Minggu, 05 Februari 2012

[HYPERTEXT] Surfing Teks dalam Narasi Besar

[HYPERTEXT]

Surfing Teks dalam Narasi Besar

Netok Sawiji_Rusnoto Susanto*

Pembingkaian menciptakan situasi seseorang yang memandang, tapi tak melihat apa-apa dari yang dipandangnya. Horizonlah yang memungkinkan kita untuk memikirkan, memahami atau merasakan ada atau ada-di-dalam-dunia, bukan di dalam sebuah bingkai ada, yang di dalamnya terjadi proses penutupan dan pembatasan pandangan dan wawasan, tetapi di dalam sense of wholeness ada.

Yasraf Amir Piliang

Hypertext bukan sekadar frame konvensi yang sering berkelebat dalam asumsi dan persepsi kepahaman kita pada perkembangan teknologi simulasi cyber-space atau wacana cybernetic, namun lebih kepada upaya pengenalan, pemahaman, bahkan penjelajahan relasi teks-interteks. Dalam konteks pameran ini, Hypertext menjadi semacam pemantik kegelisahan seorang Dedy Sufriadi yang menangkap sebuah gejala non-artifisial gugusan besar layaknya gugus awan gemawan yang begitu sarat dengan teks. Gugusan gemawan nyaris tak terpahami ketika kita tak mampu mendekatinya dengan sebuah empaty dihadapannya, begitu pula teks-teks yang sejatinya merepresentasikan sebuah narasi, fenomena, gejala tangible dan intangible dari keduniawian yang fana sampai pada wacana spiritual bahkan dogma-dogma tak terbantahkan. Ketika teks menjadi artikulasi realitas dunia dan absurditas dunia itu sendiri maka teks menjadi persoalan penting untuk ditelusuri aspek-aspek tertentu yang melatarbelakangi atau aspek-aspek tertentu yang medesaknya hadir.

Dedi Sufriadi kian meyakinkan pandangan saya sebagai figur seorang pelukis muda eksploratif yang begitu sangat menggilai kerja kreatifnya. Tidak sebatas itu saya mengenalnya, ia juga seorang pelukis yang kaya referensi yang menyuntuki berbagai kajian untuk memperkaya wacana, memperdalam-mempertajam konsepsual dengan pemahaman filosofis, dan keluasan pandangan keseniannya. Dalam kurang dari dua tahun saya mengenalnya dengan baik dengan intensitas dan kualitas pertemuan yang selalu terlibat pada diskusi-diskusi serius baik dalam komunitas Abstrak Indonesia dan Soul-Scape maupun perjumpaan di ruang-ruang pameran bahkan sering berlanjut hingga pada saat saling kunjung ke masing-masing studio. Bahkan awalnya ketika itu saya mengenalnya dengan hanya mengingat kelekatan Dedy Sufriadi dengan Eksistesialisme, kemudian pada periode-periode berikutnya saya terasa diaduk-aduk lagi dengan kecenderungan pengolahan subject matter dan representasi visual yang begitu berbeda dan mengejutkan karena sejatinya ia sangat piawai menawarkan kemungkinan-kemungkinan teknik artistik yang begitu personal.

Teks: Antara Narasi, Inspirasi dan Misteri

[Menggeledah Muasal yang Tak Kunjung Terjawab]

Kali pertama saya berkesempatan mengunjungi studionya pada hari kedua perkenalan saya dengannya setelah semalam berjabat diperkenalkan seorang pelukis dan pemikir Sulebar M. Soekarman dan Nunung WS di kediamannya saat itu saya singgah disana untuk beberapa lama. Saat itu tiba-tiba saya terbawa ke sebuah studio yang dikelilingi hutan jati, memencil dan lengang tampaknya ia melakukan tapa disana. Pada saat itu saya banyak dikagetkan eksperimentasi-eksperimentasi proses kreatifnya yang menggilai mixed media, beberapa puluh lukisan terbaru tahun itu dikerjakan dan sudah melakukan eksplorasi subject matter teks sebagai kata kuncinya. Jika awalnya teks diumbar sebagai media artikulasi untuk menyampaikan sebuah narasi, tetapi pada karya-karya ini teks telah dikemas sebagai sebuah pola baru yaitu teks dikelola menjadi elemen visual.

