Senin, 14 Mei 2012

MELACAK KEMBALI KEKUATAN DAN POSISI MEDIUM KERTAS PADA PRAKTIK SENI RUPA KONTEMPORER

MELACAK KEMBALI KEKUATAN DAN POSISI MEDIUM KERTAS PADA PRAKTIK SENI RUPA KONTEMPORER

Netok Sawiji_Rusnoto Susanto

Prolog
Pameran dengan tajuk ‘The Use of Paper as a Medium in Contemporary Art Practice and The Future of This Medium’ memberikan inspirasi sekaligus menjadi penanda penting perjalanan sejarah medium kertas sebagai medium praktik seni rupa kontemporer dunia.  Pada poin penting inilah Chandan Gallery Kuala Lumpur memberikan sumbangan intelektual terhadap perspektif masyarakat dunia akhir-akhir ini, khususnya menyikapi lemahnya penghargaan masyarakat terhadap medium kertas.  Cermati saja konteks ini, jika kita tengok praktik pasar seni rupa dunia dan lelang Asia; ketika kertas dipergunakan sebagai media ekspresi visual artist yang selalui diapresiasi kurang proporsional ketimbang medium kanvas misalnya.  Chandan gallery mengambil posisi penting untuk menumbuhkan gairah-antusias para perupa kontemporer Indonesia untuk menggali kembali berbagai aspek kekuatan media kertas sebagai media ekspresi yang dapat merepresentasikan totalitas konseptual seni dengan melakukan eksplorasi-eksplorasi estetik pada praktik seni rupa kontemporer.
Setiawan Sabana seorang professor seni rupa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) selama kurang dari 30 tahun ini ia melakukan eksperimentasi dengan mengekplorasi medium kertas sebagai bagian penting dalam proses penciptaan seninya.  Ia bergerak dari upaya kerasnya mempelajari sejarah, eksplorasi berbagai bahan dasar, karakteristik bahan, tingkat keasaman, reaksi kimiawi, perubahan fisik, tingkat kelembaban, kesesuaian iklim dan menggali berbagai teknik sederhana pembuatan kertas daur ulang.  Beberapa periodisasi karya instalasinya dominan menjadikan medium kertas sebagai subject matter yang mempresentasikan kegelisahan intelektualnya.  Kegelisahan kreatif seputar lemahnya sistem pendokumentasian kita hingga problem dimana medium kertas jadikan medium yang mampu mengartikulasikan gagasan, pemikiran, sikap kritis dan kesadaran historis.  Kesadaran mendasar dari pemikiran mengenai pentingnya medium sesungguhnya bahwa ketika ia menyikapi medium kertas bukan sebagai objek yang pasif dan tak memiliki spirit apapun namun ia memosisikan medium kertas justru sebagai subjek.  Kemdian menjadikannya bagian integral dari sebuah sejarah panjang kemanusiaan, ilmu pengetahuan dan spirit kebudayaan yang mampu menggambarkan peradaban dunia. 
Kertas tak lagi dipandang setumpukan ruas-ruas berserak yang dihimpun untuk sebuah kepentingan ilmu pengetahuan.  Setelah fungsinya bergeser, kertas kemudian dipandang sebagai helaian-helaian yang menampung jutaan ilmu teronggok tanpa daya dialih fungsikan menjadi pembungkus makanan, lap kaca, atau bahkan dibakar begitu saja sebagai jalan pintas menanggulangi identitas barunya sebagai sampah.  Sampah yang hingga saat ini  menjadi problem pemerintah daerah maupun pusat atau bahkan persoalan dunia dan tak sedikit memunculkan berbagi persoalan persengketaan tempat pembuangan akhir.  Setiawan Sabana menyelamatkan kertas-kertas bekas dengan diproses kembali menjadi lembaran-lembaran kertas yang dikonsepsikan sebagai karya seni baik dalam bentuk karya seni lukis maupun bagian pokok konsep seni instalasi sampai pada bagian properti khusus pertunukan teater.  Begitu bernilai kertas dihadapannya yang mampu memberikan rangsangan dan sugesti khusus pada proses kreatifnya. Dan, subjek kertas senantiasa menggelisahkan ruang kreatif dan kepekaan intuisinya sebagai perupa kontemporer.
Medium yang dipercayainya memiliki daya dan karakteristik spesifik sebagai materi pokok proses penciptaan seni.  Cukup signifikan para perupa Indonesia yang memberdayakan kertas sebagai medium praktik seni modern sampai seni kontemporer Indonesia, sebut saja Satya Graha, FX. Harsono, Entang Wiharso, Nasirun, Putu Sutawijaya, Heri Dono, Eddi Hara, Nindityo Adi Purnomo, Mella Jarsma, Made Wianta, Nashar, Nunung WS, Ipe Ma’ruf, X Ling, Antonio Blanco, Barli Sasmitawinata, Oesman Effendi, Lian Sahar, Rusli, Affandi, Putu Wirantawan, dan sederet perupa kontemporer Indonesia sampai saat ini.  Pada kurun waktu tahun 1995-2000 di Indonesia penggunaan kertas sebagai medium menggejala pada berbagai event pameran yang diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia dan beberapa galeri lainnya, bahkan beberapa karya seni kontemporer menjadi penanda khusus pada nominator dan pemenang The Philip Morries Indonesian Art Award.  Artinya karya-karya seni rupa kontemporer yang menggunakan kertas sebagai medium proses penciptaan seninya memiliki kekuatan dan posisi tawar yang signifikan.  Posisi semacam ini penting dijadikan suatu indikasi bahwa kertas masih memiliki kekuatan sehingga menjadi pilihan media dalam praktik seni rupa kontemporer di Indonesia.
