Kamis, 14 Februari 2013

URGENT: PERSETERUAN HASRAT DAN MENTAL



URGENT:
PERSETERUAN HASRAT DAN MENTAL  

Sabtu pagi pertengahan Januari saya sengaja ‘mruput’, jam tujuh meluncur ke Dusun Krapyak Sleman untuk menyegerakan niatan menuntaskan penulisan yang sangat urgent. Urgen karena baru semalam ia berkunjung ke rumah dan meminta saya mendampingi pameran sebagai kontributor teks.  Dengan cepat saya kemudian memahami pola ini sebagai spirit dari tema pameran ‘URGENT’ karena semua menjadi serba urgent.  Sepulang saya mengunjungi studio Eko Rahmy, saya langsung tergerak untuk merenungkan materi diskusi pagi itu dengan Eko Rahmy seputar visi kesenian dan eksplorasi-eksplorasinya dengan antusias ia menunjukkan berbagai periodesasi proses penciptaan seninya yang menurut saya menarik untuk dicermati. 
Urgensi Menemukan Nilai dan Konteks
Alumni ASRI yang memulai proses eksplorasi kreatifnya di laboratorium akademi sejak 1986 tampaknya tak dapat disepelekan.  Mengingat kemampuan penguasaan media dan kepiawaian teknik artistiknya, saya menduga bahwa ia adalah pribadi minoritas yang bertahan dan tetap mempertahankan bahasa ungkap visual yang seringkali di pandang sebelah mata.  Minoritas karena memilih pencitraan abstrak. Kecenderungan bekerja pada wilayah yang tak gemar mempresentasikan objek riil menjadi tekanan mental kendati didukung oleh hasrat besar, kepekaan estetik dan berbagai pencapaian artistik karyanya.
Urgent bermakna keharusan yang mendesak menggambarkan keinginan Eko Rahmy untuk menyegerakan presentasi sejumlah kerja kreatifnya di ruang terhormat, Bentara Budaya Kompas Yogyakarta dalam pameran tunggal ke tujuh pada tanggal 7 Januari 2013.  Angka tujuh kemudian menjadi penting, sakral dan mendesak untuk dimanifestasikan dalam presentasi kerja kreatif yang selama ini ia tekuni.  Tujuh dimaknai sebagai ‘pitulungan’ dalam konteks budaya Jawa dan dipahami Eko Rahmy sebagai sesuatu yang khusus mengenai angka tersebut dalam perspektif gathak-gathuknya. Lebih dari itu, Urgent sesungguhnya menjadi picu psikologis yang mendorong kegelisahan kreatif ketika seorang seniman menyadari bahwa semua imajinasi muncul begitu saja terpantik oleh orientasi urgenitas yang ia yakini sebagai satu pilihan terbaik.  Urgent untuk tetap memiliki eksistensi dengan  menunjukkan identitas dalam peta seni rupa Yogyakarta melalui presentasi karya pada pameran ini sebagai tanda yang cukup penting.
Pada pameran tunggal kali ini saya berharap Eko Rahmy menemukan sejumlah nilai yang dapat dipetik dalam serangkaian kerja kreatif dangan menjumpai konteks-konteks subject matter untuk menguatkan pertemuan hasrat dan dimensi mental seorang seniman sejati.  Ada semacam keseimbangan yang memadai dan harus ditata terus menerus antara hasrat dan mentalitas dalam mendokumentasikan proses kreatif.  Hasrat yang besar bukan sekedar untuk mempresentasi karya-karyanya, namun hasrat mempertukarkan relasi hidupnya dan sejumlah pengalaman estetiknya agar mampu memberikan ruang perenungan yang lebih luas kepada publik.
Merekam Urgensi Dalam Perseteruan Hasrat dan Mental
Dalam proses kreatif dibutuhkan ketegasan orientasi, visi serta kesadaran tertentu untuk menangkap sejumlah perasaan, emosi, imajinasi, intuisi, dan petualangan spiritual sekaligus menemukan cara paling efektif sekaligus spesifik untuk mengartikulasikan gagasan kreatifnya melalui bahasa visual.  Karena tak sedikit sejumlah gagasan-gagasan imajinatif kita tak terekam dengan sempurna karena kelengahan kita menangkap momentum kemunculannya.  Dan, lagi-lagi dibutuhkan sikap tegas untuk menentukan apa saja yang dianggap urgen untuk dieksplorasi dan dieksplanasikan lebih jauh, baik secara visual maupun konseptual.  Kesadaran mengeksplorasi gagasan imajinatif sesungguhnya memiliki nilai urgen dalam mengedepankan sejumlah hasrat proses kreatif.  Eko Rahmy bagian sub-atomik dari jutaaan orang yang menunaikan hasrat kreatifnya dengan berbagai latar belakang yang memperoleh intensinya dalam perspektif yang lebih khusus.