Pada perspektif ini, teks bagi seorang Dedy tampaknya sebuah persoalan yang menarik ketika menjadikanya sebagai subject matter, semenjak 1996 ia telah memulai ketertarikan untuk mengekspose teks dari rangkaian eksplorasi teks sebagai ikon penting dalam tiap karyanya. Ia mengenali sekaligus mengendalikan makna di dalamnya sama ketika ia mengartikulasikan kehendaknya secara verbal, meskipun kebanyakan pandangan seringkali terjadi pendiskwalifikasian antara muatan teks itu sendiri yang berjarak dengan ruang artikulasi verbal. Meski awalnya ia menggunakan teks sebagai media penuturkan pesan dan menyampaikan kesan tertentu dari lapis terdalam jiwanya kemudian dalam perkembangannya ia justru merasa terganggu dengan beban makna ketika teks kemudian harus mengemuka. Namun justru ia dengan bebas mengartikulasikan impulse apapun mulai kepatutan kaidah, distorsi nilai hingga kegalauan jiwanya ketika menyadari bagaimana ia menelusuri muasal teks, pemaknaan, serta sampai pada eksploitasi –pada pengertian teks dipergunakan sebagai stimulasi psikisnya dan mereinterpretasikan teks- dalam bahasa visual yang personal lepas dari beban makna. Disinilah ia mulai menemui kebuntuan perihal epistemologi teks yang kemudian hadir pada ruang-ruang pikir manusia untuk menandai sesuatu, menterjemahkan atau memaknainya dalam ruang nilai tertentu.

Pertanyaan-pertanyaan mendasar acapkali disampaikannya seputar; kenapa muncul teks, kenapa terjadi konvensi teks, siapa yang pertama kali memiliki kesadaran tentang kehadiran teks, kemunculanya dilatarbelakangi persoalan apa, dan apakah dengan teks mampu membangun serta mengembangkan ilmu pengetahuan? Dan, berbagai pertanyaan fundamental lainnya yang mengawali perbincangan serius kami ketika itu. Dari pokok inilah mulai menggelinding pokok-pokok persoalan yang esensial, ketika ia dengan sadar mengumbar teks-teks semacam catatan hariannya pada bidang-bidang kanvas. Pada periode awal memang teks tersebut ‘bunyi’ seolah menuturkan banyak hal berkaitan dengan obsesi, penghargaan, renungan, pengakuan, kebahagiaan, kesedihan bahkan kekecewaan dan kepanikan. Semua bermunculan melahirkan novel-novel ‘about the soul’ pada kanvas, kemudian berlangsung lagi dan berlangsung terus.

Heidegger dalam Yasraf Amir Piliang (2008: 91), memaparkan mengenai bagaimana ada menampakan dirinya sebagai citra yang kemudian lazim disebut world picture (drawing, potret dan lukisan). Ketika potret dunia yang ditampilkan dalam wujud representasi ‘citra’ yang kemudian digunakan untuk menjawab pertanyaan ‘apa itu ada?’ Artinya bahwa citra dihadirkan sebagai bingkai kemenyeluruhan ada, ketika konteks eksistensi menjadi penting. Dunia yang dibungkus dengan teks atau dunia terbungkus teks, inilah sebuah istilah yang paling tidak menjadi sebuah analogi sederhana yang dapat mendekatkan persepsi kita pada pemahaman karya-karya Dedy Sufriadi, dengan jelas dalam olahan visual dan imaji-imaji yang digelandangnya merepresentasikan kekuatan teks untuk menuasai ruang dan menebar makna intersubjektif di dalamnya.