Kali ini Chandan Gallery mengundang perupa kontemporer Indonesia diantaranya; Yunizar, AT. Sitompul, Sahrizal Phalevi, Rocka Radipa, Joko Atmaja, Eko Didyk [Codit], Rudi Abdalah, dan Untung Yuli Prastiawan.  Secara spesifik mereka mempresentasikan eksplorasi teknik dan penguasaan medium kertas secara berbeda sehingga masing-masing karyanya dapat memberi gambaran representatif untuk memindai peta seni rupa kontemporer Indonesia. Ada semacam relasi khusus yang terputus dan hendak dijalin kembali antara spirit pengelolaan medium dan penciptaan seorang Setiawan Sabana dan para perupa kontemporer Indonesia yang berbagi spirit pada pameran kali ini.  Semua berinterelasi terhadap pasar seni rupa global terhadap seni kontemporer yang menjadikan kertas sebagai medium artikulasi estetiknya. 
Sekilas Mengenai Legenda Kertas Sebagai Medium
Peradaban China tahun 101 M mencatat seorang T’sai Lun menemukan teknik pembuatan kertas dari bahan bambu China.  Kemudian T’sai Lun sebagai seorang pegawai negeri pada pengadilan kerajaan tahun 105 M mempersembahkan contoh kertas kepada Kaisar Ho Ti.   Temuan ini akhirnya menyebar ke Jepang dan Korea seiring menyebarnya bangsa-bangsa China ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu meskipun pada awalnya cara pembuatan kertas merupakan hal yang sangat rahasia.  Saat itu kertas diperuntukan sebagai media menulis, menggambar-menulis rajah dan menggambar simbol-simbol untuk ritual tertentu.  Peradaban Mesir Kuno menyumbangkan papirus sebagai media tulis menulis.  Kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris, papier dalam bahasa Belanda, bahasa Jerman, bahasa Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas.  Penggunaan papirus pada peradaban Mesir Kuno  wangsa Firaun sebagai media menulis dan menggambar kemudian menyebar ke seluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah. 
Teknik pembuatan kertas akhirnya dikuasai bangsa Arab pada masa Abbasiyah setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam Pertempuran Sungai Talas pada tahun 751 Masehi.   Para tawanan perang mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang Arab dizaman Abbasiyah.  Kemudian muncullah pusat-pusat industri kertas baik di Baghdad maupun Samarkand dan kota-kota industri lainnya.   Kemudian menyebar ke Italia, India dan Eropa pasca Perang Salib yang meluas di seluruh Cina pada abad ke-2, dan dalam beberapa abad saja China sudah sanggup mengekspor kertas ke negara-negara Asia.  Di tahun 751, beberapa tenaga ahli pembuatan kertas tertawan oleh orang-orang Arab sehingga dalam tempo singkat kertas sudah diproduksi di Bagdad dan Sarmarkand.  Teknik pembuatan kertas menyebar ke seluruh Arab dan baru di abad ke-12 orang-orang Eropa belajar teknik ini yang pada akhirnya pemakaian
Kertas yang diformulasikan khusus merupakan media berbahan organik  mengandung selulosa dan hemiselulosa yang dibentuk dalam lembaran tipis dan rata, yang dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp.  Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis, mencetak serta melukis dan banyak kegunaan misalnya kertas pembersih (tissue) yang digunakan untuk hidangan, kebersihan ataupun toilet.  Kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia.  Sebelum ditemukan kertas, bangsa-bangsa yang dahulu menggunakan tablet dari tanah lempung yang dibakar.  Hal ini bisa dijumpai dari peradaban bangsa Sumeria, Prasasti dari batu, kayu, bambu, kulit atau tulang binatang, sutera, bahkan daun lontar yang dirangkai seperti dijumpai pada naskah-naskah Nusantara beberapa abad lampau.
Di tahun 1799, seorang Prancis bernama Nicholas Louis Robert menemukan proses untuk membuat lembaran-lembaran kertas dalam satu wire screen yang bergerak yang telah melalui perbaikan-perbaikan alat ini kini dikenal sebagai mesin Fourdrinier.  Penemuan mesin silinder oleh John Dickinson di tahun 1809 telah menyebabkan meningkatnya penggunaan mesin Fourdrinier dalam pembuatan kertas-kertas tipis.  Tahun 1814, Friedrich Gottlob Keller menemukan proses mekanik pembuatan pulp dari kayu, tapi kualitas kertas yang dihasilkan masih rendah.  Sekitar tahun 1853-1854, Charles Watt dan Hugh Burgess mengembangkan teknologi pembuatan kertas dengan menggunakan proses soda.  Tahun 1826, steam cylinder pertama kalinya digunakan dalam proses pengeringan dan baru pada tahun 1927 Amerika Serikat mulai menggunakan mesin Fourdrinier.  Peningkatan produksi oleh mesin Fourdrinier.  Tahun 1857, seorang kimiawan dari Amerika bernama Benjamin Chew Tilghman mendapatkan British Patent untuk proses sulfit.  Pulp yang dihasilkan dari proses sulfit ini bagus dan siap diputihkan.  Proses kraft dihasilkan dari eksperimen dasar Carl Dahl pada tahun 1884 di Danzig. Proses ini biasa disebut proses sulfat, karena Na2SO4 digunakan sebagai make-up kimia untuk sisa larutan pemasak.
Media kertas yang terbuat dari daun lontar (Borasus flabellifer) atau daun nipah (Nipa fruticans) juga dipakai untuk kegiatan tulis-menulis di Jawa.  Kertas lontar yang biasa diolah dari jenis lontar bermutu diantaranya; Lontarus domestica, Lontarus silvestris dan Lontarus silvestris altera. Setelah itu muncul Kertas Jawa atau Kertas Daluwang yang oleh masyarakat nusantara menyebutnya dluwang.  Penggunaan kertas ini ternyata  masih dijumpai di beberapa tempat hingga Abad ke-20 di Jawa, Madura dan Bali.  Kawasan ini banyak dijumpai naskah-naskah kuno yang menggunakan daun lontar sebagai alat tulis dan daun palma sebagai bahan tinta tulis (bentuk metathesis dari rontal, yang berarti daun pohon tal yang diduga dari bahasa Jawa), dalam puisi, kata-kata seperti siwala, sawala, suwala, suwalapattra, sewalapattra, siwalan, semuanya menggunakan daun pohon tal. 