Karya-karya Eko Rahmy pada periode 2009-2012 menujukkan kekuatan dan ketegasan memilih jalan ideologi estetika melalui penentuan bahasa visual yang sesunguhnya telah lama ia geluti, yakni bahasa visual yang dikonstruksi dengan kemampuan mengabstraksi berbagai figur dan shape.  Saya cukup interest pada eksplorasi visual yang dominan diekspresikan pada media kertas yang sangat keren dan memukau.  Ekspresif, impresif, sangat intuitif dan kontemplatif, paling tidak itu kesan saya.  Bentuk-bentuk di dekonstruksi; meregang, memuai, membelah, memiuh, dan dihancurkan tanpa indikasi ingin melacak bentuk semula.   Semua dibiarkan mengalir, menyeruak dan mengada tanpa batasan bentuk yang dikonfirmasi kembali.  Aksen garis maupun bentuk pada teknik under painting, ala prima maupun impasto seolah ingin menekankan bahwa semua jejak visual terartikulasi dengan baik dan menuturkan historisnya sendiri-sendiri.  Sesekali ia memamerkan kecermatan distortif yang tak terduga dan unik.  Komposisi warna-warna ‘mahal’ pun ia bangun layaknya symphony pada orkestra yang padan dan penghayatan yang mendalam.
Beberapa kasus karya tertentu pada medium kertas, kehadiran figur maupun subjek tak dipentingkan namun penciptaan maupun pencitraan suasana tertentu jauh lebih mengedepan melalui konstruksi warna analog, brushstroke, garis-garis intuitif dan barik yang liar yang tampak mengalir tanpa tekanan.  Di sisi yang berbeda beberapa karya pada medium kanvas misalnya yang sesugguhnya ia hendak tundukkan dengan aksen yang ia miliki.  Namun, jauh dari yang diharapkan baik pada tahapan penuangan ide, ketangkasan teknis, ketuntasan emosinya maupun pencapaian nilai estetis yang ia hasratkan.  Medium kanvas tak cukup mampu mengeksplorasi hasrat estetisnya yang dibayangkan dalam ruang kreatifnya.  Karakter media yang seolah ingin dipindahkan baik karakteristik visual maupun kedalaman inner feeling yang dihasratkan tak terjemahkan dengan baik seperti yang ia lakukan melalui medium kertas.  Kedua kecenderungan tersebut tampak seperti perseteruan hasrat dengan eksistensi mental yang saling berkelindan dengan kekuatan yang saling melampaui.
Pencapaian sintesa subjek-subjek pada karyanya mendeskripsikan kepekaan estetiknya mengenai berbagai bentuk, sign, dan muatan ekspresi non representative object meskipun tetap menangkap gejala bentuk-bentuk organis.  Pengolahan garis, bentuk, tektur, gestur-gestur biomorfik, dan petualangan intusi adalah cara spesifiknya untuk menangkap esensi gagasan imajinatif yang segera ia kemukakan dengan cepat, taktis dan cerdas.  Barik-barik dikelola tak sekedar mencitrakan ruang-ruang ilutif namum mempresentasikan perasaan dan menegaskan kembali bahwa ledakan hasrat dan situasi mental yang bersiteru begitu dinamis.
Seorang seniman yang menjelajah hasrat kreatifnya dengan gagasan-gagasan imajinatif maka secara tidak langsung seorang seniman dengan kesadaran tertentu membangun kekuatan mental untuk mencukupi semua tuntutan profesionalitasnya.  Sikap dewasa dan matang dalam berpikir sekaligus mencerminkan tindakan maupun cara kerja kreatifnya.  Kesiapan mengelola risiko dan tanggung jawab mental tentu saja menjadi pilihan yang harus diprioritaskan dan tentu saja urgent.  Sebuah pola aktualisasi diri sebagai puncak pencapaian semua hasrat dan impiannya menjadi perseteruan yang hendaknya disadari sekaligus ditemukan pola mengejawantahkannya.  Semoga Eko Rahmy saat ini menyadari bahwa proses kerja kreatifnya yang cukup matang menjadi poin penting ke depan membangun mental seorang seniman sejati dan profesional. 


Netok Sawiji_Rusnoto Susanto
Perupa, Penulis Seni Rupa dan Dosen Seni Rupa UST Yogyakarta.

1 komentar:

  1. Beruntung sekali Eko Rahmy karena mendapat apresiasi, galian, kajian dalam ini dan juga menjadi apresiasi bagi jamaah seni rupa di Indonesia

    BalasHapus