Dedy seolah tak acuh dengan apa-apa yang menyebabkan kemunculan gejala selanjutnya setelah proses kreatif yang awalnya hanya sebagai upaya penelusuran emotif atas sesuatu yang begitu saja mendorongnya muncul. Namun justru yang terpenting baginya adalah sebuah sintesa yang kemudian dipahaminya sebagai ruang-ruang spiritual. Hal lainya adalah bagaimana ia menyadari kegelisahan jiwanya untuk menelusuri lebih dalam kekuatan-kekuatan intuitifnya sebagai amunisi untuk meledakan gagasan-gagasan kreatifnya. Sensiblitas estetiknya memberi peluang bagi kelahiran inspirasi baginya juga bagi orang lain. Barik-barik ditorehkan sebagai jejak perenungannya meski kadang terjadi sebuah efek tak terduga muncul -sebagai hadiah kreatif- tidak sekadar sebagai aksen namun dicermati sebagai pengendali kekuatan karakteristik teknik untuk membangun gagasan yang berkembang ketika proses kreatif berlangsung. Kecermatan semacam inilah yang menjadikan seseorang kian menajam kepekaan estetiknya.

Keliaran libasan brushstroke dengan intensitas terjaga mengisyaratkan getaran jiwanya yang kian mendidih. Ini semacam representasi riil dari aktivitas hidup yang sejatinya saling silang, saling salip, saling tindih, saling melengkapi dan saling mengikat dalam sebuah relasi-relasi yang tak terputus sekalipun terjadi benturan keterdesakan manusia pada kapasitas kemanusiaan. Teks ketika menjelma menjadi sebuah narasi seolah-olah memicu munculnya inspirasi baru pada proses penciptaan karya-karya berikutnya, dan ketika inspirasi tergali begitu jauh sekonyong-konyong menyelinap sebuah misteri pada tiap bilah-bilah teks yang saling berkelebat. Dalam konteks semacam ini terjadi sebuah pembentukan narasi besar yang menjadikannya objek pembacaan ulang atas gejala sosiokultural, psikis, atau ia muncul justru menjadi subjek. Artinya, antara narasi, inspirasi, dan misteri menjadi bagian yang terintegrasi secara otomatis dalam perspektif eksistensialisme.

Ada hal menarik yang dapat saya kutip dari pandangan seorang Dedy; seorang ilmuan dianugerahi kecerdasan ‘logical’ sedangkan seorang seniman dianugerahi kecerdasan ‘intuisi dan spiritual’. Kedua kecerdasan inilah menjadi bagian terpenting bagi produktivitas kreatifnya. Bukankah seorang bayi merasa begitu nyaman dalam pelukan ibunya ketika baru lahir? Disitulah intuisi mengambil peran, juga pada aspek kehidupan kita sehari-hari. Kecerdasan logika bisa dimanipulasi sedangkan kecerdasan intuisi lebih cenderung murni dan menurutnya ketakterbatasan intuisi inilah yang member peluang, keleluasan dan keluasan baginya untuk tetap melakukan eksplorasi secara intensif. Baginya, dalam konteks hypertext hal ini merupakan interelasi yang lumat dengan persoalan interteks secara implisit. Pada dasarnya teks adalah upaya penulisan kembali atas teks-teks lain sebelumnya, artinya tak ada teks yang terbentuk tanpa memiliki muatan interteksnya, semisal sebuah relasi intertekstual seni rupa dan satra akan membentuk ‘teks baru’ yakni sastra rupa/rupa sastra, mungkin saja perspektif baru mengemuka ketika kehadiran visual form yang puitik bisa saja memiliki referensi sastra.

Nah, pada karya-karya mutakhir Dedy kehadiran teks secara sporadik digelontorkan dalam tiap ruang pada bidang kanvasnya, namun ia tak sekadar bertutur persoalan artistik semata. Teks hadir berdampingan sejajar dengan unsur artistik lainnya, bahkan teks dapat secara tegas mengambil peran strategis dan vital mampu menerjemahkan segenap pikiran, obsesi, opini, dan kegelisahannya mengenai berbagai hal yang tak terjemahkan oleh bahasa visual. Bermula dari kepahamannya mengenai peran teks dan relasinya ‘interteks’ saya menduga kuat di sinilah titik pijak konsepsual seorang Deddy Sufriadi mengusung subject matter Hypertex yang beberapa kali saya tawarkan menjadi tema penting dalam project pameran tunggalnya kali ini. Penggeledahan pemikiran kreatifnya berlanjut pada serangkaian proses kreatif yang bagi saya sangat mendebarkan menginggat kegilaan pola kerjanya yang luar biasa produktif dan lebih mencengangkan lagi ketika ia mampu menjaga ritme kerja dan intensitas proses kreatifnya secara stabil. Ia sanggup mengendalikan semua proses itu untuk tetap menjaga kwalitas karya-karya mutakhirnya.