Alat yang digunakan adalah sejenis pisau yang ditorehkan (pisau pangot dalam bahasa Sunda) atau kalam (pena) yang dicelupkan dengan tinta yang hitam pekat serta warnanya tidak luntur.  Sementara menurut Friederich, seorang pembantu Museum KBG seorang ahli aksara kuno dimasa Hindia Belanda (kini Museum Nasional, Jakarta), huruf Kawi dengan jenis Kawi Kwadraat (aksara Kawi tegak) dan Kawi curcief (aksara Kawi yang condong) seperti naskah yang ditemukan di lereng Gunung Merbabu di Kedu, Jawa Tengah.  Para sejarahwan juga mengklasifikasi bahwa huruf Bali merupakan varian dari huruf Kawi seperti, huruf Sunda Kuno dan beberapa variannya, yang juga dikatakan oleh seorang sejarahwan Belanda, Brandes.  Inilah sekilas legenda kertas dipergunakan sebagai medium yang mempertautkan antara aspek historis, antropologis, dan sosiologis.
Kertas:  Sebagai Medium Ekspresi dan Artikulasi Estetika
Peran medium kertas dalam mengawal peradaban dan kebudayaan dunia memiliki posisi sangat penting.  Kertas sebagai salah satu medium untuk mendokumentasikan berbagai perkembangan pemikiran, perkembangan kebudayaan dan perubahan jaman memiliki fungsi strategis dipandang dari berbagai perspektif.  Di dalam dunia ilmu pengetahuan, medium kertas sangat luar biasa peran dan fungsinya untuk memperkenalkan ilmu, ajaran, etika, moral, filsafat bahkan estetika dalam bentuk teks maupun visual.  Tak sedikit dogma agama senantiasa diikuti peran kertas sebagai medium untuk menggambarkan secara visual mitologi, epos maupun wahyu.  Ilustrasi-ilustrasi pada artefak dan kitab-kitab suci baik masih dalam papan lontar, papyrus hingga dalam medium kertas yang lebih modern cukup dominan untuk menjabarkan secara gamblang melalui bahasa visual untuk mengajarkan, memberi pemahaman bahkan mengubah jaman sebelumnya kepada jaman pencerahan.
Dalam perkembangannya dari jaman ke jaman, peran kertas sebagai medium sangatlah dapat diperhitungkan peran dan fungsinya.  Dari mulai kertas sebagai medium komunikasi, kertas sebagai medium simbolik dan status, kertas sebagai medium ideologi dan spiritual maupun kertas sebagai medium ekspresi seni. Kertas sebagai (medium komunikasi). Kertas merupakan medium yang sangat melekat dengan dunia komunikasi, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi baik sebagai material buku, kitab suci, koran, majalah, komik, novel dan cerita bergambar. Medium ini diperlukan semua penduduk dunia dalam praktik pendidikan tanpa pandang usia, strata sosial, ekonomi, batasan territorial, ras maupun faham ideologi yang dianut.  Kertas sebagai medium komunikasi jelas tak terbantahkan peranannya karena sejak peradaban dunia memperkenalkan bahasa tulis dan bahasa gambar maka munculah tuntutan medium yang paling representatif. Kertas sebagai (medium simbolik dan status). Penggunaan kertas biasanya dikaitkan dengan nilai-nilai simbolik dan menjukkan identitas pada status seseorang yang menggunakannya.  Jenis dan karakteristik kertas secara spesifik dapat menunjuk pada pencitraan status sosial dan status ekonomi tertentu seseorang.  Di Indonesia pada era 1970-1980an kertas merang sangat identik dengan kertas masyarakat jelata dan kertas jepun yang terbuat dari kapas banyak dipergunakan kelas sosial tertentu yang lebih mapan dan terhormat kemudian menjadi rujukan bagi bangsawan atau pejabat ketika melakukan surat-menyurat maupun pada penggunaan hiasan rumah.  Kertas sebagai (medium ideologi dan spiritual).  Kertas dalam konteks-konteks tertentu dipandang sebagai medium ideologi, kita dapat melihat berbagai proses pendokumentasian baik secara tertulis maupun visual. Sebuah ideologi Negara  dirumuskan dan konstitusinya tak luput dari penggunaan medium kertas.  Kertas oleh beberapa etnik digunakan sebagai meteri spiritual, baik untuk sebagai instrument mendekatkan diri secara spiritual, upacara keagamaan maupun upacara kematian. Kertas sebagai (medium ekspresi seni).  Kertas sebagai medium ekpresi seni berlangsung dari jaman ke jaman dimulai dari jaman dinasti Han, jaman Baroq - Racoco, Romawi, Yunani, Jaman Klasik, Neo-klasik, jaman Modernisme (Renaisance, Romantik, Realisme, Impresionisme, Post-Impresionisme, Fauvisme, Ekspresionisme, Kubisme, Abstrak, Dadaisme, Surealisme, Pop Art dan Op Art) hingga jaman postmodernisme.  Sebagai catatan saja, bahwa semua seniman di dunia senantiasa menggunakan kertas sebagai medium ekspresi pada periode tertentu proses kreatifnya.  Medium kertas dijadikannya medium ekspresi baik dalam bentuk sketsa, perancanga karya atau sebagai karya final.  Eksplorasi teknik atas medium kertas ini memungkinkan seorang seniman menemukan temuan-temuan aspek artistik maupun aspek estetika yang khas dan personal. 
Seorang perupa membutuhkan medium yang paling tepat untuk menuangkan gagasan kreatifnya. Kertas tak sekedar medium ekspresi namun memiliki peran lebih jauh bahwa medium kertas sebagai artikulasi estetika seorang seniman dalam mendokumentasikan gagasan dan membangun identitas projek-projek penciptaan seninya.  Pengelolaan medium kertas semata-mata sebuah pilihan bahasa untuk menancapkan nilai estetik dan kandungan filosofis sebuah ide penciptaan yang menjadi bagian integral dengan content atas pemikiran intelektual, sensibilitas estetik secara emosional dan penikmatnya.
Yunizar
Menatap karya Yunizar, seorang dari keluarga besar kelompok Jendela yang militan dan eksploratif dalam menaklukan media dan mewacanakan sebuah kecenderungan artistik-estetik karena temuan-temuan bahasa artistik keyakinan estetika yang melandasi kerja keatifnya.  Perupa kontemporer Indonesia berdarah Minangkabau yang saat ini masih mendominasi pasar seni rupa kontemporer Asia memiliki karakteristik khusus dalam mengartikulasi ide ke dalam bahasa visual.  Sebagian besar karyanya sangat merepresentasikan kekuatan inner feeling yang dipendamnya dalam praktik sosialnya yang cenderung pendiam, pasif, dan ikut kesepakatan ketika komunitasnya memutuskan kebijakan tertentu, namun rupanya ia menyimpan dalam-dalam energi positifnya untuk melaukan proses kreatif yang menghasilkan karya-karya dahsyat dan sangat personal baik dari aspek artistik maupun kekuatan estetikanya.
Karya Yunizar seolah tengah menyajikan otokritik terhadap kredo seni rupa kita dan menyentuh aspek filosofis ketika lagi-lagi mempersoalkan ikhwal akar budaya dan muasal jati diri kita. ‘Segumpal Benang Kusut’, 50x60cm, acrylic on paper, 2001 sesungguhnya Yunizar merepresentasikan kegelisahan banyak orang mengenai identitas dan spirit nation yang bercecer tak terangkai dengan sempurna.  Cermati gesture yang ada pada lukisan tersebut selah kita tengah menelusup lapisan persoalan psikologis dan humanistik masyarakat kita akhir-akhir ini.  Namun, gesture yang mempresentasikan masyarakat yang berangsur frustasi dengan identitasnya di bagian muka dari objek tersebut terpancar sinar merah tepat menerpa batas wajah yang mengisyaratkan harapan dan bangkitnya sebuah impian sambil tetap menggenggam segumpal benang kusut yang penuh keniscayaan untuk ditelusi tiap bilahnya dan pada akhirnya akan menemukan pangkal dari perjalanan pengembaraan mencari jati diri.
AT. Sitompul
 Seorang AT. Sitompul berani menepis stigma-stigma seni grafis yang sulit dijadikan pilihan, maka ia justru sangat intensi dengan totalitas pemikiran untuk meruntuhkan stigma tersebut.  Baginya, pada praktik senigrafis seringkali kerumitan  teknis  yang menjadi kendala terbesar pada olah ekspresi.  Praktik seni grafisnya itulah yang menundukan stigma tersebut, stigma mengenai keterbatasan medium ungkap yang dari jaman ke jaman seni grafis selalu dikait-kaitkan pada medium kertas yang dinilai menuai banyak kendala.  Maka ia pun  terobos  dengan  kanvas  yang  berhasil  ia  tundukan secara teknis dengan berbagai kendala proses cetak yang senantiasa dianggap masalah besar ‘gagal cetak’ di permukaan kanvas, stigma ‘tidak eksklusifnya’ grafis karena persoalan penggandaan ‘seri cetak’.  Kemudian ia sikapi justru masuk pada eksklusifitas itu sendiri.  Kita bisa cek, upaya kreatif ‘seri cetak’ limited hand colouring.  Paling tidak ia telah berupaya keras membuka akses pada wacana pasar yang sinis terhadap seni grafis sekaligus menerobos pasar wacana untuk menilik lebih tuntas berbagai perspektif potensi semua itu.
  AT. Sitompul tak sekadar mengolah idiom-idiom formal untuk pemenuhan kepentingan gagasan atas estetika tertentu namun ia bergiat membongkar bilah demi bilah nilai-nilai olah estetikanya. Sehingga kita segera mendapati  vibrasi  estetikanya  yang lebih personal dengan pola konsepsualnya melenting-lenting nyaris melampaui esensi visualnya. Dalam konteks ini, saya ingin mengatakan bahwa karya non-representasional yang dilakukannya mirip dengan sastra adalah bahwa ia cenderung untuk melibatkan kita sekaligus dalam pamrih dan bukan pamrih dengan cara menyatakan imaji-imaji benda-benda yang tak mungkin bisa kita pisahkan dari waktu dan tempat.  Hal ini bahkan berlaku pada landscape (pemandangan), gambar-gambar bunga serta style life (alam benda).  Masalahnya bukan sekedar mencampuradukkan  benda-benda yang dinyatakan dalam karya tersebut dengan nilai lukisan itu sendiri, bukan sekedar kenyataan bahwa pesona semacam itu tak ada hubungannya dengan keberhasilan sebuah karya seni namun nilai yang hendak dikemukakan untuk membangun nilai atas persepsi yang dipresentasikan.  Yang lebih fundamental adalah bahwa makna –sebagai yang dibedakan dari pesona– dari apa yang dinyatakan menjadi sungguh-sungguh tak terpisahkan dari cara menyatakannya.  Karya ’Ruang Gejolak Emosi’,40x60cm, harboard cut ink on paper ini sangat menarik baik dari aspek teknik maupun ilusi keruangan dan dekonstruksi bentuk yang serta merta dikonstruksi sebagai cara jitu seorang AT. Sitompul dalam mempersiapkan politik identitas proses kreatifnya.  Gejolak emosi menjadi tanda penting dalam karya-karya yang menggunakan medium kertas.
Sahrizal Pahlevi
Sahrizal Pahlevi menggilai teknik woodcut sebagai untuk menaklukan media dan mengekplorasi gagasan-gagasan kritis, representasi visual yang unik sebagai personifikasi kekhasan pengolahan emosional dan endapan intelektualnya.  Sahrizal Pahlevi memiliki pencermatan khusus terhadap persoalan sosial, tata kota, dan perubahan masyarakat urban yang cenderung kapitalistik yang semakin terjebak pada praktik budaya instan. Tema "Ringroad 1-6", six panels reduction woodcut on COG paper, Ringroad menjadi simbol pertarungan manusia-manusia dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya.  Sebut saja ketika ia memotret aktivitas masyarakat pengguna jalan raya (ringroad dengan masalah lebih kompleks) yang berperilaku ugal-ugalan, terburu-buru, saling menguasai ruang, pesta klakson, dan adu lampu dim di siang hari atau lebih-lebih malam hari. 
Ringroad menjadi sarana adu pacu kendaraan dan pemuasan adrenalin pengendara kendaraan yang sesungguhnya memiliki fasilitas sama tanpa pandang bulu.  Satu menguasai lainnya, satu menyaling untuk merebut posisi terdepan hampir tak peduli yang disalip nenek-nenek atau yang di klakson sebagai peringatan hendak mengambilalih jalan adalah orang bisu tuli.  Semua adalah potret ringroad hari ini.  Hilangnya ruang toleransi masyarakat metropolitan menunjukkan sisi kritis yang memprihatinkan.  Jangan lupa, karya ini merupakan metafora dari rekaman peristiwa masyarakat saat ini yang sejatinya di tunjukkan Sahrizal Pahlevi sebagai cara mengkritisi kebijakan pemerintah soal tata lingkungan dan berkendara.  Namun, yang lebih esensial justru karya ini menjadi medium untuk merepresentasikan potret perilaku penguasa dimanapun berada, penguasa yang kinerjanya saling salip, saling kuasai, saling lompat dan saling memaki yang sesungguhnya mereduksi kinerja ideal.
Rocka Radipa
Rocka Radipa seorang perupa muda yang konsistensinya luar biar biasa untuk menekuni teknik etching sebagai cara menaklukan media yang baginya paling representatif.  Representatif dari kebutuhan mengonstruksi gagasan dan keleluasaan eksplorasi citra estetiknya.  Kurang dari 3 tahun saya mencermati khusus karya-karya Rocka -pasca melucuti kanvasnya- beralih menggunakan medium plat kuningan, baik yang diusung pada berbagai pameran penting nasional maupun yang dikhususkan ke berbagai kompetisi seni rupa.  Nampak menunjukkan ketertarikan, keterpukauan, dan keyakinanan pilihannya dalam proses penciptaan seni dengan material khusus serta aplikasi teknik grafis yang tak banyak orang pilih.  Kebanyakan seniman grafis menggunakan master grafisnya sebagai medium yang menjembatani sebuah karya grafis (etsa) terlahir, tentu dengan kemampuan cetaknya yang dapat diproduksi pada batas edisional tertentu.  Namun Rocka memperlakukannya secara berbeda.  Rocka justru menggunakan master etsanya sebagai karya finalnya.  Master dihadirkan sebagai substansi totalitas proses penciptaan seninya.  Dengan sentuhan berbagai teknik hingga pada proses pengasaman hingga tahapan pewarnaan plat masternya secara khusus dan unik.  Rocka mampu membaca peluang ini secara cerdas.  Positioning Rocka ini member isyarat strategi pada perubahan dan perkembangan seni grafis di Indonesia.
Kali ini berbeda, ia mempresentasikan sebagian kecil karya dengan medium kertas yang sudah lama ia lakukan.  Karya Rocka Radipa ‘Made Friends With Pollutions’, 50x50 cm Mixed Media on Luster 2011, (Digital painting, screen printing and acrylic) menarik disikapi sebagai sebuah kritik pada kegilaan masyarakat urban dalam merekonstruksi secara kontinu budaya konsumerisme.  Menarik untuk kita cermati dasar pemikiran Rocka sebagai berikut; ‘Sebagian dari kita mungkin tidak sadar.  Bahwa dari bangun pagi sampai tidur lagi kita bergumul dengan racun. Bahan –bahan kimia yang terdapat pada sabun mandi, pasta gigi, deodorant, parfum, saus, kecap, penyedap rasa dan lain-lain.  Memang ada takaran aman bagi kita.  Tapi seberapa sadar kita bisa membatasinya.  Mungkin perlu “jam weker ajaib”.  Inilah kehidupan modern, semuanya telah dimudahkan dalam praktik budaya serba instan. Seperti sebuah karma mordernitas, semua yang cepat jadi, juga cepat jadi rusak.  Semua yang instan mempunyai efek samping, model pacu hormon yang berdampak buruk.  Belum lagi limbah pabrik, bakteri E-coli, sampai limbah nuklir.  Semua polusi di atas bahkan lekat disekitar kita, menemani hidup kita.  Menjadi sahabat kita.  Bagimana kita menyikapinya?  Seperti seorang sahabat, kita harus menempatkannya dengan cakap.’
Budaya popular mengkonstruksi masyarakat kapitalistik. Muara kapitalisme dalam budaya populer adalah konsumerime, karena kecenderungan masyarakat dikondisikan untuk berperilaku konsumtif apapun bentuk yang dikonsumsi.  Yang dikonsumsi bukan barang namun kepuasan pada saat mengkonsumsi itulah satu bentuk kepuasan menguasai barang tertentu dari orang lain.  Aktivitas konsumsi sesungguhnya bermuara pada seni, karena budaya konsumsi sealau dikemas dengan sentuhan seni sehingga masyarakat terpukau dan terbius masuk pada jaringan yang ditargetkan.  Dasar seperti inilah sebagai bukti meyakinkan bahwa apa yang digelisahkan Rocka Radipa perihal bagaimana masyarakat dikepung risiko-risiko penggunaan berbagai produk tertentu sangat melekat pada setiap kebutuhan yang dikonsusmsi dan perilaku konsumtifnya.

Joko Atmaja
Perubahan paling menyolok terjadi pada budaya masyarakat kota-kota besar adalah perubahan sosial dan perubahan gaya hidup masyarakatnya.  Indikasi sangat jelas  ketika perkembangan dunia telekomunikasi mencapai titik puncak kemutakhiran teknologi simulasi  dalam mendukung aktivitas sehari-hari melalui ruang-ruang virtual dalam genggamannya.  Dampak perkembangan sains dan teknologi mewarnai gaya hidup serba internet dalam melakukan berbagai aktivitas terjadinya perubahan bisnis cyber-style, gaya piknik, gaya belajar, gaya hiburan, gaya seksual, dan sebagainya. Gaya hidup serba internet, akan dicirikan oleh inovasi-inovasi aplikasi dan perangkat lunak computer yang perkembangannya begitu amat cepat.
Nah pada titik inilah, semua penduduk dunia berlomba-lomba membangun dunia-dunia kecil imajinernya melalui jejaring sosial facebook, twitter, friendster dan sebagainya.  Apa yang dipaparkan Joko Atmaja (‘Rumah’, ballpoint on paper. ‘Fantasi Dunia Baru’), secara visual merepresentasikan situasi masyarakat yang mulai terasing atau diasingkan dari sistem yang dibangun pada hubungan sosialnya.  Ia sibuk membangun dunia-dunia baru, dunia tanpa batas, dunia yang floating diatas imajinasi semua penduduk bumi.  Dunia imajiner yang saling terhubung dengan dunia-dunia imajiner lain dalam ruang simulasi serba digital.  Dunia baru yang memberi ruang terhadap proses pengikisan toleransi humanistik, semua menjadi sangat mekanis.  Rumah organik berdaur secara mekanis dan terkooptasi didalam mekanisme cyborg, maka serta merta ia lebih mekanis dari yang kita bayangkan.  Dimensi humanistik kemudian menjadi persoalan masyarakat kontemporer yang mulai bergeser kekuatan spirit humanistik sebagai bagian strategis sebagai ekses yang paling nyata dari perkembangan dunia virtual.  Mulai bergesernya berbagai  paradigma ruang eksistensi dan pola-pola hubungan sosial, aktivitas ekonomi, religi dan sebagainya. 
Eko Didyk [Codit]
Codit dengan bahasa visual yang unik dan personal pada beberapa karyanya (karya Psycho Therapy) hendak mengetengahkan berbagai persoalan kritis seputar gugatan eksistensi dan pemberontakan atas kemapanan.  Realitas masa remaja kebanyakan yang rawan berada pada krisis eksistensial.  Pada proses kreatifnya ia ingin menuturkan perihal kecamuk jiwa, guncangan psikologis, kemanusiaan, eksistensi diri dan berbagai tempuhan untuk menemukan identitas dirinya.  Problem kaum muda masa kini yang seringkali menemukan benturan-benturan terhadap apa-apa yang menjadi kehendak dirinya dengan berbagai norma sosial-etik yang memenjarakan dari fitrah kebebasannya membentuk karakteristik diri yang bersemangat, segar, energik, bebas dan dihargai lingkungannya.  Latar belakang visualnya dengan memilih motif kulit harimau mengindikasikan secara visual bahwa sebuah kebuasan karakter dilawankan dengan kelesuan dan keputusasaan yang muncul pada figur-figur dalam perspektif psikologis adalah psyche syndrome.  Tampaknya latar belakang kulit harimau ditempelkan beberapa idiom formal tampil stereotype beberapa bagian dijahit dan di tindik dengan jarum peniti.  Tampilan lain, lidah berwarna merah membentuk lidah api mengisyaratkan ungkapannya yang keras, tak bisa ditawar-tawar, provokasi yang membakar dan membangun ruang psikologisnya dengan asumsinya sendiri.  Ia membangun dirinya dengan imajinasi yang tengah diartikulasikan. Hal tersebut membayangkan pada situasi Schizophrenia.
Lepas dari konsepsinya yang berkarakter manifestasi pemberontak, namun cukup menarik ketika kita cermati panel demi panel karyanya.  Ide-ide segarnya meletup-letup nyaris tanpa kendali kriteria-kriteria yang dikhususkan untuk membangun karya seninya.  Teknik pengelolaan, pengolahan dan teknik kolase yang sangat berani merangakai berbagai insight dengan tak segan-segan mengeksplorasi berbagai kemungkinan teknik.  Kecerdasanya menemukan materi kertas yang siap (cetakan, bekas emboss, kertas pembungkus, maupun kertas daun ulang yang terbuat dari merang, alang-alang dan rumput lainnya) dimemanfaatkannya kertas bekas yang diembos motif-motif ragam hias dengan teknik emboss.  Fakta estetik ini dipertunjukkan untuk menempatkan kertas sebagai medium ekspresi seni tergali dengan eksplorasi yang maksimal.
Rudi Abdalah
Rudi Abdalah seorang seniman muda Indonesia yang berkesempatan diundang pada pameran internasional Blue Sky Project #5 2010.  Karya dengan tajuk ‘Future Value’ adalah salah satu karya yang diciptakan atas invitasi komite pameran internasional BLUE SKY Project #5 2010 yang berlangsung di Imei Museum, Nigata, Japan. Ia memotret fenomena dunia yang sangat mengkhawatirkan dan perilaku penduduk bumi yang semakin membabibuta dengan kesewenang-wenangan terhadap alam, tabiat, sistem yang bergerak dan siklusnya. 
Artikulasi visualnya menunjukkan pada kita bahwa ia tengah menghadiahkan (memberikan bingkisan) kepada manusia dan anak cucu kita kelak sebagai penduduk bumi bahwa kondisi alam yang telah berada pada titik mengkhawatirkan.  Namun kita tetap saja seolah tak beringsut dari aktivitas perusakan alam dan tak acuh terhadap pengendalian pemanasan global misalnya. Hari ini takkan kita temui kenyamanan hidup berteduh dibawah langit biru yang menyengat membakar kulit karena kelangkaan hutan kita.  Bingkisan dengan pita merah sesungguhnya sebuah peringatan keras untuk kita semua agar waspada terhadap kondisi alam yang tak menentu.
Untung Yuli Prastiawan
Untung Yuli Prastiawan merupakan sedikit dari populasi yang sangat terbatas seorang seniman yang menekuni teknik bakar pada kertas sebagai pilihan proses penciptaan seni.  Teknik ini merupakan teknik kuno yang sayup-sayup tampak nyaris punah.  Namun, ia sangat piawai mengeksekusi gagasannya dengan teknik bakar yang sangat rumit, detail dan perfeksi.  Penguasaan teknik dan penaklukan kendala terhadap media sungguh ingin ia tunjukkan ke publik seni atas eksistensi teknik semacam ini.
Balutan tema yang sederhana dan kebahagiaan meraih impian cukup representatif dalam penggalian potret lokal masyarakat Jawa.  Cermati dasar konsepsi yang ia presentasikan dalam ‘Rejeki’, 87 x 67 Cm, Bakar pada kertas, 2007 “Ia tak ingin tertidur saat harus berjuang… Seribu…, dua ribu…, tiga ribu…, empat ribu…, lima ribu…, enam ribu..., tujuh ribu…, dan sampai banyak Pak Jebeng terus menghitung uang hari ini.  Menggenjot pedal Becak bututnya dengan penuh semangat… Begitu juga aku… Tak ingin tertidur dan hanya memimpikan sebuah keindahan kehidupan mimpi–mimpi saja… Aku harus mengayunkan langkah kaki ini, berjuang keras untuk meraih segala mimpi-mimpi yang indah ini…” Rekaman suasana dua tukang becak dengan gestur tanpa dialog (seorang tukang becak tengah pulas mengurus mimpi yang hingga hari ini tak terbayar dan Pak Jebeng asyik menghitung uang pecahan seribu hasil menarik becak seharian) dibawah teduhnya pohon beringin yang masih bertahan hidup di kota Jogja.  Sudut ini sangat khas agraris yang mampu merepresentasikan spirit budaya masyarakat Jawa dengan ‘alon-alon waton kelakon’, masyarakat yang ramah, bersahaja, santun, penuh toleransi dan berbudi pekerti luhur dalam praktik multikulturalisme.  Pancaran wajah pak Jebeng mengisyaratkan semangat untuk meraih impian dan segenap obsesi hidupnya.
Dadi Setiyadi
Perupa muda asal Tasikmalaya yang mendalami pengetahuan seni murni pada ISI Yogyakarta memiliki peluang potensial diberbagai event penting nasional dan biennale internasional.  Membicarakan Dadi sesungguhnya kita dipaksa masuk dalam ruang kompleksitas problematiknya mengenai tubuh, tubuh dalam persoalanya sendiri dan tubuh sebagai pemicu persoalan di luar dirinya.  Seorang perupa humoris ini sungguh jauh dari apa-apa yang ia gelisahkan mengenai tubuh dalam asumsi-asumsi pesimistisnya. Dua bulan yang lalu saya melakukan perjalalan dengan Dadi dari Jogja ke Surabaya dan kami berdiskusi secara intens perihal pengalaman hidup yang membangun proses penciptaan karya seninya.  Pribadi yang lugas melecutkan kebuntuan komunikasi kita ketika suntuk menyerang, bahkan ditengah pembicaraan ringan ia seringkali menawarkan pembicaraan yang substansial mengenai bagaimana seorang seniman memiliki visi, kesadaran eksploratif dan strategi menjaga intensitas proses kreatif.  Tiga hari bersamanya menjadikan saya mampu mendalami pikiran dan kegelisahan jiwanya yang memiliki etos kerja dan berbagai prinsip serta cara pandang keseniannya.
Tubuh dalam relasinya dengan persoalan lingkungan, sosiologis, psikologis, budaya dan trans gendre bahkan.  Baginya tubuh menjadi aspek paling menarik untuk menggali berbagai persoalan karena tubuh mampu merepresentasikan gejolak dan apirasi tertentu untuk sebuah visi tertentu pula.  Ada semacam kecenderungan Dadi dalam mengolah idiom-idiom tubuh ‘The Body Series’ sebagai bagian yang terintegrasi dengan presentasi-presentasi pesan melalui citra yang dikonstruksikan secara artistik dan personal. Di sisi yang berbeda pada seorang Dadi memotret sudut pandang yang berbeda tentang tubuh frustasi, panik dan confuse.  Citra pasif dan statis seolah bertutur perihal traumatisasi kehidupan sosial yang berkaitan dengan tubuh itu sendiri kemudian mengolah chaotic sebagai bagian penting proses retraumatisasi problem empiriknya.
Yang menarik dari artikulasi visualnya adalah bagaimana ia menghadirkan kode-kode tertentu pada bagian-bagian tubuh yang mengingatkan saya pada konsep bedaya tubuh bedaya.  Namun, kode-kode angka dan kaligrafi bercitra oriental sungguh memicu penafsiran intersubjektif.  Ia dengan bersemangat yang dicitrakan dengan tubuh-tubuh gempal atletis menyajikan asosiasi-asosiasi khusus terhadap gejala teks visual yang muncul kemudian melahirkan interpretasi subjektif mengenai relasi tubuh dengan kebutuhannya terkait kesehatan dan upaya pemberdayaannya.  Tubuh seakan dapat memproduksi tafsir yang berlimpah sama kedudukannya seperti teks tertentu mempengaruhi mekanisme otak juga tubuh itu sendiri pada ledakan produktivitas interpretasi.
Januri
Januri seorang perupa muda pendiam meski sukses dalam perjalanan karier kesenimanannya.  Saya pribadi sulit berkomunikasi dengannya meski pernah memperoleh kesempatan untuk menulis kuratorial pameran Hyperlinks di Yogyakarta, hal ini terefleksi secara tuntas dalam proses penciptaan seninya yang mengolah figur-figur melayang dan absurd.  Pengembaraan intuitif memungkinkan munculnya gagasan visual imajinatif dalam menyajikan suasana yang sangat berbeda.  Aspek ini mencuat pada karya-karya Januri yang menhadirkan citra rigid, massif dan floating, dimana gestur tubuh dibayangkan melayang ter-levitasi menjelajah eksistensi-eksistensinya dan menemukan substansinya.  Aspek grafitasi sesungguhnya sedang dikonfrontasikan secara sporadik oleh Januri dengan prinsip levitasi dalam presentasi dramatik karya-karyanya.
Eksplorasi dan pengolahan tubuh-tubuh pada karya Januri ‘floating’ dan ‘berebut kekuasaan’ dan ‘Di Antara  Orang-Orang Besar’ memberikan spirit presentasi sekaligus nilai yang berbeda, bahwa tubuh sebagai representasi manusia yang secara terus menerus mencari identitas-identitas melalui proses aktualisai diri dan sebagainya. Semua pribadi menggerakkan tubuh sebagai medium mengeksplorasi potensi dalam ruang optimis sampai pada dimensi pesimistis.  Tubuh-tubuh ringan melayang menemukan jiwa dan identitas-identitas tanpa acuan.  Tubuh kosong bahkan sesekali tubuh keras, padat dan pejal yang mereinterpretasikan dunia ego dalam konteks libido dan seterusnya.  Siapa menguasai apa dan apa menguasai siapa serta siapa atas siapa, semua terbuka dan memiliki peluang yang sama meski jauh dari kata adil.
Ia menyerap problem di luar dirinya yang sesungguhnya menjadi problem diri bagi semua orang ketika bersosialisasi secara luas dengan kehidupan yang dihamparkan alam dan perluasannya.  Ada pula upaya untuk melakukan otokritik terhadap dirinya ketika ia mempersoalkan ‘Di Antara Orang-Orang Besar’ dan terepresentasi secara tegas pada karya ‘Bermain Api’ misalnya.  Tema penting ini seolah ia tak sekedar menyadap informasi luar namun itu menjadi bagian yang didasari pengalaman empiris sehingga terasa pendalaman totalitas ekspresinya menunjukkan relasi tersebut.
Epilog
 Peran medium kertas dalam mengawal peradaban dan kebudayaan dunia memiliki posisi sangat penting.  Kertas sebagai salah satu medium untuk mendokumentasikan berbagai perkembangan pemikiran, perkembangan kebudayaan dan perubahan jaman memiliki fungsi strategis dipandang dari berbagai perspektif.  Di dalam dunia ilmu pengetahuan, medium kertas sangat luar biasa peran dan fungsinya untuk memperkenalkan ilmu, ajaran, etika, moral, filsafat bahkan estetika dalam bentuk teks maupun visual.  Tak sedikit dogma agama senantiasa diikuti peran kertas sebagai medium untuk menggambarkan secara visual mitologi, epos maupun wahyu.  Ilustrasi-ilustrasi pada artefak dan kitab-kitab suci baik masih dalam papan lontar, papyrus hingga dalam medium kertas yang lebih modern cukup dominan untuk menjabarkan secara gamblang melalui bahasa visual untuk mengajarkan, memberi pemahaman bahkan mengubah jaman sebelumnya kepada jaman pencerahan.
Sebagai catatan, bahwa semua seniman di dunia senantiasa menggunakan kertas sebagai medium ekspresi pada periode tertentu proses kreatifnya.  Medium kertas dijadikannya medium ekspresi baik dalam bentuk sketsa, perancanga karya atau sebagai karya final.  Eksplorasi teknik atas medium kertas ini memungkinkan seorang seniman menemukan temuan-temuan aspek artistik maupun karakteristik aspek estetika yang khas. 
Seorang perupa membutuhkan medium yang paling tepat untuk menuangkan gagasan kreatifnya. Kertas tak sekedar medium ekspresi namun memiliki peran lebih jauh bahwa medium kertas sebagai artikulasi estetika seorang seniman dalam mendokumentasikan gagasan dan membangun identitas projek-projek penciptaan seninya.  Pengelolaan medium kertas semata-mata sebuah pilihan bahasa untuk menancapkan nilai estetik dan kandungan filosofis sebuah ide penciptaan yang menjadi bagian integral dengan content atas pemikiran intelektual, sensibilitas estetik secara emosional dan penikmatnya.  Saya pada perhelatan pameran ini memberi inspirasi bagi kita semua untuk merenungkan kembali bagaimana mengelola kepekaan seni untuk menjadikan kertas sebagai medium ekspresi dan menjadikan kertas bagian yang terintegrasi dengan konsep pemikiran kreatif pada praktik seni rupa kontemporer.  Apa yang digiatkan Chandan Gallery sesungguhnya merupakan upaya keras mereposisi medium kertas pada martabat yang semestinya.


Referensi:
Edi S. Ekadjati. (2005), Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta, Jakarta: Pustaka Jaya,
Soedarso Sp. (2000), Sejarah Perkembangan Seni Rupa Modern, Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta
Rusnoto Susanto, Netok Sawiji. (2010), Soulscape: Melacak Ruang Spiritual dan Pendalaman Nilai Estetika Sebagai Manifestasi Proses Kreatif, pada Soulscape: The Treasure of Spiritual Art, Yogyakarta: Yayasan Seni Visual Indonesia
Deyndri pada www.kaskus.us/showthread.php?t=4316787
http://www.indoforum.org/showthread.php?t=25968
http://satriasputra.blogspot.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar