking dalam wilayah kreativitas mengkonstruksi estetika-estetikanya sendiri.  Dan, sejumlah hal besar dan penting kemunculan ‘seni’ secara spektakuler tampaknya memberi pengayaan yang luas mengenai pendefinisian seni.  Kemudian Weitz (1956: 32) menyatakan bahwa sifat kreatif seni tidak butuh untuk didefinisikan: yang paling jauh dari ciri petualangan seni adalah perubahannya yang terus berlangsung dan kreasi baru menjadikannya tak mungkin secara logis menjamin suatu perangkat ciri yang didefinisikan. Mencermati fakta bahwa perkembangan kreativitas seni yang konstruksinya dari berbagai perspektif, dengan lompatan-lompatan imajinatif dan berbagai paradigma terus berubah ‘berkembang’ maka seni mempresentasikan nilai estetika secara multi interpretatif. 
Seni bergerak ke wilayah-wilayah inter-disipliner dan senantiasa memperkaya nilai-nili yang diusung sehingga seni dengan estetikanya tak dapat dirumuskan secara ketat dan baku.  Namun, hal ini menjadi ruang maha luas bagi seni itu sendiri untuk melalukan perluasan-perluasan nilai dengan merangsang berbagai perspektif lahir karenanya.  Perumusan hanya persoalan identifikasi dan prosedur ilmiah di luar nilai-nilai yang dibangun oleh seniman melalui kerja estetiknya.


Bagian III. Realitas Quantum Era Cybercultures dan Eksplorasi Futuris Elektromagnetik

Bagian III. 
Realitas Quantum Era Cybercultures dan Eksplorasi Futuris Elektromagnetik 


No one knows who will live in this cage in the future, or whether at the end of this tremendous development entirely new prophets will arise, or there will be a great rebirth of old ideas, or, if neither, mechanized petrification, embellished with a sort of convulsive self-importance. (Max Weber)

A.     Percikan Realitas Quantum di Era Cybercultures
Sejak kanak-kanak pada pertengah tahun 1970an saya dibesarkan dalam lingkungan masyarakat agraris yang berada tradisi budaya pesisiran di daerah kabupaten Tegal.  Sebuah lingkungan sosial transisi antara kota Madya sebagai representasi tata sosial masyarakat urban yang tumbuh pada sektor industrialisasinya dan kota Kabupaten masyarakat menghabiskan waktunya sebagai petani dan nelayan yang tetap mempertahankan spirit tradisi dan nilai-nilai budaya lokal.  Keduanya tumbuh berdampingan secara harmonis.  Masa remaja tetap tumbuh di lingkungan dengan tata nilai kultural yang saling berhadapan.  Secara alamiah saya mewarisi spirit masyarakat petani yang gila kerja dan memiliki potensi survival yang berbeda dengan masyarakat urban lainnya di kota tersebut.  Sebagian besar masyarakat menikmati dengan jenak pertunjukan wayang kulit, golek, sintren, kuda lumping, kuntulan, kethoprak, dan menyimak sandiwara radio Saur Sepuh.  Sementara pada sisi berbeda kita juga asyik menyedapi pertunjukan orkes melayu dangdut, orkes gambus, video dan film layar tancap pada tiap perhelatan orang-orang kaya kota.
Kemudian berbagai mitos dan perjumpaan pernik budaya kejawen yang tumbuh dengan fenomena metafisik khas pesisiran pun menjadi bagian pengalaman estetika yang khusus.  Jawa memiliki kemelekatan pada aspek cyber dalam pengertian khusus, karena Jawa memiliki sejarah luar biasa mengenai kecanggihan telepati, hipnotis, peralihan sugesti, pelet, santet, teluh, dan praktik-praktik pesugihan kemudian bahkan bisa dianggap secara spekulatif melecutkan cikal daya hidup serba quantum. Pada masa remaja ketika berada pada ruang pertunjukan, saat menikmati mocopat, dandang gula, sastra gendhing, pangkur dan wayang yang mampu membawa saya tengah berada pada layar datar dari fibre optic layar datar unit komputer raksasa.  Suatu unit khusus untuk memasuki dimensi imajiner dan simulasi digital yang berlapis-lapis membawa eksistensi ilutif saya surfing ke negeri Alengka, kawah Chandra Dimuka, perang Mahabharata yang memungkinkan kita merefleksikan penjiwaan karakter Krishna.  Pengalaman yang serupa seringkali saya nikmati dengan empati sepenuhnya pada pertunjukan-pertunjukan wayang secara langsung dalam perhelatan khitanan, pernikahan maupun syukuran kampung.   Ini fakta aktual bahwa fenomena cybernetic membangun ruang kesadaran imajinatif saya merasakan larut ’katarsis’ masuk ke dalam cerita wayang. 
Penjelajahan perasaan yang sama juga pada kesempatan menikmati sandiwara radio frekuensi cybernetic di sudut-sudut ruang belajar, ketika tengah memperoleh penghayatan ’imajinatif’ dari virtual audio seolah dipresentasikan secara visual.  Presentasi ilutifnya semacam ini begitu terasa ketika menyelami adegan-adegan dalam cerita sandiwara radio tersebut.  Penghayatan atas pengalaman ini berada pada penghayatan yang serupa ketika saya berada dihadapan ruang cybernetic yang lebih canggih teknologinya ‘internet’ sebagai ruang eksplorasi imajinatif yang populer hari ini sebagai sebuah produk cybercultures.  Bukankah pencapaian aktivitas budaya tradisi dengan presentasi yang sederhana semacam ini mampu melampaui gagasan besar cybercultures, sehingga Jawa dalam konteks kebudayaan memiliki korelasi kontekstual yang diadaptasi secara baru melalui pencanggihan teknologi simulasi digital.  Kemudian masyarakat begitu antusias untuk mengadaptasi hampir semua sistem memiliki ketergantungan terhadap kebudayaan cyber yang marak hari ini.  Berdasarkan survei dan data yang saya temui bahwa masyarakat masa kini baik di pusat maupun pelosok daerah hampir seluruhnya menjadi user yang hanya menikmati produk cyberculture yakni:  tv, hp, telepon, internet, email, twitter, friendster, dan facebook bahkan mayoritas pengguna sistem aktif.
 Perkembangannya sangat pesat dalam kurun 5-10 tahun terakhir khususnya dalam membangun dan mengembangkan jejaring internet yang dengan cepat menjadi tren masyarakat masa kini kendati memiliki efek simulasi tinggi, bersifat manipulatif?   Setiap saat ruang imajiner begitu ugal-ugalan dieksplorasi sebagai area surfing menjelajah hasrat dalam ruang tanpa batas.  Mulai informasi politik, pendidikan, bisnis, perniagaan, networking, jejaring sosial sampai eksplorasi identitas-identitas baru yang serba palsu.  Banyak peristiwa penting dunia, bahkan kudeta politik dan peruntuhan kekuasaan status Quo bisa dimobilisasi melalui jejaring sosial.
Hal tersebut berbanding lurus pada peran cybernetic dengan berbagai aspek yang muncul sebagai sebuah konsekuensi perubahan sistem sosio-kultural.  Ketika dunia virtual mendominasi dunia realitas sehingga dapat dikatakan menjadi semacam ‘alam atau dunia kedua’ masyarakat kontemporer, jalur-jalur informasi bebas menyergap pada ruang aktivitas kapan saja dan di mana saja untuk menikmati fenomena global dengan pemanfaatan ruang elektronis pada serabut optik (fibre optic) berkecepatan cahaya begitu luar biasa yang interaksinya kian abai pada eksistensi fisik.  Visi urban kemudian melekat pada budaya sebagai bagian yang terintegrasi dengan perkembangan masyarakat kontemporer.  Kecenderungan hidup semacam ini berada dalam pengaruh cyberspace dan idealisasi virtual space yang mengkristal secara laten pada masyarakat dunia akhir-akhir ini.
Di Indonesia khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan Yogyakarta telah menunjukkan perubahan sistem yang signifikan (sistem sosial, sistem ekonomi, sistem pendidikan, sistem pemerintahan, sistem politik dan sistem budaya) dalam konteks penggunaan instrumen cybernetic secara sporadik.   Aplikasi berbagai sistem jejaring mekanis cybernetic membawa perubahan besar sangat signifikan terhadap perubahan sosial dan perubahan sistem ekonomi.  Sebagai indikasi nyata ialah kemunculan gejala perubahan gaya hidup (gaya berkomunikasi, gaya berbelanja, gaya transaksi bisnis, gaya belajar dengan fasilitas cyberspace dan gaya seks).  Fasilitas ruang maya nampaknya mampu mengubah karakteristik masyarakat urban dengan budaya kontemporer dalam sistem digitalisasi.  Pada konteks masyarakat posmodern, urbanisasi tak lagi berarti perpindahan manusia ke kota di dalam ruang nyata, namun berkembang ke arah urbanisasi virtual yaitu perpindahan manusia secara besar-besaran ke pusat kota digital ‘cyberspace’.  Ketika manusia sampai pada titik tersebut maka manusia sejatinya berada pada kondisi krisis eksistensial.
Yasraf Amir Piliang, (2006: 57-58) menyatakan bahwa keberadaan dunia virtual, tidak hanya dimaknai sebagai bentuk manifestasi sistem komunikasi antar manusia, akan tetapi manifestasi hampir setiap aspek kehidupan manusia (tindakan, aksi, reaksi, komunikasi).  Masyarakat kosmopolitan kini dapat melakukan berbagai aktivitas (sosial, politik, ekonomi, seksual) dalam jarak jauh (telepresence) tanpa harus melakukan proses perpindahan di dalam ruang-waktu dari stasiun ke stasiun lainnya, sebab yang disebut stasiun itu kini telah terkoneksi secara virtual lewat jaringan internet dan cyberspace tanpa penjelajajahan ruang-waktu secara fisik hanya melalui ruang-waktu virtual.  Teknologi virtual reality ketika meningkatkan potensinya menterjemahkan mimpi menjadi keniscayaan elektronis maka proses pelenyapan dunia riil secara otomatis terkonstruksi sistemik dan menjadi tandingan dari realitas aktual.  Realitas virtual sebuah teknologi yang mampu mensimulasi dan menciptakan pelbagai realitas dengan teknik simulasi komputer telah melahirkan apa yang kemudian kita kenal sebagai teknologi realitas virtual, dimana pelbagi ilusi tiga dimensi  mampu mencitrakan imaji realistik.  
Dengan demikian masyarakat dunia dapat mengakses file berbagai informasi terkini dengan jejaring ruang maya, file tersebut seolah-olah tersimpan dalam satu komputer induk saja meski merupakan multi jejaring.  Max Weber dalam Steven & Kellner (1997: 38) menyatakan dalam sebuah analogi yang mampu merepresentasikan keadaan saat ini bahwa, No one knows who will live in this cage in the future, or whether at the end of this tremendous development entirely new prophets will arise, or there will be a great rebirth of old ideas, or, if neither, mechanized petrification, embellished with a sort of convulsive self-importance.   Bahwa tidak ada yang tahu siapa yang akan tinggal di kandang ini di masa depan, atau apakah pada akhirnya terjadi pembangunan yang luar biasa seperti kemunculan nabi baru, atau akan ada kelahiran kembali besar-besaran ide-ide lama, atau jika tidak maka berfungsi membatu secara mekanis, atau malah dihiasi semacam pentingnya shock individu semata.  Jejaring yang luar biasa tersebut dalam HTML kemudian memungkinkan setiap orang menciptakan isi yang kemudian menempatkannya dalam web.  Hasilnya adalah semacam ledakan data.  Kieron O’Hara (2002: 31) pada seri Posmodern Plato dan Internet mengungkapakan bahwa, dalam Web terdapat sekitar 2,5 miliar data pasti, jumlah yang luar biasa besar (sebesar 7,5 miliar gigabyte) dan hal ini menjadikan internet sebagai mesin bagi pengalihan kapabilitas manusia secara besar-besaran.  
Gejala tersebut mencuat ketika terjadi peningkatan populasi masyarakat urban pada suatu daerah.  Dalam konteks kajian ini saya fokus pada Jawa dengan berbagai kecenderungan; Jawa memiliki karakteristik masyarakat yang adaptif terhadap berbagai kebudayaan dan sistem yang tumbuh di sekitarnya, Jawa memiliki populasi penduduk yang tinggi yang didominasi pertumbuhan masyarakat urban beserta pertumbuhan kebudayaannya.  Jawa sebagai representasi budaya Timur yang terus tumbuh, diacu dan dipertahankan.  Jawa secara geografis berpotensi menjadi hot spot pertumbuhan masyarakat urban yang mengusung habitus dan latar belakang budaya lokalnya masing-masing.  Komunitas masyarakat Jawa khususnya merupakan entitas masyarakat yang setia mengacu nilai-nilai tradisi leluhurnya kemudian memiliki kecenderungan mewariskan secara turun-temurun dengan perubahan, perkembangan dan pengayaan pada setiap aspeknya.  Ketika arus urbanisasi deras beberapa kelompok masyarakat (sesama profesi) meninggalkan daerah-daerah ke pusat berikut arus kebudayaannya beralih saling-silang, merajut, membangun gugus kebudayaan baru yang mengadaptasi muatan lokal dan mengadopsi aspek budaya global termasuk budaya cyber.
Proses ini dimulai dengan intensitas sistemik masyarakat yang kemudian memiliki habitus di mana aktivitas dunia cybernetic berperan penting dalam membangun kebudayaan dengan pencitraan posmodernitas, maka di sana terjadi sebuah proses percampuran, persilangan, displacement, dan replacement atau semacam disposisi tumbuh bergerak memasuki ruang terbentuknya budaya baru.  Sebuah tren baru yang tak terelakkan.  Antusiasme masyarakat Jawa dengan berbagai strata sosial dan ekomomi bergeser perspektif hidupnya untuk menyerap sistem telekomunikasi, informasi, simulasi digital, aktivitas bisnis, pencitraan diri melalui dunia maya hingga pada tahap penikmatan sistem kenyamanan transaksional. 
Rusnoto Susanto dalam makalah seminar internasional Javanology mempresentasikn The Disposition and Reposition of The Javanese Cultural Existence in Cybercultures, (2010: 86) ‘in that context, the sporadic change-transfer process has to exchange the culture (cultural share), crosses, and mixed culture is always interesting to be seen related with the shift of individual modes and socety at large that appear in the big cities of Javaas a results of modernity-postmodernity projection through the touch of culture (cultural encounters).  The communication tended to construct intensity of cultural contact is so significant.  If the basic assumption is the communication as a basic material of culture process, the products of cybercultures make possibilitiesto extend the process of culture itself universally and have power to mobilize the cultures of Java on a single disposition chance or consciousness to repositioning’.  Bahwa masyarakat hingar-bingar tampil dengan representasi baru berada dalam kota-kota besar yang tetap beridentitas Jawa sebagai hasil dari proyeksi posmodernitas melalui sentuhan budaya (cultural encounters) yang heterogen.  Sistem komunikasi yang mendorong intensitas terkonstruksinya kontak-kontak budaya mewujud begitu signifikan.  Jika asumsi dasarnya adalah komunikasi merupakan materi pokok proses budaya maka produk-produk cybercultures membuka ruang bebas untuk melesatkan proses kebudayaan itu sendiri.  Sebuah proses kebudayaan yang secara universal memiliki daya untuk menggerakan praktik budaya pada ruang disposisi atau kesadaran mereposisinya.
Relasi budaya Jawa dan praktik cybercultures berujung pada sebuah proses penggantian maya (virtual replacement) sebagai bentuk representasi-representasi eksistensi manusia pada praktik digitalisasi.  Terpaan sporadis arus globalisasi telah mampu mengubah cara pandang masyarakat kita dalam melakukan kebudayaan.  Perlahan tetapi pasti, budaya lokal mulai tergerus hegemoni budaya popular.   Hegemoni budaya popular tidak saja mengubah tata sosial namun mempengaruhi perilaku, gaya hidup, dan pola pikir masyarakat.  Perubahan ini sebagai ekses perkembangan teknologi digital, televisi, koran, majalah, radio, internet, dan lainnya.  Kecenderungan masyarakat mengadaptasi ‘bahkan mengadopsi’ salah satunya budaya konsumerisme sebagai hegemoni budaya dan sosial yang terus-menerus berkembang dan mengikis nilai-nilai budaya lokal bahkan terancam punah. 
Televisi merupakan produk budaya pop yang pengaruhnya sangat besar di masyarakat.  Melalui televisi, masyarakat mulai meniru berbagai hal: gaya berbahasa, gaya berbusana, gaya hidup, dan pola pikir.  Dampaknya, terjadi perubahan sosial dan esensi nilai-nilai budaya lokal lenyap.  Kapitalisme sebagai penguasaan alat produksi oleh kaum pemilik modal, dan diproduksi semaksimal mungkin untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, secara tidak sadar, budaya konsumerisme dan hegemoni kapitalistik tumbuh subur di Indonesia.  Dasawarsa 1920-an dan 1930-an merupakan titik balik penting yang diingatkan Dominic Strinati (2003: 4) bawa dalam kajian dan evaluasi budaya popular dimulai dari munculnya sinema dan radio produksi massal dan konsumsi kebudayaan, bangkitnya fasisme dan kematangan demokrasi liberal di sejumlah negara barat, semuanya memainkan peran dan memunculkan perdebatan atas budaya massa.
Budaya massa atau budaya pop dengan bentuknya yang lebih canggih, lebih halus, dan lebih nikmat, berhasil menjerat pasar potensialnya yang begitu kuat mencengkeram media massa kita khususnya media televisi adalah kontes pencarian bakat dibidang musik atau film.  Model acara seperti ini di Indonesia adalah AFI, Indonesian Idol, KDI, Kondang In, Ajang Boyband dan Penghuni Terakhir.  Diantara kontes-kontes ini yang paling menyedot perhatian khalayak adalah Indonesian Idol dan AFI serta sederet audisi-audisi talent instan. 
Melalui layar elektronik (ada yang menampakkan diri dalam dimensi perbedaan dan multiplisitasnya) yang eksistensinya sangat menggugah rasa ingin tahu, membangkitkan berbagai hasrat, menghidupkan angan-angan, tetapi sekaligus menimbulkan kesadaran kebahagiaan semu atau bahkan terpersok pada kesadaran ketidakbahagiaan.  Yasraf Amir Piliang (2008: 225) menyatakan bahwa padatampilan permukaan, layar fibre optic tampil dalam  rangkaian perb edaan-perbedaan; akan tetapi pada kandungan isinya ia sering dilihat sebagai repetisi dari aneka kebanalan dunia harian.  Berkaitan dengan kesadaran, layar dapat dipandang sebagai ruang yag di dalamnya kesadaran digiring ke dalam sirkuit pacuan informasi tanpa jeda, tetapi juga sebagai sebentuk pelarian dari kesadaran tak bahagiadan hidup yang tanpa harapan. Layar elektronik adalah dunia penuh ambiguitas bahkan kontradiksi-kontradiksi, yang keber-ada-annya meninggalkan aneka enigma.

B.    Eksplorasi Futuris Elektromagnetik
‘Manusia adalah magnet dan setiap detail peristiwa yang dialaminya  atas daya tarik (undangan) nya sendiri’ (Elizabeth Towne, 1906)
Kenapa kita berada pada suatu media jejaring sosial yang sama ketika kita berada pada ruang eksplorasi dunia maya, pada chanel televisi yang sama ketika dunia entertainment menyajikan isu remeh-temeh seputar kehidupan artis, dan pada frekuensi yang sama ketika menyimak berita politik dengan tuning 99.5 FM di sebuah stasiun radio?  Hal ini menjelaskan bahwa semua orang yang berkumpul pada ruang-ruang virtual tersebut memiliki kesamaan visi, orientasi, kebutuhan informasi, dan hobby yang sejenis.  Mereka saling tarik-menarik dalam medan magnet yang merangsangnya mendekati satu sama lain, ada vibrasi gelombang elektromagnetik yang tak bisa ditawar-tawar untuk menunda berada pada koneksi-koneksinya.
Sama halnya ketika di suatu pesta malam tahun baru, sebuah kembang api melukai beberapa orang di sebuah pemikiman padat penduduk di daerah Galur Tanah Tinggi karena gaya tarik-menarik dan berbagai aspek yang melatar belakangi.  Budaya pesta tahun baru dan pesta kembang api menarik sejumlah anak remaja mengekspresikan kegairahannya menyambut awal tahun dengan menciptakan suasana yang mengesankan, sejumlah penduduk penyedia kembang api berperan dalam bisnis tersebut, masyarakat sekitar dengan antusias menikmati suasana dan kembang api yang terlempar ke atas sesekali menyambar atap-atap rumah, tiang listrik, kabel listrik, kabel telepon, papan reklame, ranting pohon, dan beberapa buah kembang api yang tidak sempurna meluncur kemudian jatuh lebih cepat sebelum api padam ke kerumunan warga yang dari sore hilir-mudik di sekitar hunian menunggu sirine tepat puncak tahun dan awal tahun.  Beberapa warga tunggang langgang karena percikan besar kembang api di sekujur punggung dan tangannya terbakar. 
Semua terjadi sejak awal insiden ini terjadi adalah hukum tarik-menarik dan peran gravitasi bumi yang menundukan levitasi terbatas dari kembang api sehingga meluncur ke bawah ketika kehilangan daya levitasi membelah langit malam dengan cahayanya.  Ilustrasi di atas menuntun kita untuk memahami bagaimana serangkaian koneksi terjadi karena ada gaya tarik-menarik antara manusia dengan kebiasaan-kebiasaan masyarakat, padagang kembang api memperoleh rangsangan vibrasi elektromagnetik dari antusiasme masyarakat jelang tahun baru, dan semua benda yang meluncur ke atas (meskipun  memiliki gaya levitasi berkekuatan penuh sekalipun) ia akan jatuh meluncur ke bawah karena hukum alam yang kita sebut hukum gravitasi.  Seperti kita melepaskan  cawan red wine, niscaya cawan  akan  pecah karena gravitasi bumi menariknya ke  bawah dan  terhempas ke lantai marmer.
1.    Vibrasi Elektromagnetik dan Gravitasi Semesta
Berbagai hal yang terjadi tak terlepas dari hukum-hukum causa prima yang dihamparkan di permukaan bumi, termasuk vibrasi elektromagnetik dan gravitasi alam semesta.  Teks elektromagnetika selalu dapat dikaitkan dengan kinerja mekanika elektrik baik alam maupun buatan, elektromagnetika merupakan penggabungan listrik dan magnet.  Energi gelombang elektromagnetika banyak dimanfaatkan dalam perancangan teknologi mesin motor, kaset tape recorder, kaset video, aplikasi sistem perangkat lunak video, speaker, dan aplikasi gelombang elektromagnetik pada kerja gelombang radio dan gelombang televisi sebagai alat komunikasi.  Bahkan dieksplorasi utuk temuan energi alternatif pesawat seperti yang sedang dikembangkan teknologinya oleh NASA.
Memperbincangkan Vibrasi Elektromagnetik tak lepas dari tinjauan fenomen melalui quantum gravitasi, dan sebaliknya untuk mendekati fenomena quantum gravitasi dengan pembahasan sistem kerja beserta cakupannya gelombang elektromagnetik.  Dalam pemahaman teoretik gelombang elektromagnetik merupakan gelombang yang dapat merambat meskipun tanpa medium. Energi-energi elektromagnetik merambat melalui gelombang dengan berbagai kapasitas, karakteristik dan ukuran, yakni: panjang gelombang atau wavelength, frekuensi, amplitude-amplitude, dan kecepatan.  Frekuensi dalam gelombang elektromagnetik ialah sejumlah gelombang yang melalui suatu titik dalam satu satuan waktu tergantung kecepatan merambatnya gelombang, hal tersebut disebabkan kecepatan energi elektromagnetik konstan.  Semakin panjang suatu gelombang, semakin rendah frekuensinya, dan sebaliknya.  Semakin tinggi level energi energi elektromagnetik dilepaskan semua masa di alam semesta dalam suatu sumber energi maka semakin rendah panjang gelombang dari energi yang dihasilkan dan semakin tinggi frekuensinya.  Gelombang elektromagnetik mengalami peristiwa pemantulan, pembiasan, interferensi, dan difraksi serta mengalami peristiwa polarisasi (gelombang transversal).  Cepat rambat gelombang elektromagnetik sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat listrik dan magnetik medium yang ditempuhnya.
Pancaran cahaya pesta kembang api yang memesonakan mata bukan semata jenis yang memungkinkan radiasi elektromagnetik.  James Clerk Maxwell menunjukkan bahwa gelombang elektromagnetik lain, berbeda dengan cahaya yang tampak oleh mata berdasarkan panjang gelombang dan frekuensi.  Kemudian Heinrich Hertz dalam eksperimentasi-eksperimentasi gelombang elektromagnetiknya sanggup menghasilkan dan menemui kedua gelombang yang tampak oleh mata yang diramalkan oleh Maxwell.  Beberapa tahun kemudian Guglielmo Marconi memperagakan bahwa gelombang yang tak terlihat mata itu dapat digunakan buat komunikasi tanpa kawat sehingga teknologi radio dengan sistem kerja gelombang elektromagnetik.  Kini, diaplikasi dalam teknologi simulasi cybernetic, televisi, sinar X, sinar gamma, sinar infra, sinar ultraviolet adalah contoh-contoh dari radiasi elektromagnetik. Semuanya bisa dipelajari lewat hasil pemikiran Maxwell. (http://www.pustakasekolah.com/pengertian-gelombang-elektromagnetik.html).
2.    Energi Elektromagnetik dan Fenomena Quantum Gravity
Pembahasaan teori gravitasi quantum (quantum gravity) sesungguhya belum mewujud menjadi sebuah teori karena baru sebatas mewacanakan suatu upaya mengawinkan teori kuantum dengan teori relativitas (yaitu teori tentang ruang-waktu dan gravitasi) dalam satu framework: one unified theory, atau theory of everything.  Karena kedua teori ini merupakan pilar penting utama fisika modern yang berhasil dan teruji dengan berbagi eksperimen: fisika quantum berhasil dalam menjelaskan atom, partikel elementer, gelombang, dan fenomena mikrokopik.  Sedangkan relativitas berhasil menjelaskan fenomena gravitasi, kosmologi, dan berbagai fenomena makro besta perluasannya. Keduanya mengontruksi perspektif revolusioner mengenai realita bahwa teori relativitas merubah pandangan mengenai ruang dan waktu, sedangkan teori quantum mengubah berbagai pandangan mengenai pengamat dan sesuatu yang diamati.  
 Dalam fisika klasik, kita menganggap posisi ruang dan waktu sebagai latar yang tetap (fixed background), yaitu seperti panggung atau arena, di mana partikel-partikel mengambil peran dlsm berbagai adegan dengan menari-nari di atasnya.  Layaknya landscape semesta dengan presentasi seluruh mahluk hidup  di permukaannya.  Sudut pandang tersebut mengonstruksi model geometri yang tetap untuk ruang dan waktu selanjutnya kita bisa merumuskan persamaan untuk membuat pengambaran dinamika partikel-partikel, dan ruang-waktu bersifat absolut, tidak terpengaruh oleh gerakan partikel-partikel tersebut.  Jika semua materi dihilangkan dari alam semesta maka tetap akan tertingal sebuah ruang-waktu yang absolut.  Illustrasi semacam ini sekilas bisa diterima berdasarkan kepekaan intuisi dan pengalaman sehari-hari.  Dan, sebaliknya bahwa teori relativitas membuktikan bahwa perspektif ini salah, dan teori relativitas telah diuji melalui eksperimen.
Teori relativitas dengan eksperientasi yang cukup panjang dan meyakinkan bahwa ruang-waktu adalah dinamis.  Presentasi geometri ruang-waktu tidak statis namun sangat bergantung pada distribusi materi dan energi.  Jadi perspektif teori relativitas adalah bahwa ruang-waktu adalah relasional, bukan absolut.  Jika semua materi dimusnahkan maka tidak ada ruang-waktu tertinggal karena kedudukan ruang-waktu tidak eksis dengan sendirinya namun ruang-waktu merupakan sistem kerja antara hubungan dan perubahan.  Jadi teori relativitas adalah bahwa teori fisika haruslah bebas latar (background independent), yaitu bahwa teori fisika tidak didefinisikan dalam latar ruang-waktu yang statis seperti dalam fisika klasik. http://www.forumsains.com/fisika/quantum-gravity/
Perspektif fisika klasik, deskripsi sebuah partikel atau sebuah sistem dapat diberikan dengan pasti dan pengukuran besaran yang diamati (observable) dilakukan secara pasti, dan pada prinsipnya keadaan sistem tidak terpengaruh oleh proses pengukuran.  Namun dalam fisika kuantum, deskripsi partikel, prinsip keadaan sistem dan pengamatan tidak terpastikan disebabkan adannya dua prinsip utama dalam fisika kuantum yang terasa asing bila ditinjau dari kacamata fisika klasik.  Dalam pandangan mengenai sistem kerja fisika klasik yang selalu mampu mengambarkan keadaan sistem dalam keadaan pasti, dan melakukan pengukuran juga besaran yang pasti.  Namun pada fisika kuantum, tidak diperoleh penggambaran yang pasti dengan sistem kerja yang pasti jadi apa-apa yang diamati berbeda dengan apa yang sebenarnya.  Realita kuantum seperti inilah yang agak sulit untuk dicerna, sehingga sampai sekarang pun belum ada satu interpretasi kuantum yang bisa diterima oleh semua orang.  Mungkin sebuah contoh yang paling populer adalah sebuah eksperimen pikiran: paradoks kucing Schrodinger. (http://en.wikipedia.org/wiki/Schrodingers_cat). Dengan demikian sumbangan terbesar teori relativitas dalam memberikan sudut pandang baru mengenai eksistensi ruang-waktu demikian halnya teori quantum memberikan sudut pandang baru mengenai pengamat dan yang diamati. 
Ada dua jalan utama dalam riset mewujudkan teori kuantum gravitasi yakni, pertama, berakar dari teori relativitas, yaitu loop quantum gravity atau canonical quantum gravity.  Yang kedua, berakar dari teori quantum (atau teori medan quantum), yaitu string theory (atau M-theory).  Kedua-duanya memiliki pendekatannya memang berbeda, walaupun keduanya setuju bahwa dalam skala terkecil yaitu sekitar 10-33cm ruang-waktu tidak lagi mulus seperti yang kita amati pada skala besar.   Dalam perkembanagan ilmu pengetahuan dan keluasan teori-teori ilmu pasti hingga humaniora sampai saat ini belum ada eksperimen yang bisa membenarkan atau menyalahkan teori-teori gravitasi kuantum.  Walaupun ada beberapa tesis yang kelihatannya cukup mungkin untuk dilaksanakan. Namun sesungguhnya wacana ini tetap diperbincangkan dan dikembangkan sebagai sebuah pengayaan sains dan teknologi. 
3.    Elektromagnetik: Realitas Kekuatan Pikiran Imajinatif dan Misteri Semesta
Kerja elektromagnetik sangat luar biasa yang dapat kita cermati dalam praktik mekanika yang dipresentasikan semesta untuk kita sehingga para ilmuwan NASA (National Aeronautics and Space Admistration) mulai berpikir memanfaatkannya sebagai tenaga untuk ‘melemparkan’ pesawat luar angkasa ke luar atmosfer bumi.  Bukan lagi mengandalkan mesin roket yang biasanya digunakan untuk mengirim pesawat-pesawat ke luar bumi, tetapi NASA ingin melakukan terobosan dengan pemanfaatan energi yang dihasilkan kerja elektromagnetik. 
Seluruh mesin roket NASA baik yang sudah pernah digunakan maupun roket berteknologi canggih yang sedang terus dikembangkan hingga saat ini tetap membutuhkan temuan-temuan bahan khusus sebagai pendorong pokok.  Temuan bahan khusus yang dipergunakan roket biasanya diperoleh dari bahan-bahan propellant, bisa juga berupa hasil reaksi fusi nuklir dengan pengembangan berbagai teknologi inovatif seperti light propulsion dan antimater propulsion sejak awal abad 21.  Penggunaan propellant sangat membatasi kecepatan dan tempuhan jarak maksimum yang dapat dicapai pesawat roket dengan begitu munculah ide untuk mengirimkan pesawat luar angkasa dengan menggunakan teknologi baru dengan sistem yang mampu ‘melemparkan’ pesawat dengan dimensi dan berat yang luar biasa ke luar angkasa tanpa menggunakan bahan-bahan propellant.  Elektromagnetika diharapkan menjadi temuan energi alternatif yang mampu memberikan solusi terbaik ke depan. 
NASA mengeksplorasi dan melakukan eksperimentasi-eksperimentasi kedahsyatan energi elektromagnetik untuk pengembangan teknologi roket pada proyek luar angkasa.  David Goodwin dari Office of High Energy and Nuclear Physics di Amerika adalah orang yang pertama kali mengusulkan ide electromagnetic propulsion ini.  Hipotesanya bahwa saat sebuah elektromagnetik didinginkan sampai suhu sangat rendah terjadi sesuatu yang ‘tidak biasa’.  Jika kita mengalirkan listrik pada magnet yang super dingin tersebut kita bisa mengamati terjadinya getaran (vibration) sebagai fenomena elektromagnetik yang spesifik selama beberapa nanodetik (1 nanodetik = 10-9 detik) sebelum magnet itu menjadi superkonduktor. (http://www.yohanessurya.com)
Menurut Goodwin, meskipun getarannya terjadi hanya selama beberapa nanodetik saja, namun kita tetap dapat memanfaatkan keadaan unsteady state (belum tercapainya keadaan tunak) ini untuk sesuatu yang penting dalam sejarah teknologi pesawat luar angkasa.  Jika getaran-getaran yang tercipta kemudian diarahkan ke satu titik orientasi yang sama maka kekuatannya cukup mampu untuk ‘melempar’ sebuah pesawat ruang angkasa dengan dimensi dan bobot mati yang tergolong tinggi.  Kekuatan ini tidak hanya sekedar mampu ‘melempar’ pesawat ruang angkasa, tetapi justru pesawat ruang angkasa bisa mencapai jarak maksimum yang lebih jauh dengan kecepatan yang lebih tinggi dari segala macam pesawat yang menggunakan propellant.
Untuk menerangkan idenya, Goodwin menggunakan kumparan kawat (solenoid) yang disusun dari kawat magnet superkonduktor yang dililitkan pada batang logam berbentuk silinder. Kawat magnetik yang digunakan adalah logam paduan niobium dan timah.  Elektromagnet ini sebagai bahan superkonduktor setelah didinginkan menggunakan helium cair sampai temperatur 4 K (-269oC).  Pelat logam di bawah solenoida berfungsi untuk memperkuat getaran. Supaya terjadi getaran dengan frekuensi 400.000 Hz, perlu diciptakan kondisi asimetri pada medan magnet.  Pelat logam (bisa terbuat dari bahan logam aluminium atau tembaga) yang sudah diberi tegangan ini diletakkan secara terpisah (isolated) dari sistem solenoida supaya tercipta kondisi asimetri.  Selama beberapa mikrodetik sebelum magnet mulai berosilasi ke arah yang berlawanan, listrik yang ada di pelat logam harus dihilangkan.  Tantangan utama yang harus diatasi adalah bagaimana optimalisasi teknik untuk mengarahkan getaran-getaran yang terbentuk pada kondisi unsteady ini supaya semua vibrasi dan energinya bergerak pada satu arah yang sama.  Untuk mengeksekusinya membutuhkan alat semacam saklar (solid-state switch) atau tombol on-off yang bisa menyalakan dan mematikan listrik 400.000 kali per detik sesuai dengan frekuensi getaran yang terbentuk.  Solid-state switch  berfungsi untuk mengambil energi dari keadaan lunak dan mengubahnya menjadi pulsa listrik berkecepatan tinggi dan mengandung energi tinggi sampai 400.000 kali per detiknya.  Energi yang digunakan untuk sistem elektromagnetik ini berasal dari reaktor nuklir (300 kW) milik NASA.  Reaktor ini menghasilkan sebuah energi panas yang dihasilkan melalui reaksi fisi nuklir.  Reaksi fisi nuklir yang melibatkan proses pembelahan atom dengan disertai radiasi sinar gamma dan sebuaah pelepasan kalor (energi panas) dalam jumlah sangat besar.  Reaktor nuklir yang menggunakan ¾ kg uranium (U-235) menghasilkan kalor yang setara jumlahnya dengan kalor yang dihasilkan oleh pembakaran 1 juta galon bensin (3,8 juta liter). 
Bisa dibayangkan bagaimana teknologi ini menekan biaya dan efisensi bahan sumber energi yang seungguhnya telah disediakan alam.  Energi panas yang dihasilkan reaktor nuklir ini kemudian dikonversikan menjadi energi listrik yang dipergunakan untuk sistem electromagnetic propulsion ini. Ketika teknologi ini digunakan dalam pesawat luar angkasa, ¾ kg uranium sama sekali tidak memakan tempat karena hanya membutuhkan ruangan sebesar bola baseball.  Dengan massa dan kebutuhan ruang yang jauh lebih kecil dibandingkan mesin roket sebelumnyauntuk mengirim pesawat ke luar angkasa.  Dengan tingginya efisiensi pada pesawat yang menggunakan sistem elektromagnetik ini sehingga mampu mencapai kecepatan maksimal yang jauh lebih tinggi sehingga bisa mencapai lokasi yang lebih jauh pula.  Dengan kekuatan pikiran melahirkan gagasan besar manusia dalam meringkas waktu dan melipat jarak tempuh.
Menurut Goodwin, kita bisa bayangkan jika pesawat luar angkasa dengan teknologi elektromagnetik ini dapat mencapai titik heliopause, tempat pertemuan angin yang berasal dari matahari (solar wind) dengan angin yang berasal dari bintang di luar sistem tata surya kita (interstellar solar wind).  Heliopause terletak pada jarak sekitar 200 AU (Astronomical Unit) dari matahari, 1 AU merupakan jarak rata-rata bumi dari matahari yaitu sekitar 1,5.108 km.  Bahkan planet terjauh dalam sistem tata surya kita saja hanya berjarak 39,53 AU dari matahari.  Semua pesawat luar angkasa yang menggunakan propellant tidak mampu mencapai jarak tempuh sejauh itu.  Temuan ini sangat mutahir dan fakta pencanggihan teknologi energi elektromagnetika terbukti dahsyat dan ideal meskipun demikian pencapaian kecepatan tersebut masih sangat kecil dibandingkan kecepatan cahaya (300.000 km per detik).  Kecepatan maksimum yang bisa dicapai sistem ini masih di bawah 1% kecepatan cahaya. Padahal bintang yang terdekat dengan sistem tata surya kita berada pada jarak lebih dari 4 tahun cahaya (1 tahun cahaya = 300.000 km/detik x 60 detik/menit x 60 menit/jam x 24 jam/hari x 365 hari/tahun = 9,4608.1012 km).  Bentangan ruang dan waktu yang dihampar alam semesta masih sangat luas kemungkinannya untuk dieksplorasi lagi dengan berbagai temuan eksperimental yang mengandalkan kekuatan imajinasi dan daya pikir luar biasa dalam pandangan lompatan quantum yang masih tergopoh-gopoh menggapai tiap orbit yang akan ditargetkan.
Bayangkan, satelit yang meluncur paling jauh dari bumi yakni Voyager 1, saat ini telah menempuh perjalanan yang begitu panjang dan setelah 33 tahun melayang di luar angkasa, dilaporkan Voyager 1 telah mendekati tepian dari sistem tata surya kita.  Badan penerbangan dan antariksa USA, NASA mengumumkan setelah menempuh sekitar lebih dari 11 miliar mil (sekitar 17,4 miliar km) dari matahari, kini Voyager 1 hampir melampaui jarak antar bintang.  Kini satelit yang diluncurkan sejak 5 September 1977 telah mencapai suatu tempat dalam sistem tata surya kita, di mana tidak ada angin surya (partikel bermuatan yang mengalir dari matahari).  Sebuah eksplorasi imajinatif sejak itu dibuktikan secara sains.
 Seorang peneliti projek Voyager, Edward Stone menyatakan bahwa voyager dengan sistem teknologi saat diluncurkan ketika era antariksa baru berumur 20 tahun, jadi ketika itu masih belum diketahui secara pasti bahwa pesawat luar angkasa tersebut bisa bertahan begitu lama.   Saat itu manusia sama sekali tidak mengetahui atau memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk keluar dari sistem tata surya kita.  Namun, laju perkembangan teknologi antariksa sekarang para ilmuwan mampu memperkirakan dengan perhitungan pasti bahwa Voyager 1 akan melampaui tata surya sekitar lima tahun lagi.  Misi utama dari Voyager adalah untuk meneliti keadaan, karakteristik maupun sistem rotasi planet-planet luar seperti Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus untuk kepentingan ilmu pengetahuan sekaligus mengeksplorasi perkembangan sains dn teknologi untuk temuan-temuan ilmiah yang paling prestisius.  Misi tersebut telah dituntaskan oleh Voyager pada 1989 kemudian NASA mengutus Voyager 1 untuk terus mengarungi angkasa luar menuju pusat galaksi Bima Sakti semacam melakukan sistem monitoring yang diakses para peneliti NASA di Amerika.  Dengan perbekalan paket tenaga radioaktif yang memadai dan pasokan instrumen aktif milik Voyager akan terus berfungsi dengan baik untuk mengirimkan data-data temuan di luar angkasa ke bumi.  Akses teknologi komunikasi berjarak miliaran km diperoleh melalui pesan radio dari instrumen Voyager hanya membutuhkan waktu sekitar 16 jam dalam mengirim informasi hingga ke bumi.
Stone meyakinkan argumentasinya bahwa instrumen Voyager yang memonitor angin surya di lokasi tersebut menangkap fenomena yang berbeda dari fenomena-fenomena yang ditemuinya yakni terdapat wilayah heliosfer di mana angin surya memancar dengan kecepatan supersonik.  Namun, setelah angin surya melampaui daerah bernama termination shock, kecepatannya akan melambat secara dramatis.  Seketika itu Voyager telah mencapai kondisi di mana kecepatan angin surya melambat hingga hampir nol kemudian Voyager masih terus mengarah ke daerah yang bernama heliopause, dimana secara 'resmi' merupakan daerah perbatasan antara tata surya kita dengan sistem tata surya yang lain.   Saat Voyager melewatinya maka ia akan berada di dalam ruang antar bintang, di ruang ini adrenalin dan kekuatan imajinasi serta keandalan intuisi melakukan peran penting karena semua situasi yang ada adalah sebuah situasi misteri semesta yang sama sekali belum diketahui secara ilmu pengetahuan. 
Kemudian Voyager memutuskan terus bergerak ke arah heliopause dengan kecepatan 17 km per detik.  ‘Sebuah gambaran singkat pesawat luar angkasa yang telah bekerja selama 33 tahun, ia tetap masih menunjukkan kepada kita mengenai hal lain yang benar-benar baru’ paparan singkat salah dari seorang ahli Rob Decker, bekerja pada Voyager Low-Energy Charged Particle Instrument co-investigator yang dikutip pada situs (http://frozen-nation.blogspot.com/2010/12/satelit-voyager-mendekati-heliopause.html). Ketika titik sistem tata surya berakhir kemudian ruang antar bintang mulai tak terdefisikan dengan pasti. Batasan-batasan luar terbentuk daari dua gaya tekan yang terpisah yakni angin matahari dan gravitasi matahari.  Pengaruh dari batasan terjauh angin matahari berjarak sekitar empat kali jarak Pluto dan matahari.  Heliopause sebagai titik awal medium antar bintang, namun Bola Roche Matahari memiliki jarak efektif pengaruh gravitasi matahari yang diperkirakan seribu kali lebih jauh.
Heliopause diklasifikasi menjadi dua bagian yakni, awan angin yang bergerak pada kecepatan 400  km/detik sampai menabrak plasa dari mediu ruang antar bintang.  Tabrakan semacam ini terjadi pada benturan terminasi yang kira-kira terletak di 80-100 SA dari matahari pada daerah lawan angin dan sekitar 200 SA dari matahari pada daerah searah jurusan angin.  Kemudian melambat dramatis, memampat, dan berubah menjadi kencang memebentuk struktur oval yang kemudian dikenal sebagai heliosheath yang memiliki karakteristik mirip ekor komet.  Ekor komet tersebut keluar sejauh 40 SA di bagian arah lawan angin dan berkali-kali lipat lebih jauh pada bagian lainnya.  Voyager 1 dan Voyager 2 dilaporkan telah menembus benturan terminasi tersebut dan memasuki heliosheath pada jarak 94 dan 84 SA dari matahari.  Memasuki sebuah ruang batasan luar heliosfer dan heliopause yang merupakan titik tempat angin matahari berenti dan ruang antar bintang.  Sejauh ini belum ada pesawat luar angkasa yang melewati heliopause sehingga tidak dapat mengetahui situasi ruang antar bintang lokal dengan pasti. NASA berharap Voyager akan menebus heliopause pada akhir dekade yang akan datang kemudian mengirin data tingginya tingkat radiasi dan angin matahari.  Kemudian NASA membiayai tim untuk engembangkan konsep ‘vision mission’ dengan mengirim satelit khusus sebagai upaya eksplorasi ruang heliosfer.
Hipotesa para ahli, di luar angkasa terdapat Awan Oort.  Awan Oort ialah sebuah massa berukuran raksasa yang terdiri dari bertrilyun-trilyun objek es, awan ini dipercaya merupakan sumber komet yang memiliki periodesasi panjang.  Ditalia dalam situs: blog.unsri.ac..id menegaskan bahwa awan tersebut menyelubungi matahari pada jarak sekitar 50.000 SA (sekitar satu tahun cahaya) sampai sejauh 100.000 SA (1,87 tahun cahaya).  Wilayah ini diyakini mengandung komet yang terlempardari bagian dalam tata surya karena adanya interaksi dengan berbagai planet bagian luar.  Awan tersebut bergerak sangat lambat dan dapat diguncangkan oleh berbagai situasi tertentu yang langka misalnya tabrakan antar planet, effek gravitasi haluan bintang, dan gaya pasang galaksi maupun gaya dorong  Bima Sakti.
Kemudian Sedna, sebuah benda langit yang berwarnaa kemeraahan menyerupai planet Pluto yang memiliki orbit raksasa dan berbentuk sangat elips.  Sedna memiliki posisi sekitar 76 SA pada perihelion dan 928 SA pada aperihelion dan berjangka orbit 12.050 tahun.  Mike Brown seorang penemu objek tersebut pada tahun 2003 menegaskan bahwa Sedna bukan merupakan bagian dari piringan terbesar ataupun Sabuk Kuiper sebab perihelionnya terlalu jauh kemunculannya dari pengaruh migrasi Neptunus.  Brown dan para ahli astronomi berpendapat bahwa Sedna meruakan objek pertama dari sebuah kelompok yang terbilang baru.  Sebuah benda yang bertitik perihelion pada 45 SA, aperihelion pada 415 SA, dan berjangka orbit 3.420 tahun yang kemudian Brown menamakan ‘awan Oort bagian dalam’.(blog.unsri.ac..id).  Hal tersebut dikarenakan terbentuk melalui proses yang mirip Pluto meskipun juh lebih dekat jaraknya dengan matahari, kemungkinan ia juga disebut planet kerdil.
Begitu luar biasa temuan-temuan data antariksa dan begitu banyak hal yang belum secara keseluruhan diketahui manusia, namun setidaknya temuan ini memberi gambaran yang akurat mengenai fenomena dalam lingkup sistem tata surya yang dieksplorasi oleh Voyager 1 dan Voyager 2 yang dibekali teknologi elektromagnetik.  Medan gravitasi matahari dapat diperkirakan secara pasti mendominasi gaya gravitasi bintang-bintang sekelilingnyaa sejauh dua tahun cahaya (125.000 SA).  Perkiraan limit terendah radius Awan Oort tidak lebih besar dari 50.000 SA, meskipun ditemukan  daerah antara Sabuk  Kuiper dan Awan Oort merupakan sebuah daerah yang memiliki radius puluhan ribu SA yang belum bisa dipetakan.  Kendati studi mengenai ini sedang dilangsungkan untuk mempelajari daerah antara Merkurius dan Matahari karena besar kemungkinan akan diketemukan objek-objek serupa di daerah yang belum dipetakan tersebut.  Sebuah upaya luar biasa untuk mengeksplorasi gagasan imajinatif mengenai berbagai hal yang bergerak di luar angkasa dengan melakukan petualangan-petualangan spektakuler dan dramatis, kenadati tidak semua eksplorasinya dilakukan oleh manusia karena berbagai pertimbangan kapasitas manusia terhadap berbagai kemungkinan mendekati daerah yang tidak aman.  Eksplorasinya dipresentasikan oleh kerja teknologi satelit yang mengeksplorasi data dan fenomena yang ditemui selama puluhan tahun sebagai representasi perjalanan ektrem yang terjauh dilakukan manusia.
Faktanya, perjalanan terjauh manusia yang pernah ditempuh hingga saat ini adalah 400.000 km yaitu ketika manusia berhasil menempuh perjalanan ke bulan.  Jika kita ingin mengirim pesawat menggunakan teknologi elektromagnetik tanpa awak pun kita masih membutuhkan ratusan tahun sebelum pesawat tersebut bisa mencapai bintang terdekat.  Dengan pesawat yang menggunakan propellant bahan kimia kita baru bisa mencapai bintang terdekat dalam waktu puluhan ribu tahun namun jika ingin mencapai bintang terdekat dalam waktu lebih cepat layaknya adegan-adegan film Star Trek maka kita membutuhkan pencanggihan teknologi yang bisa melampaui kecepatan cahaya.  Dalam film tersebut seolah sedang memprovokasi para ilmuwan antariksa untuk mengeksplorasi gagasan-gagasan imajinatifnya yang bisa mengantarkan manusia melintas setara dengan kecepatan cahaya bahkan melampauinya untuk mampu mengelaborasi ikhwal misteri alam semesta dengan kedigdayaannya yang tak terduga. 
Paling tidak eksplorasi ruang angkasa hingga saat ini membuktikan bahwa perjalanan manusia dalam mengeksplorasi imajinasi mengenai semua aktivitas kehidupan yang nyaris tak terjangkau dan awalnya tak terpikirkan mulai memenui titik terang sebagai referensi ilmu pengetahuan.  Ilmu pengetahuan yang berperan memompa adrenalin manusia bereksplorasi dan melakukan petualangan terjauhnya, meskipun melalui kepanjangan tangan dari pencanggihan teknologi telekomunikasi satelit hasil ciptaannya.  Hal tersebut bisa merepresentasikan perjalanan terjauh manusia secara non eksistensial.  Fenomena-fenomena yang dituturkan semesta pada kita sesungguhnya sebuah brainshocking yang luar biasa untuk melahirkan gagasan luar biasa yang memukau sekaligus mengguncang otak.
4.    Vibrasi Elektromagnetik dan Kekuatan Pikiran Kreatif
 Segala sesuatu yang hari ini menjadi realitas berawal dari sesuatu yang bersifat imajinasi, dimana ruang virtual dieksplorasi dan dikelola dengan berbagai pendekatan untuk menemukan sebuah pola baru ilmu pengetahuan yang dapat dilacak pada realita kehidupan.  Ilmu pengetahuan dan agama-agama kuno telah membuktikan dengan fakta-fakta otentik bahwa segala sesuatu selalu lahir atau bermula dari pikiran bahkan alam semesta tempat kita saat ini berada saat ini ada karena proses identifikasi-identifikasi pikiran atas berbagai hal yang dibentangkan dalam hirarki pengetahuan.  Realitas hari ini sesungguhnya manifestasi pikiran kita dan orang-orang sebelum kita mengenai eksistensi dan proses berkehidupan kita. Kita bisa seperti sekarang ini sebagai visualisasi dari serangkaian impian dan imajinasi pikiran kita selain dari blue print kita dengan alam dan sang Khaliq. 
Tidak sulit untuk memaparkan analogi-analogi sederhana bagaiamana kita peroleh harta benda, kesehatan, kebahagiaan, kesuksesan, kepercayaan, networking, status sosial, dan martabat kita dengan sebuah nyali untuk memikirkannya.  Hal yang sederhana ini tak membuat kita menyadari bahwa sesuatu bisa kita peroleh dengan kekuatan pikiran.  Ini semacam fenomena sederhana sebuah vibrasi elektromagnetik yang mampu memberi pengaruh semua aspek yang terkait dan mengubahnya menjadi energi spiritual untuk mengonstruksi apa-apa yang tertlintas dan diyakininya.  Seperti apa yang dijabarkan pada ilmu fisika quantum yang menuju pada satu muara yakni energi, energi quanta pikiran kita atas apa-apa yang kita bayangkan dan apa-apa yang ingin digapai.  Sebuah ruang eksplorasi energi yang mentransformasi bahasa imajinasi ke dalam bahasa visual yang bergerak, organik, dan hibrid.  Energi bergerak pada tiap simpul saraf dimana kita bisa memikirkannya dan bergerak pada fokus melakukan inkubasi untuk melahirkan gagasan imajiner ke dalam wujud realistik sebagai manifestasi yang secara terus-menerus menginspirasi produktivitas pemikiran selajutnya.
Manifestasi adalah pikiran yang bisa terwujud.  Dan, Dr Wayne Dyer menyatakan bahwa kelimpahan adalah sesuatu yang membawa kita lebih fokus (pada apa yang kita pikirkan) ke dalamnya.  Alam semesta sebagai medan kemungkinan yang selalu merespon pikiran kita, baik itu baik atau buruk. (http://forum.kompas.com/sains/28067-kekuatan-pikiran-realitas-anda.html). Sebuah rahasia kecil untuk mendapatkan apa yang kita inginkan adalah membiarkannya (pikiran imajinatif) datang ke dalam hidup kita, maka biarkan ia mengalir dengan bebas menemukan koneksi-koneksinya.  Bayangkan sebuah sistem pemrograman besar-besaran dilakukan sedemikian rupa sehingga kita merasa takut sebagian besar waktu kita, dan ketakutanlah mengarahkan kita ke dalam keadaan pemblokiran dan penolakan sebelum gagasan besar tersebut terkoneksi dengan sejumlah probabilitasnya.   Esensi quatum yang tak terpastikan namun membuka ruang kebaruan-kebaruan.
Kekuatan pikiran adalah energi virtual yang sarat energi emosional dan spiritual yang terkonsentrasi menjadi sangat luar biasa kemampuannya.  Pikiran mampu mengubah keseimbangan energi di sekitar kita dengan membawa perubahan terhadap lingkungan dan masa depan.  Masa depan dapat kita wujudkan melalui kekuatan pikiran.  Sesungguhnya yang kita butuhkan adalah vibrasi elektromagnetiknya untuk memicu adrenalin kekuatan pikiran kita bukan membayangkan risiko-risikonya yang belum tentu mengkhawatirkan.  Yang kita tunggu adalah keberanian kita menjumpai realitas quantum yang melekat pada diri kita sehari-hari, semua realitas quantum membuka ruang probabilitas yang luas dan memadai untuk dijadikan media eksploratif.  Di sanalah kita sesungguhnya dapat menjumput nilai-nilai estetika futuristik yang lebih menarik, antusias, segar, penuh kejutan, sensasional dari kecemasan yang mengguncang otak, shock terapi otak, dan terbarukan terus-menerus.  Ruang estetika futuristik yang sangat personal dan temuan-temuan yang partikular.
Filsafat India ‘Advaita Vedanta’, yang disebut ‘non-dualitas’ dalam perspektif Barat.  Dunia tidak nyata, tapi hanya sebuah ilusi yang diciptakan oleh pikiran kita.  Karena kebanyakan orang berpikir mengenainya dan mengulangi pemikiran yang sama atau mirip sering, memusatkan pikiran mereka pada lingkungan mereka saat ini, mereka mengolah, dan menciptakan jenis peristiwa atau keadaan yang sama secara kontinu. (http://michaelriorohan.blogspot.com/2011/06/bagaimana-cara-kerjanya-dan-mengapa.html).  Proses ini sebagai upaya mempertahankan ‘dunia’ yang sama melalui status quo.  Hal ini seperti membaca novel yang sama berulang kali kemudian kita dapat mengubah novel dengan mengubah perspektif pikiran kita dan memvisualisasikan ke dalam alur cerita yang berbeda, artikualsi, aksentuasi, proyeksi atas kehidupan yang juga berbeda, dan dengan cara demikian kita sedang menciptakan sebuah realitas baru yang benar-benar berbeda.  Itu sebuah cara mengelola kenyataan meskipun sebenarnya hal tersebut hanya mimpi yang kita kembangkan dan kita sebut sebagai realitas.
Melalui pola mengubah pikiran dan mengubah gambaran mental berarti kita mendeskripsikan dengan terperinci bagaimana mengubah realita, mengubah dunia imajinasi menjadi dunia-dunia realitas baru.  Semua impian yang berkelebat dalam kesadaran kita begitu sangat realistis dengan mengubah kesadaran ke dalam kesadaran yang sebenarnya yakni kekuatan visualisasi yang hanya kita jumpai pada dunia realitas.  Kekuatan visualisasi merupakan sebuah kekuatan besar.  Kita sering membatasi diri kita dengan seolah-olah melampaui batas kemampuan pikiran kita dan melemahnya keyakinan untuk mempresentasikannya secara sempurna.  Untuk menjadi pribadi dengan kekuatan pikiran imajinatif yang sempurna harus menjadi pribadi yang terbuka dan peka terhadap kemungkinan-kemungkinan yang terbuka. Pribadi yang terbuka adalah pribadi  yang berani untuk berpikir revolusioner, berbeda, khas, dan penuh upaya pencerahan.
Begitu banyak fenomena sekitar kita yang mengajarkan mengenai berbagai hal dan perspektif elektromagnetis, karena sesungguhnya manusia dengan kwalitas pikiran dan citra yang melekat adalah daya tarik untuk orang di sekitarnya, sensasi estetis alam dengan fenomena-fenomenanya adalah hamparan yang memiliki kekuatan elektromagnetis bagi makhluk hidup yang berad di dalamnya bahkan untuk dirinya sendiri.  Dan, karya seni yang dibangun atas gagasan imajinatif dan memiliki daya ganggu sekaligus daya pukau yang luar biasa sudah barang tentu ia memiliki kekuatan magnetis.  Gagasan yang melekat bersama dengan nilai-nilai estetis merupakan gelombang yang akan menarik berbagai partikel yang terkoneksi pada muatan di dalamnya seperti yang dipaparkan lebih jauh pada konsep teori quantum. 
Visualisasinya menarik berbagai sudut pandang pengamatan penikmat seni untuk mengeksplorasi tanda visual yang melekat sebagai kesatuan kekuatan magnetis, sehingga karya seni ini dapat dibicarakan dan digali lebih dalam nilai-nilai estetikanya. Konsep visual yang bersifat magnetis yakni sebuah konsep yang memiliki nilai kontekstual, nilai filosofis, nilai humanistik, nilai yang menggugah, nilai penyadaran, nilai yang mengguncang otak, nilai eksplorasi, dan nilai estetis dengan kebaruan-kebaruannya. Hal ini penting diperhatikan agar karya seni yang presentasikan ke publik tidak out of tune dan menjadi materi yang baik untuk dipresentasikan secara menyeluruh dengan content yang dikandungnya.  Sebuah nilai-nilai estetika futuristik yang menjadi jiwa jaman.