Hypertext-Hypertextual dalam Tinjauan Estetika

Tak sedikit para perupa begitu menggilai citra graffiti pada street art dan kekentalan ekspresif dan pejalnya apriori terhadap nihilisme ketika seorang perupa mengelontorkan nilai-nilai artistik yang familiar kepada publik. Saya menangkap beberapa kecenderungan pola-pola kehadiran teks yang kian marak, yakni; apakah kehadiran teks hadir sebagai teks, teks hadir sebagai manifestasi membangun kepentingan konsepsual, atau teks hadir sebagai sebuah transformasi [ruh] ikon baru yang paling personal? Segera kita disadarkan pernyataan Lao Tze bahwa semua mahluk hidup dan benda-benda di alam ini memiliki jiwa (ruh). Pada akhirnya filsafat timur mengajarkan kita bahwa alam dan manusia menjadi bagian terintegrasi bukan sebaliknya manusia sebagai pusat pengendali di dalamnya. Artinya, terbukanya peluang untuk memahami kemunculan teks dengan gejala dibalik kehadirannya.

Pada dasarnya pemenuhan unsur-unsur visual jelas sangatlah penting, mengingat bahasa visual sejatinya merupakan bahasa estetik. Meminjam ungkapan Henry M. Sayre (1997: 151-157) dalam A World of Art, bahwa representasi nilai keindahan dalam sebuah karya seni lebih ditentukan pada kepekaan seseorang dalam mengelola aspek-aspek visual dengan menguasai berbagai prinsip desain, selebihnya adalah keunikan-keunikan yang dieksplorasi seseorang baik pada aspek eknis maupun konseptual dalam sebuah pencapaian tujuan estetika yang lebih personal. Di sini jelas bahwa aspek keindahan dalam konteks visual form ‘tangible’ memposisikan dirinya pada skala prioritas utama kemuadian disusul aspek keindahan ‘intangible’ yang tersembunyi dibalik karya seni tersebut. Dan, kaidah-kaidah keindahan lainnya yang membangun nilai estetik lainnya merupakan hal mutlak dalam sebuah tinjauan nilai estetika, termasuk berbagai aspek kemampuan dan kepiawaian teknik (kapasitas ekplorasinya) artistik seorang seniman dalam mewujudkan gagasan dasar yang daigali atas subjek matter yang direpresentasikan dalam ekspresi seninya. Muatan ekspresi yang lekat pada kepiawaian seorang seniman dapat terejawantah secara solid, ketika ia dengan segenap jiwanya menumpahkan aspirasi kreatifnya.

Dalam wacana lain, dapat sebagai pembanding bagi pengayaan perpektif kita mengenai makna keindahan dalam karya seni, Wassilly Kandinsky (2007:4) mecetuskan keyakinannya lebih dalam dari aspek visual form. Bagaimanapun juga, ada di dalam seni jenis kesamaan eksternal yang dikemukakan sebagai sebuah kebenaran yang fundamental. Bila ada suatu kesamaan kecenderungan dalam keseluruhan nilai moral dan nilai spiritual, suatu kesamaan dari cita-cita, pada awalnya kehilangan aspek tangible ke sebuah perasaan yang dalam (inner felling) sebagai efek logis dari kebangkitan nilai bentuk eksternalnya dalam merepresentasikan perasaan-perasaan. Keselarasan semacam ini atau bahkan pertentangannya secara emotif bukanlah suatu kedangkalan atau ketakbernilaian, sesungguhnya justru ‘stimmung’ dari suatu lukisan tersebut dapat untuk memperdalam dan memurnikan perasaan dalam proses pengamatan dan pemaknaannya.

Sebut saja, ketika pemuculan kembali citra visual sebagai indikator telusur ketika teks dalam beberapa periodisasi menuturkan pada kita mengenai esensi dan makna atas produk proses kreatif misalnya pola dominasi proses penciptaan seniman-seniman besar seperti Jean-Michel Basquiat yang dengan lugas melesatkan teks sebagai gugatan eksistensinya, sampai pada protes-protes Sudjojono hingga seni konsep pada Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia. Kemudian pembacaan kita menjadi berbeda ketika Joan Miro terinspirasi brushstroke kaligrafi China-Jepang sebagai representasi kepekaan estetiknya dan upayanya menggali spirit oriental dalam karya surealisme ekspresifnya yang kemudian mewabah dalam ujud pembacaan ulang karya-karya monumentalnya. Artinya, bahwa Miro memiliki kesadaran yang berbeda ketika ia menangkap estetika kaligrafi tersebut dan ia tangkap spiritnya menjadi sebuah kekuatan spirit baru yang kemudian mengemuka dalam teks visual imajinatifnya. Made Wianta, pun memiliki kesenadaan dengan pola tersebut. Wianta, sebagai orang Timur yang katakanlah bersenyawa –mendarah daging- dengan teks-teks maupun konteks spiritual. Ketika ia mengelola kaligrafi China, Jepang, Bali, Jawa, maupun Arab, seorang Wianta tak lagi disibukan lagi makna teksnya namun ia lebih sublime.

Ketika dikonfirmasi lebih lanjut bagaimana ia merepresentasikan citra-citra estetika baru dengan menggelandang interpretasi artistiknya yang melecutkan gugahan spitualitas personal. Kehadiran teks-teks verbalnya justru menjadi makna-makna baru ketika teks sarat muatan kecoh dan melesapkan maknanya secara perlahan. Ekspolrasi-eksplorasi teks kemudian menjadi penting bagi perupa masa kini –dengan langgam non representative object sejatinya- yang tengah bergerilya menemukan induk-induk citra baru pada ranah seni kontemporer dengan tetap melakukan proyek pendalaman yang paling substantif. Tak sedikit perupa acapkali lebih disibukan dalam mengolah teknik artistik atau sekadar kenes untuk menghadirkan teks dalam tiap kesempatan proses kreatifnya sebatas ledakan emosi kecilnya, malah sebagai bumbu-bumbu penyedap meski ia faham itu yang seolah-olah seperti menggarami laut saja namun adapula yang tartil dalam mengeja maupun merespon berbagai gejala sosial, politik, psikologis, ekonomi dan perubahannya.

Sebagai pembanding, beberapa perupa yang menggilai teks; Farhan Siki (Fall Victim to a Thinking, 200x180 cm, akrilik, marker pada kanvas), Jumaldi Alfi (Series Ingatan; number 09061, 150x145 cm, akrilik pada kanvas, 2006), Heri Kris (Dialog Religi Aku dan Burung, akrilik pada kanvas), S. Teddy D. (Art Merdeka Space, 100x100 cm, oil on canvas, 2007), Alit Sembodo (Confrontasi, 130x190 cm, akrilik pada kanvas, 2001), Putu Sutawijaya (Bintang Tujuh, 142x140 cm, mixed media, 2008, Ugo Untoro (Javasutra, 200x150 cm, akrilik pada kanvas, 2008), I Wayan Sudana Putra (Duniawi Indah Kini, 145x200 cm, akrilik pada kanvas, 2008), Hayatuddin (Allah Pasti Menyembuhkan Kalau Kmu Minta, 124x157 cm, mixed media, 2008), Tonni Volunteero (How Far You Can Jump, Love?, 140x140 cm, akrilik pada kanvas, 2008), Pius Sigit Kuncoro (Katuranggan, 100x150 cm, akrilik pada kanvas, 2008), Arie Dyanto (Mencabar Mimpi dalam Udara, 200x150 cm, mixed media, 2008), Feriko Edwardi (ESC-Escape, 145x146 cm, akrilik pada kanvas, 2008), Da’an Yahya (Founding Father, 137x180 cm, akrilik pada kanvas, 2008), I Wayan Kun Adnyana (Smile?, 120x90 cm, mixed media, 2008), Maslihar’Panjul’ (Dengan Segala Kerendahan Hati, 100x148 cm, akrilik pada kanvas, 2008), Ugy Sugiharto (No Freedom, 183x151 cm, oil on canvas), Indieguerillas (Hoax Will Tear us Apart, 250x150 cm, mixed media, 2008), dan sederet nama seperti Yunizar, Ibrahim, M. Irfan (I Can Go Any Where, 150x250 cm, mixed media, 2008), Teguh Ostentrik, dan Deddy Sufriadi; teks diinterpreasikan sebagai representasi sama kokohnya dengan elemen visual lainnya. Secara visual form teks menjadi ikon utama yang dapat mengejawantahkan pokok-pokok persoalan sekaligus sarat dengan permainan semantik sebagai olahan daya ganggu sekaligus daya pukau tersendiri.

Beberapa karya Deddy Sufriadi acap menuturkan catatan-catatan hariannya –perjalanan pengalaman sejati- dan pada beberapa karya terakhirnya Deddy Sufriadi tampaknya ingin memindai persoalan spiritualitasnya untuk menapaki kematangan pribadinya, ia tengah mengasah sensibilitas estetika yang kian berkecamuk dalam pemikiran-pemikirannya akhir-akhir ini. Deddy seolah ingin merepresentasikan pernik-pernik jiwanya dalam kolase yang hendak dimaknai sebagai gejala personifikasi kesejatian hidup yang tumpang tindih dengan sengkarutnya problematik. Sama halnya ketika Made Wianta dan Farhan Siki mengeksplorasi teks-teks verbal sampai batas terakhir yang kemudian secara radikal membentuk sebuah pola pencitraan yang sejatinya mengungkapkan nilai-nilai estetika baru, paling tidak pada kapasitas estetikanya mencuat dengan personalitas yang kian tak terbantahkan layaknya representasi teks seorang Basquiate. Dedy Sufriadi, senada dengan Wianta dan Farhan Siki seolah menjadikan kecemasan teks verbal dengan pengelolaan teknik, permainan semantic interpretation, pengeksploitasian bentuk-bentuk abjad bersumber dari kaligrafi Arab, China, Jepang maupun Latin untuk menggugah keterlibatan emosional dan pengkrucutan visi pemahaman nilai estetika.

Relasi Signifier-Signified

Menarik ketika mengamati periodisasi proses kreatif Dedy Sufriadi dengan subject matter teks –hypertext’ yang kemudian menjadi signifier karya-karya mutakhirnya sebut saja jejak tersebut pada karya Childis, 180x300cm, oil bar, acrylic, charcoal on canvas, 2009, ia mengeksplorasi sekaligus mengeksploitasi pengalaman kanak-kanaknya untuk memunculkan kembali goresan-goresan citra kanak-kanak seperti yang muncul pada karya Paul Klee dimana Klee larut dalam memahami psikologis kanak-kanak karena kedekatan dan kecintaannya pada anak-anaknya setelah ia panik dengan pengalaman pahit dengan kekejaman Perang Dunia II kemudian menyentuh batas kesadarannya sehingga Klee memutuskan lari dari barak kesatuannya. Pemahamannya paling mencuat ketika ia memindai fase perkembangan motorik anak; periodisasi coreng-moreng pra bagan, bagan dan pra natural. Ekspresi yang dicuatkannya seputar coreng moreng dan bagan karena mungkin periodisasi ini paling unik karakteristik visualnya. Melalui media semacam inilah Dedy dapat segera menemui masa kecilnya dengan serangkaian kenangan terindahnya, menjumput kesan terdalam ketika ia pertama kali belajar berhitung memainkan angka-angka, mengenali dan menuliskan abjad, melafalkankan huruf-huruf dengan artikulasi yang terbata, serta kegirangannya ketika ia mulai bisa menuliskan namanya apalagi pekik hysteria ketika susunan nama-nama orang terdekatnya yang ditulis dengan kapur di balik papan kayu pada meja atau gerusan dedaunan maupun arang pohon asem di tembok rumahnya dihapus. Gambaran semacam ini acapkali kita jumpai pada masa kanak-kanak kita tentunya. Nah, dalam karya ini ia seolah bertutur kembali perihal itu.

Kehadiran teksnya terasa berbeda dengan teks yang diumbar pada Never Ending of Mind, 180x150cm, oil, charcoal on canvas, 2009, baik secara visual, emotif maupun rasional. Sebuah gambaran menarik ketika ia mencermati dirinya juga orang lain mengenai sebuah tuntutan kebutuhan manusia yang tak pernah selesai ataupun terpuaskan. Ia merepresentasikan melalui pesan teks yang saling tindih, confuse, dan seringkali panik dalam mewujudkan obsesinya yang ingin serba cepat terpenuhi. Kadang kebutuhan bisa muncul lebih cepat dari impian atau sejumlah pertimbangan argumentatif mengenainya, ia hadir sesaat dengan kontak mata dengan dorongan tertentu untuk memperolehnya. Semacam tinjauan kritis pada budaya konsumerisme ditengah masyarakat kontemporer hari ini yang selalu ‘lapar mata’. Sebuah jelajah ruang spiritual baru tampak dengan sungguh-sungguh ia tekuni sebagai sebuah proses ritual dengan tingkat kecermatan, pertimbangan estetika tiap ‘keruangan’ teks dan gugahan emosi yang kian matang dan stabil.

Paling tidak citra semacam inilah yang tertangkap pada permukaan karya Hyper Calligraphy #4,140x240cm, acrylik,permanent pen on canvas, 2009 dan Hyper Calligraphy #5, 150x150cm, oil, acrylik, permanent pen on canvas, 2009. Dedy mengeksplorasi bentuk-bentuk abjad dari kaligrafi China dengan representasi artistik dan usungan estetika yang berbeda ketika menjumput beberapa ikon oriental dari aspek visual maupun pemindaian spirit oriental. Kaligrafi yang dimunculkan pada permukaan kanvasnya tak mengacu pada pakem/kaidah dan tak merujuk kepentingan makna dari teks itu sendiri, ia menjadikannya sebagai impulse kreatif semata yang kemudian menguatkan citra-citra oriental disana-sini khususnya citra huruf kanji dengan citra warna merah dan maroon khas oriental. Pada karya-karya semacam ini Dedy ingin bermain-main dalam ruang analitik, karena tidak saja mengumbar kebebasan menerjemahkan citra-citra kaligrafi baku ke dalam citra barunya yang membongkar kebekuan makna dan menjadikannya sebagai elemen estetik tanpa dibebani berbagai tuntutan kaidah di dalamnya tetapi ia juga melakukan berbagai pertimbangan artistik yang terukur. Ada semacam olah pengendalian artistik ketika ia menentukan ruang-ruang imaji dan tebaran aksentuasi warna untuk membangun citra spiritual.

Secara keseluruhan karya Dedy Sufriadi menuturkan arus kebebasan dan keluasan perspektif. Sebuah integrasi yang kokoh ketika pemikiran-pemikiran Dedy disandingkan dengan olah kreatifnya tanpa hirau dengan kebuntuan-kebuntuan umum yang justru dijadikannya sebagai sumber inspirasi yang menguatkan karakteristik masing-masing kecenderungan proses kreatifnya. Dalam mempersiapkan project pameran tunggalnya inilah memicu kegilaan eksplorasinya yang mencuatkan paling tidak lima sampai enam kecenderungan proses kreatif semacam terminal-terminal kecil dimana ia dihadapkan pada berbagai pilihan yang menuntut kecakapan menentukan keputusan-keputusan terbaiknya dan sungguh luar biasa karena dari masing-masing kecenderungan olah kreatifnya ia dengan kesadarannya justru membangun karakter pada masing-masing karyanya. Ini semacam report terbaik baginya. Dedy hendak memainkan emosi kolektor dan pecinta seni lainya untuk menentukan item koleksinya dengan menyajikan kekuatan masing-masing eksplorasinya. Pameran tunggalnya kali ini merupakan wacana menarik karena peta seni rupa kita kian terasa denyutnya dan Dedy Sufriadi tengah berada di dalamnya.

*)

perupa, penulis kritik seni rupa

dosen luar biasa pada FBS Seni Rupa UNJ, Jakarta

mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Endnote:

Piliang, Yasraf Amir, Multiplisitas dan Diferensi: Redefinisi Desain, Teknologi dan Humanitas, Jalasutra, Yogyakarta, 2008

Sayre, Henry M. (1994-1997), A World of Art, Prentice-Hall, Inc., New Jersey.

Wassilly Kandinsky, Concerning The Spiritual in Art, [terj: Sulebar M. Soekarman], Yayasan Seni Visual, Jakarta, 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar